Ramadhan Mubarak

Berpisah dengan Ramadhan

TIDAK terasa hampir sebulan kita menjalani perintah puasa Ramadhan tahun ini

Berpisah dengan Ramadhan

Oleh Ir. H. Basri A. Bakar, M.Si, Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid Aceh

TIDAK terasa hampir sebulan kita menjalani perintah puasa Ramadhan tahun ini. Artinya, beberapa saat lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1437 H sekaligus berpisah dengan bulan suci Ramadhan 1437 H. Nuansa perpisahan tersebut mulai kelihatan seminggu menjelang hari raya, di mana orang-orang mulai sibuk dengan baju baru, mengecat rumah, membeli perabot, menyiapkan sembako, dan lain sebagainya.

Ramadhan merupakan tamu agung yang dielu-elukan kedatangannya dengan berbagai amalan yang dinjurkan karena diyakini mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sejak malam pertama Ramadhan, jamaah shalat Tarawih tumpah ruah di masjid-masjid, surau dan mushalla. Seiring dengan perjalanan waktu, tempat-tempat ibadah pun mulai kurang jamaah, apalagi saat-saat akan berpisah dan merayakan Idul Fitri. Beberapa masjid berusaha “membujuk” jamaahnya untuk tetap meramaikan shalat Tarawih dan Witir dengan mendatangkan imam dari Arab Saudi ataupun Mesir.

Detik-detik perpisahan dengan bulan maghfirah dan penuh berkah ini ada yang menyambut gembira dan ada pula yang menyambutnya dengan kesedihan. Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi berlalu, mereka selalu meneteskan air mata kesedihan. Mereka rindu dengan dekapan tamu agung yang selama ini bersama mereka. Mereka khawatir itulah perjumpaan terakhir.

Lisan mereka basah dengan doa dan permohonan, ungkapan kerinduan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan tahun selanjutnya. Ada riwayat yang mengisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dirasakan manusia, tapi juga oleh para malaikat dan makhluk-makhluk Allah lainnya. Wajar saja, sebab, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang dilipatgandakan amal kebajikan. Karenanya, beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan membawa segudang pahala untuk bekal di akhirat.

Pada masa Rasulullah saw, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beriktikaf, membaca Alquran, zikir dan qiyamul lail. Mereka bahkan menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka. Bulan di mana orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, bulan yang dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan oleh Allah Swt.

Suatu hari, dalam khutbah Idul Fitri, Umar bin Abdul Aziz berkata: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.

Seorang di antara jamaah terlihat sedih. Lalu seseorang kemudian bertanya kepadanya: Ada apa gerangan? Kenapa engkau malah bermuram durja padahal hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang? Orang itu menjawab: Engkau benar wahai sahabatku, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Namun sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.

Demikian pula dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali berujar: Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat menghiburnya.

Menuju insan kamil
Dari Fudhalah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan: Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).

Jika kita merenungi kondisi salafush shalih dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan, bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal saleh, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.

Bulan Ramadhan seyogiayanya mampu menempa jiwa dan raga kita dengan nilai-nilai spiritual menuju insan kamil yang bertakwa. Ibarat kupu-kupu yang cantik dan warna-warni, sesungguhnya wujud sebelumnya adalah seekor ulat bulu yang menjijikkan. Sunnatullah berlaku, yakni ulat bulu harus mengalami fase masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu keluar dalam wujud yang lain, menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika proses metamorfosa ini dianalogikan dengan kehidupan manusia, maka kepompong itulah yang dinamakan Ramadhan. Melalui “pertapaan” selama sebulan, kemudian manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah dan berguna.

Berpisah dengan Ramadhan bukan serta meninggalkan segalanya yang pernah dilatih selama sebulan. Namun harus menjadi motivasi dan semangat untuk bangkit mempertahankan jatidiri dan nilai-nilai muttaqin yang telah diraih saat keluar dari kepompong Ramadhan. Nilai-nilai tersebut harus mampu diaktualisasikan dalam sebelas bulan ke depan secara istiqamah. Jangan sampai kupu-kupu yang cantik dan mempesona, kembali menjelma menjadi ulat bulu yang menjijikkan dan menakutkan. (email: baskar_olin@yahoo.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help