Puisi

Kami Berkelana Seperti Orang Lain

Kami berkelana seperti orang lain, Tetapi kami tak pernah kembali.

Karya Mahmoud Darwish

Kami berkelana seperti orang lain,
Tetapi kami tak pernah kembali.
Laksana kembara di setapak awan.
Kami kubur cinta di rimbun gemawan,
diantara akar-akar pohonan.
Kami seru istri-istri kami;
Bersalinlah hingga seratus tahun,
Semoga kita dapat mengakhiri kembara ini
Di kampung terdekat, di ujung ketidakmungkinan!
Kami berkelana dengan kereta perang suci,
Tidur di tenda-tenda para nabi
Dan terlahir kembali dalam bahasa kaum gipsi
Kami jelajah dunia dengan paruh burung Hud-Hud,
Dan bernyanyi untuk melupakan jarak.
Kami bersihkan cahaya bulan. Jalan masih panjang,
Bermimpilah tentang tujuh perempuan yang setia
Menjaga kembara di atas pundakmu
Guncangkan pohon kurma untuk mereka
Kau kenal mereka, dansalah seorang
yang akan melahirkan untuk kampung Galilee
Negerikami tinggal kata-kata: Ucapkan. Ucapkan
Biar kusandarkan kembara ini pada sebuah batu
Negeri kami tinggal kata-kata: Ucapkan. Ucapkan
Biar kusaksikan akhir dari kembara ini.

Mestinya Aku di Sana

Mestinya aku di sana.
Aku punya banyak kenangan.
Aku lahir seperti yang lain.
Aku punya ibu,
sebuah rumah bertingkap banyak,
saudara, kawan dan satu kamar hukuman
dengan sebuah jendela pendingin!
Aku punya ombak dicumbu camar,
sepotong panorama sangat pribadi.
Aku punya padang rumput luas.
Pada kedalaman cakrawala kata,
aku punya rembulan, makanan burung,
dan sebatang pohon zaitun abadi.
Aku hidup di sana jauh sebelum pedang
membuat orang saling memangsa
Mestinya aku di sana.
Ketika surga kehilangan ibunya,
Aku kembalikan surga pada ibunya
Dan aku menangis hingga sepotong awan
Mendekat dan menampung airmataku
Di luar kebiasaan, aku telah memahami
Bahwa kata-kata harus melawan senjata
Aku berusaha membongkar semua kata
Untuk merebut dari mereka satu kata: Rumah.

* Mahmoud Darwish (1942-2008) adalah penyair ternama Palestina. Pada usia 6 tahun mengungsi ke Lebanon akibat buldozer serdadu pendudukan yang menghapus Al-Birwa, nama kampungnya, dalam peta. Ia mudik lagi dan berkelana antar kampung sebagai “pengungsi dalam negeri” hingga terusir kembali pada 1970. Ia diizinkan pulang dan menetap hanya di Ramallah pada 1996 hingga wafat dan dipusarakan di sana. Mendapat Prince Claus Award (2004) dan The International Forum for Arabic Poetry Prize (2007).Sajak-sajak di atas terhimpun dalam buku Unfortunately, It Was Paradise (University of California Press, 2003) yang diterjemahkan dan disunting dari bahasa Arab oleh Munir Akash dan Carolyn Forché serta dialihbahasa Indonesia oleh Fauzan Santa.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved