KUPI BEUNGOH

Ramadhan di Trengganu

Di masjid tersebut juga terpajang sebuah al-Quran dengan ukuran A3 yang terletak di hadapan imam.

Ramadhan di Trengganu
Saiful Hadi 

RAMADHAN tahun ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan safari Ramadhan bersama rombongan Dayah Darul Aman lubuk ke wilayah Terengganu-Malaysia.

Dalam catatan perjalanan ini, ada tiga poin utama yang akan disampaikan, yaitu mengenai tradisi berbuka, pelaksanaan shalat tarawih, dan qiyamul lail.

Seperti kata pepatah, Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, demikian yang penulis amati selama menjalani ibadah puasa ramadhan di Terengganu, tepatnya di Kampung Kemasek yang terletak antara Kerteh dan Kijal, sekitar 30 km dari bandar Chukai dan 10 menit dari arah Kerteh. Sekilas memang tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok, namun ada beberapa tradisi unik yang membuat Ramadhan di Kemasek tampil beda.

Di kawasan Kemasek terkenal dengan pantainya yang kuning keemasan. Karena dekat dengan pantai tentu saja ada banyak kuliner sedap hasil olahan tangkapan laut yang begitu menggoda selera. Di antaranya adalah ikan pari bakar, menu yang satu ini tidak pernah absen dari menu berbuka. Bentuknya yang menggiurkan dengan taburan saus kacang yang begitu nikmat.

Saya berkesempatan mencicipi menu yang satu ini saat menghadiri acara buka puasa bersama di masjid Jamik Kemasek. Umumnya yang hadir dalam kegiatan ini adalah jamaah lelaki, baik yang muda maupun yang tua.

Sembari menunggu berbuka puasa, seluruh tamu melaksanakan tahlilan dan doa bersama yang dipimpin oleh imam mesjid jamek kemasek. Kegiatan ini penulis rasa merupakan sesuatu yang sangat baik, karena jika dibandingka dengan duduk ngobrol ngalor ngidul yang tidak jelas, maka jauh lebih baik memperbanyak berdoa, apalagi ini bulan ramadhan, terutama menjelang berbuka puasa lagi.

Sesaat setelah azan magrib, imam masjid kembali memimpin doa berbuka puasa, dan kemudian sama-sama menyantap menu yang telah terhidangkan. Dan selanjutnya dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah.
Dari beberapa masjid yang sempat saya singgahi, seperti Masjid Jamik Kemasek dan Masjid Sultan Ahmad yang berada di wilayah Kemaman, umumnya shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat. Akan tetapi setelah selesai delapan rakaat ada juga beberapa jamaah yang langsung menutup dengan witir, sementara imam tetap lanjut sampai selesai dua puluh rakaat.

Pelaksanaan ibadah tarawih tidak berbeda jauh dengan yang ada di Aceh. Setiap selesai dua rakaat, dipandu oleh seorang bilal, seluruh jamaah berzikir bersama seperti yang sering kita saksikan di Aceh, yaitu membaca "fadhlan minallah wanikmah...", dan "subhana malikil makbud" setiap selesai empat rakaatnya. Tidak lupa juga, imam memimpin doa setiap selesai empat rakaat.

Hampir seluruh masjid tata laksana shalat tarawihnya demikian. Pelaksaan tarawih di imami oleh para Hafiz, satu juz setiap malam. Dan pada rakaat terakhir witir, imam membaca doa qunut sebab telah memasuki pertengahan kedua dari Ramadhan.
Saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengimami delapan rakaat pertama tarawih saat berada di Masjid Jamik Kemasek.

Sementara untuk selanjutnya dilanjutkan oleh imam yang lain. Dalam semalam ada dua orang imam yang bertindak memimpin tarawih sampai witir, sedangkan shalat isya tetap dipimpin oleh imam besar mesjid.

Di masjid tersebut juga terpajang sebuah al-Quran dengan ukuran A3 yang terletak di hadapan imam. Saat shalat tarawih, imam membaca ayat dengan melihat langsung dari al-Quran tersebut.

Dalam rangka menghidupkan sepuluh terakhir ramadhan, aktivitas masjid di malam harinya padat dengan berbagai kegiatan. Mulai dari tarawih, hingga shalat malam lainnya seperti tahajud dan shalat sunnah tasbih yang dikerjakan secara berjamaah. Menjelang sahur, dilanjutkan dengan sahur bersama yang telah disediakan oleh panitia mesjid.

Selain meningkatkan amal dengan berbagai amalan ibadah, setiap subuhnya juga dibuat kajian-kajian ilmu agama yang disebut dengan tazkirah, atau kuliah subuh seperti yang lazimnya kita saksikan di aceh.

Pimpinan Dayah Darul Aman Lubuk yang juga ketua MPU Aceh Besar, Tgk.H Muhammad juga menjadi salah satu pemateri tazkirah subuh saat berkunjung ke mesjid Jamek Kemasek.

Dalam tazkirahnya, beliau menyampaikan agar semakin mengencangkan ikat pinggang, dan bertawaqal serta menjalani ibadah dengan sabar guna memperoleh predikat taqwa yang merupakan hikmah dari melaksanakan ibadah puasa. [SAIFUL HADI, ST | Pengajar di Dayah Darul Aman Lubuk dan Staf Prodi Arsitektur UIN Ar-Raniry.]

Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved