Ramadhan Mubarak

Merajut Ukhuwah Islamiyah

SAAT ini masih kerap terdengar konflik antarsesama kita, di mana kita saling mencaci, menghujat

Merajut Ukhuwah Islamiyah

Oleh Dr. Zulkarnain Jalil, S.Si, M.Si Wakil Dekan III Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Syiah Kuala.

SAAT ini masih kerap terdengar konflik antarsesama kita, di mana kita saling mencaci, menghujat dan menghina hanya karena jumlah rakaat shalat Tarawih, persoalan qunut, dan berbagai macam masalah-masalah khilafiah lainnya. Bahkan kini, kerap pula terjadi konflik karena perbedaan kelompok pengajian, bendera partai, atau pun ustaz. Ada orang yang sampai dikucilkan oleh kawan-kawannya sesama jamaah hanya karena ia mengaji pada ustaz yang tidak sepaham dengan ustaz mereka.

Sering juga kita dengar seseorang mendapat fitnah dari sesama aktivis muslim hanya karena yang bersangkutan lebih cenderung pada partai tertentu, yang berbeda dengan kawan-kawannya. Ukhuwah di antara kita pun mulai rusak perlahan. Padahal menjaga ukhuwah islamiyah hukumnya wajib.

Saudaraku, sadarkah kita bahwa menerima ukhuwah berarti juga harus menerima segala perbedaan? Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki. Bersatu bukan berarti harus seragam.

Mahabbah (kecintaan)
Unsur pokok dalam ukhuwah adalah mahabbah (kecintaan). Ada beberapa tingkatan kecintaan yang diharapkan hadir dalam hati setiap insan yang mengharapkan terbentuknya ukhuwah secara sempurna. Tingkatan terendah adalah salamus shadr (bersih jiwa) dari perasaan hasud, dengki, iri hati, dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Sedangkan tingkatan kecintaan tertinggi adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan dirinya sendiri dalam segala sesuatu yang ia cintai.

Dalam sejarah para sahabat Nabi Muhammad saw ada banyak kisah tentang aplikasi ukhuwah ini. Seperti dikisahkan dalam sebuah peperangan, di mana dalam keadaan sekarat dan kehausan seorang sahabat Nabi masih mendahulukan saudaranya yang lain untuk menerima air minum.

Firman Allah Swt: Dan berpegang teguhlah pada tali Allah kamu semua, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah ketika dahulu kamu bermusuhan, maka Allah menjinakkan di antara hatimu, lalu menjadikan kamu orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran: 103).

Jadi, jelas sekali keterangan dari Allah ini, yang menyentuh perasaan yang paling dalam, yakni penyatuan hati. Karena persaudaraan tidak mungkin bisa diwujudkan sebelum hati masing-masing berdamai.

Konsep menyelesaikan perbedaan pendapat pun sebenarnya sudah jelas, dan sudah sejak lama dirumuskan. Persoalannya hanyalah, mau atau tidak. Bagaimana kita bisa menempatkan orang lain secara proporsional, tentunya menuntut kearifan tertentu sekaligus pemahaman terhadap ruh agama ini.

Kita memang harus tahu hal-hal pokok yang tak boleh disalahi menyangkut akidah dan keimanan. Selama akidahnya masih benar, maka pantaslah seseorang diperlakukan sebagai saudara dalam arti sesungguhnya. Kearifan juga merupakan ciri tersendiri dari sosok seorang muslim, yang menyangkut pengikisan rasa superior, ingin dipuji, bangga diri, dan sebangsanya.

Ayat-ayat awal Alquran yang turun di Mekkah, berkisar pada pengikisan rasa sombong, bagi siapa saja yang ingin mengikuti ajakan Nabi Muhammad saw. Mungkin perselisihan yang banyak sekali terjadi saat ini karena umat Islam tidak memulai keislamannya dengan menghilangkan berbagai kesombongan dari dirinya.

Maka agar ruh ukhuwah tetap kokoh kita musti bersungguh-sungguh menata kalbu yang bening dan bersih. Karena, kalbu yang dipenuhi sifat iri, dengki, hasud, dan buruk sangka, dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang justru dapat merusak ukhuwah. Bila di antara sesama muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling iri, dan saling mendengki, bagaimana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah?

Karena itu, sepatutnya kita rajut kembali ukhuwah dengan semangat keikhlasan dan tentu saja dorongan iman. Saudara-saudara kita bukanlah semata yang ada dalam kelompok kita. Mereka yang berada di luar sana; baik yang belum sadar untuk kembali ke jalan Allah ataupun yang tengah meniti ridha Allah pada jalur yang berlainan, adalah juga saudara dalam keimanan dan perjuangan. Wallahu a’lam bishawab. (email: zjalil@unsyiah.ac.id)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help