KUPI BEUNGOH

Masjid Ideal itu Bernama Al Makmur

ketika pelaksanaan qiyamul lail dari pukul 03.00 sampai pukul 04.00, jamaah masih terus membludak, tidak ada shaf lantai satu yang kosong

Masjid Ideal itu Bernama Al Makmur
Teuku Zulkhairi 

JIKA anda pernah membayangkan bagaimana idealnya sebuah masjid, maka Masjid Al-Makmur Lampriek, Banda Aceh barangkali adalah salah satu yang sudah menuju ke arah tersebut.

Masjid ini mampu menghadirkan kenyamanan bagi jamaahnya, baik dari segi ketersediaan sarana dan prasarana, eksistensinya sebagai basis pembinaan masyarakat, maupun pada penyediaan imam-imam hafizh, dan jikapun ada yang bukan hafizh maka tetap memiliki suara merdu.

Adanya kenyamanan sarana dan prasarana, seperti ambal lembut yang memenuhi seluruh ruang mesjid lantai satu, plus ditambah dengan inovasi pengelolaan lainnya seperti i’tikaf di 10 akhir Ramadhan, membuatnya mampu menyedot jamaah yang cukup membludak. Siapa yang pernah shalat di mesjid ini, pasti akan rindu untuk kembali lagi. (BACA: Berburu Malam Seribu Bulan di Masjid Oman).

Dari sini, saya menyimpulkan, pada dasarnya kemakmuran sebuah mesjid sangat tergantung bagaimana ia dikelola. Bagaimanapun, masyarakat selalu membutuhkan peningkatan atau sentuhan-sentuhan spiritual – religus. Dan kebutuhan semacam ini setidaknya bisa didapati dengan hadirnya kenyamanan, ketenangan saat melaksanakan ibadah wajiab harian mereka.

Apalagi di kota, dimana warganya senantiasa padat dengan rutinitas kesibukan kantoran dengan segenap persoalan-persoalannya yang melelahkan sehingga membuat kebutuhannya akan aspek sentuhan spiritualitas menjadi sangat besar.

Keberhasilan pengelolaan Masjid Al-Makmur, membuat Ramadhan kali ini, hingga hari-hari menjelang Ramadhan pergi, jamaah di masjid ini masih terus membludak, spektakuler bukan?.

Mungkin betul-betul seperti namanya, Al-Makmur, masjid ini telah menjadi seperti yang dimimpikan oleh yang memberinya nama, yang saya yakini terkait dengan visinya me-Makmur-kan masjid ini. 

Aura Kebangkitan Islam
Pada waktu pelaksanan ibadah I’tikaf, di masjid ini kita akan melihat jamaahnya datang dari berbagai latar belakang, semuanya berlomba-lomba menuju kebaikan, tilawah Alqur’an, bersedakah hingga qiyamul lail. Dalam catatan saya, selain masyarakat umumnya, sejumlah politisi , aktivis dan para pejabat juga senantiasa hadir. Bahkan bukan hanya itu, jamaah yang hadir pun terdiri dari berbagai usia, dari anak kecil, sampai orang tua.

Ketika di masjid ini kita melihat anak-anak ikut orang tua mereka tilawah Alqur’an dan juga melakukan qiyamul lail, saya berfikir, (insya Allah) kita telah terhindar dari apa yang ditakuti Sultan Muhammad Alfatih ketika ia memberi wasiat:

“Jika suatu masa Kalian tidak mendengar bunyi gelak tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf-shaf di antara shaf-shaf Shalat di mesjid-mesjid, maka sesungguhnya takutilah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu”.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved