KUPI BEUNGOH

Menjawab Teuku Zulkhairi, Mengenai Dakwah Salafi

Dalam konteks Aceh, dakwah salafi yang dianggap kurang toleran ini, justru sebenarnya berkali-kali menjadi korban intoleransi itu sendiri.

Menjawab Teuku Zulkhairi, Mengenai Dakwah Salafi
Nauval Pally Taran, Pelajar di Ma'had Salafi 

BARANGKALI benar, sebuah nasihat atau bahkan kritik, perlu dilihat dengan kebertautannya pada niat yang baik. Artinya, nasihat ataupun kritik dapat dimaknai sebagai bentuk perhatian dari orang yang mengkritik kepada objek yang dikritik.

Tentu saja dalam pada itu yang diharap dari sebuah kritik sejatinya adalah kebaikan yang datang kemudian, sehingga tujuan dari kritik, bukanlah kritik itu sendiri.

Kendati demikian, ada kaidah pokok yang sering terluput dalam upaya mengkritisi, yakni penguasaan yang baik dan pemahaman yang selesai (fixed) terhadap objek dan titik kritik.

Terkait hal tersebut, risalah singkat ini hendak menyoal tulisan saudara kita, Teuku Zulkhairi (TZ) yang dimuat pada rubrik Kupi Beungoh Serambinews.com, tanggal 21 Juni 2016, yang berjudul: “Catatan Untuk Dakwah Salafi, Hendaklah Lebih Toleran”.

Tulisan yang dinamai sebagai catatan tersebut, berisi tentang nasihat, walau secara substantif memang dapat dinilai berisi kritikan. Namun tentu tidak mengapa, apalagi penulis menyebutkan bahwa dasar catatannya tersebut sebagai implementasi dari Firman Allah, watawa shawbil haq.

Ada beberapa kekeliruan yang seharusnya tidak perlu terjadi jika TZ lebih membuka diri untuk mengkaji sedikit lebih komprehensif  literatur dakwah salafi, sehingga tulisan TZ dapat lebih bernilai ilmiah. Yaa walau kita menulis di rubrik Kupi Beungoh, saya kira amanah ilmiah itu perlu tetap dijaga, terlebih kita adalah umat yang meyakini pertangungjawaban tidak hanya di dunia saja.

Dari beberapa kekeliruan yang ditulis oleh TZ, pada kesempatan yang ringkas ini, penulis hendak memberi komentar atas beberapa point yang terpenting saja.

Yang terutama menjadi titik kritik oleh TZ, yang kemudian dinamakannya sebagai akar masalah atau problem awal dakwah salafi, adalah kehadiran Syaikh Nashidruddin Al-Albani (muhaddits besar abad ini), serta sikap kaum salafiyyun yang oleh TZ dianggap menjadikan Syaikh Albani sebagai standar kebenaran. Allahulmusta'an. Demi Allah yang jiwa kita berada di tangan-Nya.

Sesungguhnya salafi berlepas diri terhadap anggapan ini sebagaimana serigala berlepas diri dari darahnya Yusuf.

Saya coba berhusnudzan dan menghargai niat baik TZ, maka saya berasumsi bahwa tidaklah TZ mengemukakan sebuah kesimpulan yang keliru, melainkan keterbatasan informasi yang beliau terima. Untuk itu, pada kesempatan ini, sebelum coba meluruskan kesalahan simpul yang dikemukakan oleh TZ, saya merasa harus untuk memberikan penjelasan terlebih dahulu yang merupakan pokok-pokok penting yang harus dimafhumi untuk mengenal lebih dekat, dan memahami lebih tepat dakwah salafi.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved