KUPI BEUNGOH

'Menyingkirkan' Anak Di Masjid Agung Meulaboh

dengan menempatkan anak-anak disamping orangtuanya maka akan jauh kemungkinan ia berbuat nakal, bermain-main dan menimbulkan kegaduhan lainnya

'Menyingkirkan' Anak Di Masjid Agung Meulaboh
Mustafa Husein Woyla 

TERSENTAK hati saya ketika melihat shaf anak-anak yang sudah mendekati baligh (murahiq) dibariskan terpisah dari jamaah orang dewasa. Tepatnya anak-anak dibariskan mendekati teras utara masjid.

Pemandangan itu saya temukan di masjid kebanggaan masyarakat Aceh Barat, Masjid Agung Baitul Makmur, Kota Meulaboh.

Pemandangan tidak ”sedap" itu membuat saya terlambat ikut takbir dan terbawa dalam shalat. Mungkin karena sangking miris melihat nasib anak-anak yang menurut saya sungguh tidak menghargai anak-anak yang mencintai masjid.

Jumlah mereka hanya puluhan jika mereka tidak dirangkul diayomi dengan arif dan bijak kelak ketika mereka besar yang ada dibenaknya, mesjid benar rumah Allah tapi meminggirkan alias tidak ramah terhadap anak-anak dengan bukti ada jarak sampai lima shaf kosong baru mereka diizinkan berdiri.

Setidaknya itulah gambaran yang tergambar dalam benak saya dan bisa juga di pikiran anak berserta orang tua mereka namun mereka lebih memilih diam.

Untuk mendapatkan jawaban, di media terbuka ini saya bertanya kepada pengurus masjid dari hasil temuan di atas, adapun hal-hal yang perlu pencerahan dari pengurus masjid sebagai berikut;

Atas dasar apa anak dipisahkan dari shaf orang dewasa? Apakah karena mereka anak-anak yang membuat bising/gaduh sehingga menggangu kekhusyukan para jamaah orang dewasa, Adakah syariat yang nabi Muhammad SAW bawa memperlakukan anak-anak demikian? Apakah keberadaan meraka memutuskan shaf orang dewasa? Atau mutlak kebijakan pengurus masjid?

Sebenarnya dengan berat hati saya selaku warga Aceh Barat menuliskan ini di Rubrik ”Kupi Beungoh” masukan ini terbuka dan agar dibaca oleh semua orang. Hal yang memberatkan hati saya teringat nasehat Imam Syafi’i senada juga dengan nasehat Al Fudhail bin iyadh;

“Jangan nasehati orang di depan khalayak ramai bukan didengar malah dianggap menjelek-jelekkan.” Saya tidak bermaksud menjelakkan tapi hanya sebatas memberi saran dan masukan.

Hal ini perlu saya pertegas karena sudah beberapa kali bahkan dengan rentang waktu antar tahun saya beri masukan kepada orang yang sama selaku pihak bertanggung jawab di Masjid Agung namun tetap tidak berubah.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved