Edi Fadhil Membangun ‘Istana’ Orang Miskin

JAM istirahat siang bagi pegawai negeri sipil (PNS), swasta, dan instansi lain sangatlah menyenangkan

Edi Fadhil Membangun ‘Istana’ Orang Miskin
Edi Fadhil (kedua dari kiri) berbicara dengan Agusmi (kiri) untuk dibangun rumah ke-13 di Desa Gue Gajah, Darul Imarah, Aceh Besar, Rabu (2/3/2016). SERAMBI/MUHAMMAD HADI 

JAM istirahat siang bagi pegawai negeri sipil (PNS), swasta, dan instansi lain sangatlah menyenangkan. Ada yang mencari tempat makan siang dengan menu spesial. Atau memilih makan bersama keluarga di rumah. Sebagian lainnya, menjemput anaknya di sekolah. Bahkan memilih nongkrong di warung kopi dengan teman-teman atau relasi bisnis.

Tapi, tidak bagi Edi Fadhil (32). Dia justru memanfaatkan waktu luang itu untuk hal lain yang tak kalah bermanfaat. Meski berstatus pegawai di Biro Hukum Setda Aceh, pria kelahiran Aceh Besar, 16 Juni 1984 ini memilih turun ke lapangan mengurus kepentingan orang miskin.

Tanpa terjadwal lebih dulu, pada Rabu (2/3) siang, Serambi mengikuti perjalanan Edi Fadhil yang punya aktivitas sampingan. Program yang dipeloporinya di media sosial Facebook selama ini ia namakan ‘Cet Langet Rumoh’ untuk membangun rumah orang miskin serta Gerakan Mari Sekolah (GMS) untuk beasiswa pelajar.

Mengendarai mobil double cabin yang diakuinya pemberian gratis seseorang, ia meluncur ke salah satu gampong di Banda Aceh. Ia ditemani rekan relawannya, Risky Putry, pegawai di Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BP-SPAM) Regional Aceh. Kali ini dia menemui lagi wanita korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sebelumnya ia telah mengurus pendidikan anak dari janda itu dan menyewa serta memindahkan isi rumah. Termasuk memastikan masa depan ibu itu punya usaha agar ada pendapatan sendiri.

Selesai shalat Zuhur, ia bergegas mendatangi calon untuk dibangunkan rumah di Geu Gajah, Darul Imarah, Aceh Besar. Fadhil menemui Agusmi (40) yang berprofesi tukang becak dan istrinya Mardiah (37) yang mencuci pakaian orang. Ayah dari Khairunnisa (11) dan si kembar Maulizar dan Maulidar (5) ini sudah mencoba membangun rumah sendiri sepuluh tahun lalu. Semula hanya ada Agusmi dan Mardiah yang membangun gubuk di kawasan itu. Dia hidup berdua tanpa ada penerangan listrik.

Pendapatannya dari menarik becak ditabung dan dibeli kebutuhan seadaanya. Misal, ada uang beli batu gunung, selanjutnya besi, batu bata, pasir, semen, dan kayu. Tapi perjuangan Agusmi mewujudkan “istana” untuk kerajaan kecilnya tak berhasil hingga ia dikaruniai Allah anak kembar. “Sudah berusaha membangun rumah, tapi tak jadi-jadi,” ujar Agusni kepada Serambi kemarin.

Di sekeliling rumahnya yang dulu tanah kosong justru sudah berdiri perumahan indah. Bahkan sang adik meminta pindah melihat kondisi keluarga Agusmi lantaran gubuknya sudah reot dan tak layak huni. Dinding dan lantai kayu sudah lapuk. Bila hujan tergenang air akibat tak ada timbunan. “Istana” yang dirintisnya tak mampu dilanjutkan akibat terkendala dana. Sejumlah batu bata yang terpasang terlihat ada sudah rusak. Salah satu kamar sudah ditanami ubi kayu. “Sekarang harus berbagi untuk biaya hidup,” ujarnya.

Fadhil bernegosiasi dengan abang Agusmi yang kebetulan punya keahlian pertukangan. Disepakati pembangun rumah tersebut mulai, Jumat (4/3). Sudah ada dana Rp 3 juta untuk membangun rumah yang ke-13. Tapi Fadhil berani menstranfer melalui e-banking via HP-nya Rp 5 juta. Wajah pasangan suami istri itu terlihat cerita. “Saya tertarik bangun rumah ini, karena pemiliknya sudah berusaha. Kita hargai usahanya bertahun-tahun,” ujarnya berjanji mengirim dana hingga rumah tersebut selesai dibangun.

Kemudian Fadhil mendapatkan informasi baru dari salah satu istri Anggota DPRA. Mereka sama-sama menuju rumah, Nurwathaniah (29) yang suaminya di Malaysia. Suaminya sudah lama tak mengirim uang akibat tak ada kerja lagi. Anaknya sedang sakit-sakitan dan dia tinggal di rumah seadanya dan menumpang di tanah orang. Melihat kondisi wanita itu, Fadhil meminta nomor rekening dan mentranfer dana Rp 1 juta. Mata wanita itu berkaca-kaca dan sesekali menyeka dengan jilbabnya. Bahkan dia harus melepaskan kacamata akibat terharu. “Ini saya sudah saya tranfer Rp 1 juta. Semoga berguna untuk anak-anak,” ujar Fadhil yang setelah tsunami mendirikan LSM Sepakat.

Fadhil kemudian menghubungi kenalannya dari Baitul Mall Aceh Besar. Bila tersedia bantuan rumah saja, maka ia siap meminta bantuan sahabatnya di Facebook untuk mencari tanah. Beruntung, pihak Baitul Mall Aceh Besar sedang menyurvei calon penerima rumah di kawasan Darul Imarah. Mereka berjanji akan menemui Nurwathaniah. “Saya berjanji akan kawal supaya ibu dapat rumah,” ujar Fadhil kepada wanita yang selama ini mendapat uluran tangan tetangga untuk bertahan hidup.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help