Berstatus Honorer sampai ‘Pensiun’

PAK Nyak adalah sosok pria yang tidak asing lagi di lingkungan RSUD Datu Beru, Takengon

PAK Nyak adalah sosok pria yang tidak asing lagi di lingkungan RSUD Datu Beru, Takengon. Namun pria yang telah memasuki usia kepala enam ini, hampir setahun lebih tak lagi duduk di belakang kemudi mobil ambulans.

Pemilik nama Bakhtiar ini, merupakan salah seorang pegawai honor yang menghabiskan puluhan tahun usianya menjadi sopir ambulans di RSU Datu Beru. Orang lebih mengenal namanya dengan panggilan Si Nyak atau Pak Nyak, ketimbang nama aslinya Bakhtiar. Profesi sebagai sopir ambulans selama 30 tahun, merupakan waktu yang tidak sebentar untuk sebuah profesi yang penuh tantangan. Ia telah melewati sejumlah era. Termasuk pada saat bumi Aceh dibalut konflik, Pak Nyak merupakan bagian dari pelaku sejarah kelam di bumi Serambi Mekkah ini. Ironisnya, status pegawai honor di rumah sakit pemerintah itu tetap ia sandang sampai dengan berakhirnya masa tugas sebagai sopir ambulans di tahun 2014.

Ditemui di kediamannya di Kampung Musara I, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (15/5) petang, Pak Nyak terlihat duduk di depan rumahnya yang sederhana. Kesehariannya kini disibukkan dengan menjaga kios kecil yang menjadi usaha barunya setelah ‘pensiun’ dari sopir ambulans. “Mau beli apa?.” sapanya ketika disambangi Serambi, sore itu.

Namun setelah dijelaskan maksud kedatangan Serambi, pria berkulit gelap dengan rambut yang sebagian mulai memutih ini tanpa sungkan memaparkan pengalamannya selama menjadi sopir ambulans.

Banyak cerita di balik profesinya sebagai sopir ambulans, mulai dari suara berisik di belakang mobil sepulang mengantar jenazah, serta lampu mobil dan lampu sirine hidup dengan sendirinya. Bahkan tak jarang ia diganggu makhluk-makhluk aneh ketika mengantar jenazah.

Semua itu telah dirasakan Pak Nyak, namun ayah dari tiga anak ini tak pernah meninggalkan profesinya sebagai sopir ambulans, meski hanya berstatus pegawai honor di RSU Datu Beru. “Memang sudah tugas, jadi harus dijalani. Pernah sekali, pas saya membawa jenazah pekerja KKA yang terlindas truk loging, diganggu sama penampakan aneh. Cuma, saya kuatkan diri saja, alhamdulillah tidak apa-apa sampai sekarang,” kata Pak Nyak.

Ia menuturkan, semasa konflik berkecamuk di Aceh, aktivitasnya sebagai sopir ambulans hampir tak pernah berhenti. Bahkan, nyaris tak terhitung lagi berapa jumlah jenazah maupun mayat yang pernah ia angkut. “Saya pernah beberapa kali ikut mengevakuasi, puluhan mayat yang dijumpai di beberapa tempat di waktu konflik. Kalau jumlahnya saya juga lupa, tapi yang pasti tak terhitung lagi,” kenang Pak Nyak.

Menurut Pak Nyak, untuk menghindari gangguan makhluk gaib usai mengantar jenazah, setiap selesai mengantar jenazah, mobil harus segera dibersihkan. Apalagi bila ada tetesan atau bercak darah di mobil, harus segera dicuci. “Kalau ada darah di mobil tidak dibersihkan, kadang-kadang ada yang mau mengganggu. Tapi kalau langsung dicuci, mudah-mudahan tidak ada apa-apa,” jelas Pak Nyak.

Bukan hanya itu, demi mengantarkan jenazah, ambulans Pak Nyak sering melintas di antara hujan peluru. Tetapi suami dari Mujiati ini, tak pernah mundur meskipun desingan peluru melintas di antara laju mobil yang ia kemudikan. “Memang sudah seperti panggilan jiwa. Kalau ada penemuan mayat atau tugas mengantar jenazah, saya langsung pergi walaupun di masa konflik,” ujarnya.

Kegigihan Bakhtiar alias Pak Nyak bekerja sebagai sopir ambulans juga digambarkan oleh istrinya, Mujiati. Menurut Mujiati, Pak Nyak merupakan sosok tegar dan pemberani, meski tak jarang membuat keluarga resah dan gelisah menunggu Pak Nyak pulang ketika menjalani tugas. “Kadang-kadang saya ikut juga pergi menemani bapak, karena sering pergi sendiri,” sebut Mujiati.

Bekerja sebagai sopir ambulans di era konflik bukanlah suatu yang mudah untuk dijalani. Meski hanya digaji sebagai pegawai honorer yang pendapatannya serba terbatas, tetapi Pak Nyak tetap menjalani profesi itu. Bahkan, ia bisa menyekolahkan ketiga anaknya ke jenjang perguruan tinggi. “Sudah lebih setahun saya tidak lagi bekerja. Sekarang anak saya yang gantikan menjadi sopir ambulans,” papar Pak Nyak.

Di balik kegigihan Pak Nyak sebagai sopir ambulans yang telah melewati berbagai rintangan dalam rentang 30 tahun, terbersit sekelumit kekecewaan. Pasalnya, puluhan tahun mengabdi sebagai sopir ambulans di rumah sakit pemerintah, namun belum pernah diberi penghargaan apa pun. “Sebelumnya ada dijanjikan. Tapi, masih sebatas janji saja,” pungkasnya.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved