Salam

Awas, Premanisme di Lingkungan Sekolah

Menjelang tahun ajaran baru ini kita ingin mengingatkan para siswa, orangtua, dan pengelola lembaga

Menjelang tahun ajaran baru ini kita ingin mengingatkan para siswa, orangtua, dan pengelola lembaga pendidikan, khususnya yang berasrama, supaya dapat berhati-hati dan lebih bertanggung jawab. Sebab, kejahatan ala premanisme belakangan ini makin berkembang di lingkungan sekolah, bahkan di pondok pesantren.

Kasus yang sangat memicu kekecewaan orang tua, pekan lalu terjadi di Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Sebelas yunior dikabarkan menderita bengkak-bengkak dan sakit di bagian perut diduga karena perlakuan kasar lima seniornya.

Seorang wali dari murid yang menjadi korban pemukulan, telah memperkarakan kasus ini ke jalur hukum. Untuk itu, ia sudah membawa anaknya ke rumah sakit untuk divisum sebagai pelengkap pengaduannya ke polisi. Sebab, akibat pemukulan itu anaknya mengalami bengkak di kepala dan sakit di bagian perut.

“Perilaku pelaku seperti preman yang menjajah adik letingnya. Saya kecewa pada pimpinan dayah yang tidak melindungi siswanya,” kata si wali murid.

Pimpinan Dayah MUQ Pagar Air, Drs H Sualip Khamsin mengakui sudah mencatat ada 11 anak yang menjadi korban kekasaran yang dilakukan lima seniornya. “Kami upayakan damai dengan memanggil semua pihak yang terlibat beserta orang tuanya. Insiden itu konflik antara dua leting, bukan penghakiman yang dilakukan senior,” kata dia.

Ya, apapun motifnya, kasus itu telah memakan korban dan membuat kalangan orang tua tidak nyaman bahkan gelisah tentang keberadaan anaknya di lembaga pendidikan itu. Bukan hanya orang tua dari 11 anak yang menjadi korban pemukulan, tapi semua orang tua yang anaknya sedang belajar di sana juga ikut resah.

Insiden tersebut hanya satu contoh kasus dari fenomena yang terjadi di lingkungan lembaga pendidikan berasrama atau boarding school. Mulai tingkat SMP sederajat hingga ke tingkat perguruan tinggi telah dihinggapi “penyakit premanisme” itu. Dan, yang selalu menjadi korban adalah siswa yunior atau adik leting.

Dari banyak kasus kejahatan di asrama sekolah, unsur kelalain pengelola dan pengawas asrama menjadi penyebab utama bisa berlangsungnya kejahatan dimaksud. Anak-anak yang notabene penghuni asrama bukan hanya bisa melakukan kejahatan di lingkungan sekolahnya, tapi berkemungkinan bisa berbuat jahat di luar lingkungan sekolah.

Sebab, karena lemahnya pengawasan, anak-anak terutama laki-laki yang hobi sepak bola, misalnya, acap lompat pagar keluar asrama pada tengah malam untuk nonton sepak bola. Mereka nonton di warung kopi terdekat hingga menjelang subuh baru kembali ke sekolah.

Oleh sebab itulah, menjelang berlangsungnya tahun pengajaran baru ini, kita ingin mengingatkan pengelola sekolah-sekolah supaya meningkatkan pengawasan terhadap anak didiknya selama berada di lingkungan sekolah.

Demikian pula para orang tua, selain tetap memantau perkembangan, juga harus mengingatkan anaknya agar tidak melakukan hal-hal terlarang di sekolah. Sebab, harapan kita semua adalah sekolah menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar, serta nyaman pula bagi orang tua memiliki anaknya di asrama sekolah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help