Isyarat Kematian dari Aroma Jeruk Purut

ZULFIKAR (34) sudah aktif dalam kegiatan kemanusiaan di PMI Aceh Utara sejak Aceh masih dilanda

ZULFIKAR (34) sudah aktif dalam kegiatan kemanusiaan di PMI Aceh Utara sejak Aceh masih dilanda konflik, yakni mulai tahun 2011 atau sejak 15 tahun lalu. Dalam rentang waktu 15 tahun, dia yang bertugas sebagai sopir ambulans pastinya memiliki berbagai pengalaman menarik, mistis, bahkan menakutkan, terutama saat mengevakuasi mayat di berbagai daerah pedalaman Aceh Utara.

Zulfikar atau kerap disapa Dekgam, Kamis (19/5) menceritakan, rasa sosial yang tinggi dan jiwa ingin terlibat dalam misi kemanusian, membuat dia mau bergabung dengan PMI Aceh Utara. Meskipun statusnya kala itu hanya sebagai relawan yang hanya mendapatkan upah Rp 300.000 sampai Rp 400.000/bulan. Namun dengan upah segitu, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melakukan aksi-aksi kemanusian.

Dia menyebutkan, pada masa konflik dulu, untuk bisa mengevakuasi mayat tidaklah mudah. Karena saat mendapatkan informasi adanya mayat, maka pihaknya harus terlebih dahulu berkomunikasi dengan GAM ataupun aparat keamanan. Bila sudah mendapatkan izin dari kedua pihak, baru bisa bergerak untuk menjemput mayat. “Ada juga akibat tidak dapat jaminan keamanan dari pihak bertikai, membuat kami tidak bisa menjemput mayat, hingga mayat harus dijemput keluarganya sendiri. Sedih rasanya, tapi kami tidak berdaya dengan kondisi tersebut,” ulasnya.

Belum lagi pihaknya mendapatkan bentakan-bentakan dari pihak bertikai, bahkan kekerasan saat melakukan misi kemanusiaan. “Saya hanya sekali ditendang. Karena saat sampai di lokasi mayat, memang baru selesai kontak tembak. Itu terjadi di kawasan Baktiya,” paparnya.

Dirinya juga sering tertipu dengan penelepon gelap. Biasanya telepon yang masuk mengabarkan ada mayat yang perlu dievakuasi, namun setelah diceks ke lokasi tidak ada mayat seperti diceritakan. “Itu sering terjadi masa konflik,” ujarnya.

Di samping itu, dia juga mengakui ada isyarat mistis yang dirasakan pihaknya selama melakukan evaluasi mayat. “Ada isyarat, saat kami mencium bau jeruk purut di dalam mobil, berarti besoknya pasti akan ada mayat yang harus kami evakuasi. Ini selalu terjadi, sehingga bau jeruk menjadi isyarat sendiri bagi kami,” ulasnya.

Dekgam juga mengakui kalau dia terlibat aktif saat Aceh dilanda tsunami pada 24 Desember 2004, baik saat proses evakuasi korban ataupun distribusi bantuan. “Pada masa tsunami, tantangan memang tidak ada, tapi capeknya luar biasa. Karena kami harus bekerja dari pagi dan baru selesai sampai tengah malam, baik saat mengevakuasi korban ataupun mendistribusikan bantuan. Untuk evakusi mayat saya terlibat langsung di daerah Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Sedangkan mendistribusikan bantuan saya terlibat di Aceh Utara, Bireuen, hingga ke Pidie,” paparnya.

Tapi, sebut Dekgam, suka duka dia menjadi sopir ambulans baik selama masa konflik ataupun saat ini telah memberi hikmah bagi dirinya. Saat ini Dekgam mengaku mendapatkan gaji sekitar Rp 1,5 juta per bulan sebagai staf di PMI.

Dirinya tak pernah berharap imbalan setiap kali mengantarkan mayat, apalagi dari keluarga pasien. Tetapi, memang ada saja yang berbaik hati, meskipun bentuknya seperti buah kelapa bahkan ikan. “Saat kita antar mayat, maka keluarganya akan kenal dan akan ingat sama kita sampai berbulan-bulan. Bahkan pernah juga keluarga mayat yang saya antar menelepon untuk mengantar hasil kebun mereka ataupun hasil tambak,” ungkapnya sambil tersenyum.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved