Ramadhan Mubarak

Idul Fitri, Kemenangan Menuju Transformasi Diri

MANUSIA adalah makhluk spiritual yang memiliki tubuh fisik (jasad). Hingga kematiannya

Idul Fitri, Kemenangan Menuju Transformasi Diri

Oleh Bulman Satar Antropolog

MANUSIA adalah makhluk spiritual yang memiliki tubuh fisik (jasad). Hingga kematiannya, manusia akan selalu terikat dengan dorongan dan hasrat-hasrat jasmaniahnya. Co-exsistence ruhaniah-jasmaniah ini sendiri mengandung dua potensi yang saling bertarung sepanjang eksistensi kehidupan setiap individu manusia: dalam oposisi biner pahala dan dosa, antara perilaku baik dan buruk, antara yang haq dan bathil, antara takwa dan ingkar, antara positif dan negatif, antara menjadi “malaikat” yang merepresentasikan segala kesucian dan kebaikan, atau menjadi “setan” yang merepresentasikan segala kejahatan dan nafsu rendah hewaniah.

Manusia adalah makhluk bipotensi atau bikualitas. Pertarungan antara keduanya untuk kemudian menjadi pemenang. Inilah makna sekaligus panggilan eksistensial manusia di muka bumi.

Secara ontologis, ini memberi makna bahwa seseorang tidak sepenuhnya bisa disebut sebagai manusia hanya dari pengertian biologis yang memang sudah ada sejak ia lahir ke dunia. Menjadi manusia dalam makna sejatinya sesungguhnya adalah sebuah proses evolutif, perjuangan seumur hidup (long-life struggle). Manusia niscaya terombang-ambing di antara dualitas yang inherent, melekat, dan saling tarik-menarik dalam dirinya, antara kuasa baik dan kuasa buruk/jahat. Ketika kuasa baik yang dominan, maka manusia mampu mengaktualisasikan segala potensi kebaikan yang ia miliki dan menebarkannya sebagai rahmat kepada manusia-manusia lain. Namun, pada saat yang lain tak jarang manusia tergelincir, dikendalikan oleh insting rendah jasmaninya (nafsu) yang tidak hanya meruntuhkan derajat kemanusiaanya sendiri, tapi juga menimbulkan prahara dan kerusakan bagi manusia-manusia lain.

Islam hadir untuk memelihara dan meninggikan derajat kemanusiaan. Namun, ketinggian derajat itu sendiri tidaklah bersifat given, melainkan harus diperjuangkan, diikhtiarkan oleh setiap manusia sepanjang hidupnya, baik pada level individu maupun sosial (masyarakat). Untuk menapaki perjuangan ini, Islam telah memberi arah dan pemahaman fundamental bagi manusia melalui firman Allah dalam Alquran, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami (Allah) kembalikan manusia ke kondisi paling rendah, kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh...” (QS. Attin: 4-6).

Firman Allah ini mengisyaratkan dualitas potensi, keniscayaan, dan kemungkinan kemanusiaan kita serta segala konsekuensi tak terelakkan atas pilihan yang kita ambil. Jadi, menjadi manusia yang beriman atau ingkar sesungguhnya adalah sebuah pilihan. Manusia bisa memilih menjadi takwa sebagaimana ia juga bisa memilih menjadi ingkar, serta menerima segala konsekuensi baik positif maupun negatif atas pilihan-pilihan tersebut. Ini sejalan dengan hukum keadilan Tuhan sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mau mengubahnya.” (QS. Arra’d: 11).

Allah Swt memberkati manusia dengan kehendak bebas untuk menentukan dan mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang diambilnya dengan maksud agar manusia dapat mengambil hikmah dan memetik pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya, dari setiap kesalahan, silap, dan alpa yang ia lakukan. Inilah “pembelajaran mulia kehidupan” yang tak lain adalah koridor evolusi untuk menjadi manusia sempurna (insan kamil) di atas dunia.

Lalu bagaimana caranya agar pilihan-pilihan itu bisa menjadi sebaik-baiknya pilihan dan mampu membawa manusia kepada kesuciannya yang asasi? Jawabannya adalah dengan dan melalui latihan pengendalian diri, berpuasa. Berpuasa pada hakikatnya mengandung dua sisi yang simultan, yakni untuk mengendalikan diri dari impuls-impuls rendah jasmaniah sekaligus menjadi stimulan untuk mengasah kepekaan dan kesadaran agar manusia dapat menangkap dan memahami makna terdalam dari setiap realitas kehidupannya. Kepekaan ini akan membantu memberikan manusia pemahaman yang benar akan tujuan eksistensial keberadaannya. Pemahaman yang benar akan membantu manusia mencapai kedewasaan dan kematangan spiritual. Kedewasaan dan kematangan spiritual ini pada tingkat lanjut akan mengangkat manusia bertransformasi mencapai kesadaran tertingginya sebagai manusia.

Argumen fundamental
Jadi, berpuasa dapat kita metaforakan sebagai “ajang pertempuran” manusia mengalahkan dirinya, untuk berproses dan bertransformasi menjadi manusia yang lebih sadar, lebih baik dan sempurna. Islam sangat concern dengan tujuan ini. Untuk mencapainya, melalui ibadah puasa Islam membimbing dan memandu kita agar menjadi sebaik-baik kaum, sebaik-baik umat, untuk menjadi rahmat bagi kemanusian, bagi semesta alam. Inilah argumentasi fundamental kenapa puasa menjadi rukun Islam yang ketiga; untuk memanusiakan manusia, untuk mencapai derajat kemanusiaannya yang tertinggi.

“Pertempuran” sekaligus pembelajaran inilah yang telah kita lakoni selama sebulan penuh. Kini kita menyongsong momentum hari kemenangan, Idul Fitri. Idul Fitri bermakna kembali pada kesucian, ke fitrah kemanusiaan kita yang asasi. Ia adalah simbol pencapaian puncak umat muslim setelah sebulan penuh berjuang melatih dan menempa diri dari segala pengaruh nafsu dan hasrat-hasrat rendah jasmaniahnya.

Kenapa kita harus melakoni siklus ibadah ini setiap tahun? Karena kesadaran kita senantiasa naik-turun. Metafor “ajang pertempuran” dan “hari kemenangan” dari puasa bulan Ramadhan dengan segala praktik dan keutamaan ibadah individual dan sosial yang dianjurkan selama bulan suci tersebut, dan hari raya Idul Fitri dengan kumandang takbir sebagai manifestasi kebahagiaan atas kemenangan yang telah kita raih, sesungguhnya bukanlah sekadar ritual tahunan as usual, tapi adalah praktik, amalan yang sarat dengan makna filosofis. Ia memiliki tujuan hakiki sebagai “peringatan yang simultan dan kontinyu” agar kita manusia tetap konsisten dan on the track, stabil berada dalam garis evolusi kesadarannya agar mampu mengemban amanah Ilahi menjadi kalifah di muka bumi.

Dibarengi semangat silaturahmi dan doa minal aizin wal faizin, semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitrah) dan meraih kemenangan. Idul Fitri mengusung semangat kesatuan umat manusia melalui mutual respect yang tercermin dari tradisi memberi dan menerima maaf. Frase “mohon maaf lahir dan batin” yang senantiasa kita ucapkan tidak lain merefleksikan makna Idul Fitri sebagai medium yang menghubungkan kemanusiaan kita semua.

Jadi, Idul Fitri adalah simbol dari pencapaian puncak kesadaran manusia. Dengan demikian, Idul Fitri sejatinya adalah selebrasi yang “mengarah ke dalam”, yang kontemplatif, syahdu dan dipenuhi rasa syukur atas berkat pembelajaran dan nikmat iman-spiritual yang telah kita raih. Karena itu, sungguh mulia jika Hari Raya Idul Fitri ini bisa kita jadikan sebagai momentum kemenangan menuju transformasi diri maraih kualitas tertinggi kita sebagai manusia, yang mulia dan mampu membawa rahmat bagi semesta Alam. Insya Allah. (email: abul_03@yahoo.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help