Cerpen

Cinta dalam Kardus

TANGAN mungil Nida begitu cekatan mengeluarkan barang-barang dari dalam kardus

Karya Hasmi

TANGAN mungil Nida begitu cekatan mengeluarkan barang-barang dari dalam kardus. Aku hanya menonton dia membereskan isi kardus yang baru kami terima 5 menit lalu. Hari ini kami mendapat kiriman dari kampung. Biasa, anak kos. Emak mengirimi kami sebulan sekali dua kardus, yang iisi Emak dengan beras, sabun mandi, sabun colek, ikan goreng, kue buatan Emak dan berbagai kebutuhan sehari-hari yang masih bisa kami beli di sini. Emak begitu sibuk ketika waktu untuk mengirim sudah dekat.

Emak sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dikirim untukku dan Nida adikku yang paling gembrot . Emak dengan tangan gagahnya menggiling cabe yang akan dikirim untuk kami. “Sudahlah, Mak. Jangan kirimi kami cabe giling lagi, di sini banyak yang menjualnya,” ucapku suatu hari pada Emak lewat telpon. Namun dari seberang sana Emak hanya terkekeh dan mengatakan, “Tidak apa-apa, Putri.” Aku tidak enak hati menikmati semua ini. Sementara di sana Emak bersusah payah mempersiapkan segala sesuatu yang masih bisa kami lakukan. Sungguh aku merasa sebagai anak yang tahunya hanya membebani Emak.

Sementara Nida, dialah yang paling enantikan momen-momen ini datang setiap tanggal tua dengan tidak sabar. Nida ang memang doyan makan akan tersenyum lebar ketika deru mobil berhenti di depan kos kami. Ia yang sudah menunggu di depan langsung menghampiri sang sopir. Membawakardus-kardus kiriman Emak ke dalam kamar. Matanya berbinarbinar ketika mengeluarkan dodol madu tebu buatan Emak, itu adalah makanan kesukaannya. Ia mengatur dan meletakkan semua kiriman Emak di tempatnya masing-masing. Sementara aku hanya menyimpan sepucuk kertas yang selalu Emak selipkan di dalam kardus.

Jangan tinggal salat, jaga adik baik-baik dan belajar yang yakin! Hanya itu isi surat yang Emak tulis. Emak tidak terlalu pandai menulis. Ia hanya duduk di kelas 1 SD dan harus berhenti ketika hendak naik ke kelas dua. Alasannya cukup klise, maklum zaman dulu, perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, asal sudah mengerti huruf dan angka-angka itu sudah lebih dari cukup. Maka tak heran lagi bila kami mendapati isi surat Emak yang hanya sebaris itu dan isinya yang selalu sama bulan demi bulan.

***

Malam menghadirkan sejuta bintang yang bertabur di langit sana. Aku duduk di teras memandangi pesona malam yang dihadirkan Tuhan. Bila melihat malam yang cerah begini aku jadi teringat Emak di Simeulu nan jauh di sana. Sedang apakah ia? Apa Emak juga sedang menatapi bintang yang sama?. “Kak, telpon dari Emak,” Nida menghampiriku dan menyerahkan handphone. Dan seperti biasa, kami berbincang ria dengan Emak.

Perbincangan yang akan membahas isi kardus Emak. Suara lembut Emak akan terkekeh ketika mendengar celotehan dan komentar Nidamengenai iriman-kiriman Emak. Setiap kami mendapati kiriman, pada malam harinya Emak akan menelpon. Menanyakan apakah paketnya sudah kami terima? Isinya masih bagus atau tidak? Emak khawatir paketnya sudah tidak bagus lagi. Karena mengirim kardus dari Simeulu butuh waktu yang panjang.

Mulai dari penyerahan kardus pada pegawai kapal feri. Kardus itu kemudian berlayar dengan kecepatan super lambat. Dansinggah di Labuhan Haji Aceh Selatan sebelum diangkut oleh mobil L-300 ke Banda Aceh. Itulah yang terjadi bulan demi bulan. Mulai dari aku semester satu sampai semester tujuh sekarang. Emak sendiri yang menyiapkan itu semua, karena Ayah, Ayah kami tak tahu di mana?. Entah Ayah masih hidup atau sudah tiada, tidak seorang pun yang tahu. Ayah menghilang ketika musim perang dulu.

Para lelaki bersenjata menyeret dengan paksa puluhan lelaki dari desa kami untuk dijadikan pengikut mereka. Sudah delapan tahun ayah menghilang. Ah... aku tidak ingin engingat itu lagi. Menyaksikan ayah dengan mata kepala sendiri iperlakukan sangat kurang ajar membuat amarahku meletup-letup. Amarah yang hanya bisa kutahan dalam diam. Dan semenjak kejadian itu, aku menjadi pendiam. Sudahlah , aku tidak ingin lagi engingatnya. “Sudahlah , Mak. Jangan kirimi kami paket lagi,” kataku suatu hari. Ketika kami sedang duduk berdua di dapur. Sontak saja tangan Emak yang sedang mengiris bawang berhenti. Ia tatap lekat-lekat wajahku. Dan bertanya mengapa aku berkata demikian? Apakah aku tidak suka dengan masakan Emak? Atau apa aku malu karena telah dikirimi Emak barang-barang pasar? Emak mengajukan pertanyaan beruntun.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved