Opini

Ada Apa dengan Kita

PERTEMUAN kembali Cinta dan Rangga dalam sekuel Ada Apa Dengan Cinta (AADC) atau perang para superhero

Oleh Asriatun Zainal

PERTEMUAN kembali Cinta dan Rangga dalam sekuel Ada Apa Dengan Cinta (AADC) atau perang para superhero yang tak terelakkan dalam Captain America: Civil War di awal 2016 ini, mungkin menjadi trending topic. Setidaknya, hadirnya kedua film tersebut memberi hiburan tersendiri bagi para penikmat film.

Tulisan ini tentu saja tidak hadir untuk membahas kedua film tersebut. Cerita di atas hanya saya jadikan pengantar untuk memberitahukan kepada kita. Boleh jadi, kita terlalu larut dalam kisah-kisah fiksi dan lupa dengan realitas miris dalam kehidupan nyata. Saya hanya bisa membayangkan, bagaimana jadinya Indonesia 10-20 tahun ke depan.

Bayangan mengerikan hadir bukan tanpa alasan. Apa yang sebenarnya tengah dilakukan para generasi “anak panah” (pemuda) saat ini? Apa yang terjadi di masa depan dengan kondisi moral yang semakin menipis, dengan kepedulian dan kepekaan sosial yang kian terkikis. Serta sifat individualistis yang sulit ditangkis.

Beragam pemberitaan miring kini lalu-lalang dihadapan kita. Di televisi, radio, sosial media (sosmed), koran bahkan majalah, memberitakan seorang gadis dibunuh. Pelajar SMA ditangkap karena tidak taat aturan, parahnya teriakan bernada ancaman dilontarkan  kepada pihak berwajib karena merasa memiliki otoritas lebih, semisal kolega pejabat. Barangkali yang sudah lazim kini, para alayer (sebutan bagi anak-anak alay) yang tanpa segan dan sungkan duduk manis di atas patung pahlawan demi kebutuhan “pamer” di sosmed.

Pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap Yuyun misalnya, remaja 14 tahun di Bengkulu. Dari 12 tersangka pelaku yang berhasil ditangkap, enam orang di antaranya masih di bawah umur. Para pelaku melakukan aksi kejinya setelah minum tuak. Ironisnya lagi, dalam kasus ini para pelaku yang ditangkap sebelumnya ikut melakukan pencarian terhadap korban, kemudian ikut menggali kubur, dan proses persedekahan di rumah korban (Merdeka.com, 10/4/2016).

 Rasa prihatin
Kasus yang dialami Yuyun hanya satu dari sekian kasus yang menjadi perhatian publik kini. Kasus ini bukan hanya ditanggapi karena perasaan marah, tatapi juga rasa prihatin yang begitu dalam terhadap kondisi bangsa. Bagaimana seorang manusia, bahkan yang masih di bawah umur menjadi begitu keji terhadap manusia lainnya.

Tanpa perasaan bersalah dan berdosa, tersangka ikut dalam proses pencarian mayat dan pemakaman jenazah. Mereka mungkin duduk di antara keluarga korban. Mungkin saja berbincang dan sesekali mereka, boleh jadi tertawa bersama. Saya rasa, kita-saya dan pembaca-juga tebersit pemikiran yang sama. Pertanyaan yang mungkin harus kita jawab bersama adalah, lingkungan seperti apa yang membentuk watak mereka? Pendidikan seperti apa yang mereka terima?

Kasus lain misalnya, ketika anak alay mengacungkan jari tengah di depan foto Jenderal Sudirman, serta pemuda asal Tobasa menendang lambang Garuda. Dan, sekelompok pemuda lainnya yang nekat naik ke atas patung pahlawan revolusi demi berfoto (Merdeka.com, 7/5/2016). Sangat disayangkan ketika hari ini, para orangtua harus menerima kenyataan kehidupan anak mereka, entah itu sebagai korban atau tersangka. Atau perasaan cemas seorang guru melihat muridnya menjadi korban kekerasaan, seorang adik melihat kakaknya sebagai seorang pecandu narkoba. Paling mainstream mungkin para alayer yang semakin mewabah dan sulit dikendalikan. Atau barangkali masyarakat yang geram karena patung para pahlawan diduduki dan lambang Garuda yang dihina.

Perlu saya tekankan, bahwa tulisan ini tidak untuk menyalahkan siapapun. Karena saya cukup yakin bahwa kita semua, besar kemungkinan menjadi tersangka utama rusaknya moral generasi muda. Selayaknya kita sama-sama bertanggung jawab terhadap degradasi moral anak bangsa. Kita di sini, adalah para orangtua, para guru, teman sepermainan, LSM, media, pemerintah, bahkan masyarakat umum harus ikut ambil sikap.

Para orangtua bertanggug jawab karena mereka adalah agen utama dalam proses pembangunan karakter anak. Orangtua menjadi kunci dalam mengisi informasi positif dalam pikiran anak, mengontrol tindakan anak. Mengajarkan cara berkomunikasi yang baik dan memilih tontonan yang layak bagi anak. Harmonisasi dalam keluarga menjadi cara terbaik menghindari lingkungan negatif di luar. Memberikan kebebasan pada anak bukan berarti membiarkanya berkehendak suka hati. Namun, menyediakannya peluang untuk bisa memilah baik dan buruk.

 Generasi amoral
Guru, juga berpeluang besar dalam mencetak generasi amoral. Peran guru sama pentingnya dengan orang tua. Tujuan utama bukan hanya soal mengajar, tetapi juga mendidik. Membangun kepercayaan diri para murid, mengajar bukan sekadar teori, tetapi juga sesuatu yang sarat akan nilai. Nilai yang tidak hanya bisa diukur dengan angka. Seorang guru yang tidak hanya bekerja untuk dibayar, tetapi bekerja karena ikhlas, merasa peduli terhadap kondisi negara ini.

Kasus pembunuhan seorang dosen di Medan, misalnya, dipicu oleh alasan seorang mahasiswa yang kerap ditegur dosen karena tidak memakai kemeja dan tidak membawa buku (Tempo.co, 4/4/2016). Kejadian ini memunculkan beragam meme sindiran sebagai representasi buruknya relasi antara mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi.

Meme sendiri merupakan aktivitas, konsep, slogan atau bagian dari media yang menyebar. Meme juga diartikan sebagai ide, perilaku atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain. (Okezone.com, 25/2/2015).

Media secara umum, hari ini juga menjadi satu kanal bagi memburuknya perilaku masyarakat. Kasus-kasus mengerikan disampaikan dengan bahasa dan makna yang vulgar. Penyebutan warna beha dan celana dalam kasus pembunuhan sadis seperti melupakan etika dalam penulisan berita. Bahkan media “ecek-ecek” menjadi referensi baru hadirnya kasus sadis berikutnya.

Pemerintah dan LSM juga memegang peranan yang serupa. Ketika pemerintah abai dan gagal dalam upaya mengendalikan perluasan video porno sebagai salah satu alasan meningkatnya tindakan pemerkosaan. LSM hadir sebagai jembatan untuk memobilisasi masa guna memperbaiki arah kebijakan pemerintah. Namun terlepas dari itu semua, kemampuan untuk meyakinkan diri sendiri adalah hal yang lebih penting.

Meyakinkan diri kita bahwa sesuatu yang salah harus diperbaiki. Menyandarkan perubahan pada orang lain, sama halnya seperti mencoba menghidupkan api di bawah hujan. Akhirnya, tulisan ini mungkin hanya sebuah harapan, seorang anak yang juga masih muda. Yang berharap banyak pada perbaikan diri dan lingkungannya, orang tuanya, gurunya, bahkan pada pemerintah dan negaranya. Nah!

Asriatun Zainal, mahasiswi program studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal) dan alumnus Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU). Email: asriatunzainal@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved