KUPI BEUNGOH

Gerhana bukan Tontonan

Sehingga, untuk bisa menyaksikan gerhana matahari membutuhkan waktu yang sangat lama

Gerhana bukan Tontonan
SERAMBINEWS.COM/DEDIISKANDAR
Teuku Dedi Iskandar, Wartawan Harian Serambi Indonesia 

GERHANA matahari yang terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016 pagi sekitar pukul 07.15 WIB atau berbeda waktu di lain tempat di Indonesia termasuk di Aceh menurut para ahli adalah fenomena alam yang terjadi karena bulan menutupi cahaya matahari, sehingga menyebabkan bagian cahaya yang dipancarkan ke suatu kawasan tertutup bulan.

Menurut ilmuwan yang mempelajari sistem tata surya, fenomena alam tersebut terjadi secara alami dan sangat jarang terjadi di sebuah kawasan di bumi karena termasuk fenomena langka. Sehingga, untuk bisa menyaksikan gerhana matahari membutuhkan waktu yang sangat lama atau bertahun-tahun lamanya guna menyaksikan keajaiban alam tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menjadikan fenomena alam ini sebagai salah satu daya tarik untuk 'menjual' fenomena alam tersebut sebagai destinasi wisata langka yang terjadi di tanah air. Akibatnya, ribuan turis dari mancanegara turut datang ke sejumlah wilayah di nusantara guna menyaksikan fenomena alam tersebut.

Hasilnya, pendapatan negara justru bertambah seiring banyaknya wisatawan asing yang datang, bahkan pendapatan masyarakat termasuk pengelola hotel atau rumah warga di lokasi yang terjadi gerhana turut dipenuhi pelancong guna menyaksikan fenomena ini.

Malah, gerhana matahari juga menjadi daya tarik beberapa kota guna menggelar kegiatan nontong bareng gerhana matahari dengan mengundang ribuan warganya ke sebuah tempat/lapangan terbuka plus membagikan kacamata anti gerhana.

Untuk menyemarakkan tontonan ini, turut juga digelar kegiatan konser band layaknya sebuah festival guna merayakan kemenangan.

Uniknya, ketika terjadinya gerhana matahari seperti yang saya saksikan di acara televisi, ribuan penonton tampak bersorak gembira dengan raungan histeris seolah-olah ada sebuah kebahagiaan yang turut dirasakan.

Ironisnya, di beberapa tempat yang justru tak terlihat gerhana matahari akibat tertutup awan,pengunjung yang sejak shubuh datang ke lokasi guna menyaksikan gerhana malah kecewa.

Namun di sisi lain, sebagian umat muslim di beberapa daerah di Indonesia turut menggelar ibadah shalat gerhana di setiap masjid. Dalam ajaran agama Islam, terjadinya gerhana merupakan pertanda bahwa kita manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt sudah diingatkan untuk terus bertaubat dan senantiasa mengingat kebesaran-Nya.

Begitu juga di Aceh, negeri syariat tercinta. Ribuan masyarakat juga menyaksikan fenomena alam ini dengan memadati sejumlah lokasi eks terjangan gempa bumi dan tsunami. Mereka datang berbondong-bondong sambil membawa kacamata hitam pekat atau rela antre memakai kacamata yang katanya lebih aman menyaksikan fenomena alam tersebut.

Halaman
12
Penulis: Dedi Iskandar
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved