Cerpen

Sebuah Danau di Tengah Hutan, Suatu Ketika

ILALANG meliuk-liuk mengikuti arah angin yang meniupnya

Karya Anjas Parsi

ILALANG meliuk-liuk mengikuti arah angin yang meniupnya. Tembakan senjata otomatis tiba-tiba menghempaskan ketenangan bebukitan. Beberapa burung terbang berhamburan meninggalkan sarangnya, mereka terkejut oleh bunyi senapan yang bergema di siang hari. Sekelompok pemberontak mengamuk, menembaki pasukan tentara dengan membabi-buta dari atas bukit.

Di hamparan bebukitan luas yang hanya ditumbuhi ilalang, seregu tentara panik dan tiarap seraya membalas tembakan ke arah musuh secara membabi-buta. Dua atau tiga dari tentara mulai tertembak. Jeritan, tangisan, dan teriakan bersatu dalam bunyi desingan timah. Keberuntungan dan takdir dari Tuhanlah yang mampu menyelamatkan mereka yang terkepung. Ketika itu, serangan pemberontak telah membuat seregu prajurit pemburu gugur di bukit ilalang, hanya Edi yang tersisa dari kesatuannya.

Dia begitu terguncang, ketakutan, dan bingung. Sekarang tak tahu di rimba mana keberadaan dirinya; rimba yang telah membuatnya tersesat. Tubuh Sertu Edi Purnomo yang tinggi dan berotot kelelahan mengitari hutan setelah tujuh hari tersesat, dan belum menemukan jalan keluar. Wajah perseginya yang selalu licin telah dipenuhi cambang dan kumis.

Hidungnya yang pesek seakan jenuh menghirup udara di hutan. Baju lorengnya telah kotor sehingga agak menyamarkan tanda pangkat di bahu lengan bajunya. Semangat patriotnya hampir sirna oleh waktu. Waktu yang seakan menuntunnya dalam keputusasaan di belantara yang tak berujung ini.

Seekor burung menukik di angkasa, suaranya terdengar seperti sebuah harapan; keinginan untuk pulang... Suara batu-batu kecil berjatuhan dari tebing mengusik Edi yang sedang duduk di pinggir danau. Matanya menoleh ke suara itu. Dia melihat sebuah senjata menyembul dari balik pohon. Perlahan dia menyatukan tubuh pada batu besar. Jarinya siaga di pelatuk M-16. Samsul, pemberontak bertubuh jangkung bersembunyi di balik pohon dan sedang mengarahkan senjatanya pada Edi. Tiba-tiba suara tembakan senjata AK-47 Samsul menyentakkan Edi, peluru-peluru mengenai batu besar tempatnya bersembunyi. Edi membalas tembakan tersebut dengan panik dan tak terarah.

Beberapa saat kemudian suasanakembali senyap. Tak ada suara tembakan senjata. Samsul telah pergi dari semak-semak tempat dia bersembunyi menuju arah belakang tempat persembunyian Edi. Dengan mengendap- endap Samsul melewati satu per satu batu-batu besar di pinggir danau untuk menyergap musuhnya. Edi mengintip ke pohon di atas tebing. Tidak ada apa pun di sana. Ujung senjata itu tidak terlihat lagi. Dia membalikkan badan, Samsul berdiri sekitar 15 meter darinya.

Seketika mereka saling mengarahkan senjata, lalu keduanya menembak sampai kehabisan peluru. Edi meloncat ke samping untuk berlindung di balik batu besar.Setelah mengganti magasin, Edi mengintip Samsul. Namun, Samsul telah hilang di balik batu besar. KakiEdi terasa sakit, darah membasahi celana lorengnya. Edi mengambil belati dan memotong lengan baju loreng, lalu diikatkan potongan baju pada kakinya yang tertembak. Sebuah teriakan tiba-tiba muncul. “Aduh, aduh...!” suara Samsul kental dengan logat Aceh.Edi tetap siaga dengan senjatanya.

“Aduh, aduh...! Bahu saya sakitsekali!” teriak Samsul sambil merintih. “Gimana kalau saya dan kamu tidak menembak ile!” lanjutnya. Aneh, ada apa dengannya? Apa dia berpura-pura tertembak? Apa itu taktiknya untuk mengelabuiku? Edi membatin. “Aku tidak percaya! Itu cuma alasanmu saja,” hardik Edi. “Bagaimana mungkin aku bisa percaya padamu, sedangkan kau itu musuhku,” bisik Edi. “Saya betul-betul kenak tembak... Kamu bisa bahasa Aceh? Saya susah bicara bahasa Indonesialah!” ujar Samsul.

Edi berpikir sejenak. Apa yang harus dilakukan? Pemberontak itubenar-benar membuatnya kalap dan bingung. “Aku tidak bisa,” cetus Edi. “Brengsek, apa yang sedang terjadi dengan pemberontak itu?” bisik Edi mengutuki Samsul. “Kamu harus ke sinilah untukbantu saya,” pinta Samsul. “Aku tidak mau ke tempatmu! Nanti kau akan menembakku!” bentak Edi. “Betoi, saya tidak tembak kamu! Kamu tolong saya sekarang!” sanggahSamsul bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help