Cerpen

Hantu Agam

SUDAH dua minggu lebih aku tak melihat sosok Agam. Terakhir ia berpamitan padaku untuk pulang

Karya Dian Triani GA

SUDAH dua minggu lebih aku tak melihat sosok Agam. Terakhir ia berpamitan padaku untuk pulang ke kampung. Jadwal masuk kuliah memang masih seminggu lagi. Tapi pemuda itu harus membayar sewa kamar kos yang harus dilunasi sebelum tanggal 20 bulan ini. Sebagai teman sekamar, aku tidak keberatan meminjaminya uang.

Tapi masalahnya aku pun belum mendapat kiriman uang dari bapak. Jangankan untuk memberi pinjaman, untuk makan saja aku harus berhemat. Suara ketukan terdengar dari intu kamarku. Semula aku menduga pastilah Agam. Namun aku terkejut ketika melihat orang yang tengah berdiri tepat di depanku itu ternyata bu Husna. Ibu kosku. “Eng... Ada apa, bu?” tanyaku terbata-bata. “Mengapa sampah ditumpuk di bawah pohon Mangga?” tanya bu Husna dengan ekspresi tidak suka. “Bukan saya yang membuangnya, u, “ kataku membela diri. “Tapi... “ “Mana si Agam?” potongnya sebelum aku sempat menjelaskan perkara sampah itu. “Agam lagi pulang kampung, bu,“ jawabku. “Tolong kasih tahu dia, jangan sampai telat lagi bayar uang kos,” kata bu Husna tegas.

Aku hanya mengangguk kepala. etelah bu Husna berlalu, segera kuambil handphone untuk mengirim pesan singkat kepada Agam. Sudah empat pesan singkat yang kukirim dan belum juga mendapat balasan.Aku sama sekali tidak percaya kalau Agam tidak membacanya. Akhirnya aku tidak perduli lagi sampai akhirnya suara ketukan kembali terdengar dari pintu kamarku.“Ya ampun! “ kataku setengah berteriak setelah melihat Agam di depan pintu “Kau tidak punya pulsa, ya?”

“ Memangnya kenapa?” tanya Agam datar, tak mengerti kecemasanku. “ Coba kau baca SMS ku, “ kataku agak kesal. Agam merogoh saku celananya dan membuka handphone. Ia menatap ponselnya lalu melihat ke arahku. “Tidak ada satu pun pesan yangmasuk, “ kata Agam. Aku mengernyitkan kening, “ Ah, masa? “Agam menunjukkan ponselnya padaku. Aku terdiam dan memandangnyabingung. “Kau mengganti nomor baru? “ tanyaku.Agam menggeleng, “ Masih nomor lama kok. “ Aku menghela napas, “Pantas kau tak pernah balas pesanku.

Ternyatatak satu pun yang terkirim. “Agam meletakkan tas ranselnya di atas ranjang dan duduk dalam diam. Setelah beberapa waktu ia pun berkata, “Memangnya ada apa sih? “ “Aku mengingatkan tanggal pembayaran sewa kamar,” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Agam tersenyum, “Cuma itu? “ “ Tahu sendiri lah, kalau telat bayar bu Husma bakalan marahmarah lagi.” Agam merebahkan tubuhnya keatas ranjang dan berkata, “ Barusan bu Husna kemari, ya?” “Lho, kok tau? “ “Kalau tidak, mana mungkin kau sepanik itu, “ jawab Agam dan iamulai memenjamkan matanya.

Aku memandang Agam lama. Agam tampak berbeda kali ini. Ia kelihatan tidak seperti biasa. Tenang dan tak terlalu banyak bicara. Meski baru tiba dari perjalanan jauh, tak terlihat sama ekali raut lelah pada wajahnya. Hanya saja ia begitu pucat. Bukan seperti orang yang tengah menderita sakit, bukan juga seperti orang yang menahan lapar, tapi... entahlah. Akubelum pernah melihat wajah Agam sepucat itu. “Wajahmu pucat sekali, Gam, “ kataku akhirnya. “ Apa kau sakit? “ Agam tidak menjawab. Matanyamasih tertutup.

Tapi aku tahu, dia tidak benar-benar tidur. “Kapan kau akan bayar uang sewa kamar kita?” tanya Agam mengalihkan pertanyaanku sementaramatanya masih tetap terpejam. “Kalau besok ada waktu luang,aku akan mampir ke rumah bu Husna untuk melunasinya. ““Jangan besok, “ kata Agam sambil bangkit untuk duduk. “Kenapa? Apa kau belum punya uang? “

“Bukan karena itu... ““Lalu? “ tanyaku. Agam terdiam sejenak. Ia tampak berpikir-pikir namun tatapan matanya begitu kosong. Aku tidak yakin apakah Agam sungguhsungguh sedang berpikir. “Bu Husna pasti akan mengikhlaskannya... “ suara Agamterdengar seperti bergumam. Mengikhlaskannya? “ ulangku tak mengerti. “Apa maksudmu? “ “ Dia pasti tidak akan menagih lagi, “ kata Agam disambut deraitawaku. “Kau ini eperti tengah bermimpi, Gam, “ kataku masih sambil tertawa. “Sejak kapan bu Husna jadidermawan? Engsel pintu copot saja dia minta ganti rugi, apalagi... “ “Tunggulah barang dua atau tiga hari lagi,” sergah Agam serius.

Tawaku mendadak terhenti. Kupandangilagi wajah Agam. Sungguh, dia sangat berbeda dari Agam yang kukenal. Aku menggeleng-geleng kepala tanpa mengerti apa yang tengah di pikirkan sahabatku itu. Malam menjelang. Aku mengajakAgam keluar untuk mencari makan malam, namun ia enolak dengan alasan tidak lapar. Sangat mengherankan, sedari tadi aku tidak melihatAgam minum atau mengunyah makanan. Sementara aku sudah menghabiskan berbotol-botol airmineral dan beberapa biskuit serta mie instan. Agam juga tidak ke kamar mandi sekedar mencuci muka.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help