KUPI BEUNGOH

Mendamaikan Teuku Zulkhairi Versus Nauval Pally Taran

Secara singkat menurut amatan saya, manhaj Asy’ari dianut TZ dan Salaf dianut NPT

Mendamaikan Teuku Zulkhairi Versus Nauval Pally Taran
Syah Reza 

DISKUSI opini antara Teuku Zulkhairi (TZ) dan Nauval Pally Taran (NPT) tentang pro-kontra dakwah salafi yang sempat hangat di rubrik “Kupi Beungoh” pada portal berita serambinews.com ternyata masih berlanjut dan mengundang beragam respon dari netizen baik positif maupun negatif.

Terlepas dari konten yang dibahas, menurut saya tradisi diskusi ilmiah melalui tulisan atau media seperti yang dilakukan TZ dan NPT perlu dibudayakan. Ini menandakan budaya ilmu perlahan mulai mewarnai Aceh yang saat ini masih didominasi oleh wacana politik dan sosial.

Apa yang dilakukan TZ dan NPT adalah aktivitas positif dari keilmuan islam yang pernah muncul sejak abad 9-17 M yang kemudian terputus sejak masa kolonialisme.  Di mana pada masa tersebut tradisi ilmu, baik verifikasi, diskusi, klarifikasi atau kritis selalu dilakukan dengan karya atau tulisan disertai argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tahafut Al-Falasifah karya Imam Al-Ghazali dan Tahafut at-tahafut karya Ibn Rusyd adalah salah satu contoh diskusi kritis melalui tulisan yang mencirikan masyarakat berilmu. Semangat ini perlu dilanjutkan dan berharap respon pemerintah terhadap tradisi ilmu lebih dipriritaskan ke depan.

Problem Manhaj

Awalnya saya tidak ingin masuk dalam diskusi ini karena pembahasan keduanya tidak terlalu substansial dibanding membahas konsep aqidah yang diyakini keduanya. Selain itu, umumnya akar masalah ketegangan agama saat ini terletak pada cara penyelesaian yang selalu mengedapankan konfrontasi dibanding pengkajian mendalam secara ilmiah dan musyawarah.

Maka wajar masalah selalu berujung dengan kekerasan fisik, dan etika. Tetapi tidak dalam diskusi TZ dan NPT yang tetap mengedepankan etika ilmiah. Namun, dalam diskusi keduanya menurut saya ada topik yang terabaikan sehingga perlu disampaikan secara sederhana sebagai perbandingan, bukan untuk memperpanjang polemik yang ada.

Seperti menebang pohon pisang tapi melupakan akar, akhirnya ia akan tumbuh seperti semula. Artinya yang ‘minus’ dalam diskusi keduanya adalah tentang manhaj aqidah yang merupakan akar, seharusnya lebih dominan dibahas.

Sekalipun NPT menjelaskan manhaj salaf secara umum tetapi tidak mencoba melakukan perbandingan dengan manhaj lain diluar salaf, dan kekurangan tersebut seharusnya dilengkapi oleh TZ dengan manhaj yang ia berpegang padanya sehingga memudahkan pembaca memahami inti perbedaan dan persoalan yang dihadapi.

Membahas manhaj aqidah otomatis perlu mengembalikan ingatan kita pada firqah kalam (kelompok aqidah) klasik yang memiliki perbedaan dalam rumusan aqidah. Setidaknya ada 3 kelompok yang mendominasi manhaj aqidah ummat Islam sampai saat ini.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved