KUPI BEUNGOH

Meugang, Antara Marwah Lakoe Dan Meutuah Binoe

meugang dalam tradisi masyarakat Aceh memang berada pada dua posisi sakral, yaitu marwah suami dan kesalehan istri

Meugang, Antara Marwah Lakoe Dan Meutuah Binoe
Zarkasyi Yusuf 

BERBICARA meugang, tentu tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Pesta penyembelihan massal binatang ternak (lembu, kambing, kerbau, ayam dan bebek) menjelang ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Hiruk pikuk pada hari meugang menunjukkan betapa bermaknanya meugang dalam masyarakat. Saya menyaksikan sendiri kemeriahan ini saat melaksanakan mudik di Krueng Geukuh (Dewantara).

Selasa, 5 Juli 2016, Pagi itu usai shalat subuh saya menyempatkan diri berkeliling keudee Krueng Geukuh, lapangan sepak bola Dewantara meriah dengan lapak lapak penjual daging ditambah hilir mudik kenderaan menuju arena penjualan daging, kemeriahan itu ditambah dengan semangatnya tukang parkir yang selalu berteriak, “parkir, parkir, parkir bang”.

Saya melihat senyum cerah dari wajah mereka yang datang ke lokasi. Ini hanya gambaran dari kemeriahan meugang dalam masyarakat Aceh.

Singkatnya, meugang begitu berharga, mereka tidak peduli harga daging mahal, mereka tidak mau ambil pusing dengan pertumbuhan ekonomi yang kacau balau, yang penting hari meugang sanggup membawa pulang daging untuk dinikmati.

Tradisi beli daging pada hari meugang tentu memiliki kebiasaan sendiri pada masing-masing tempat.

Sebahagian daerah, untuk para pengantin baru harus membawa pulang kepala lembu atau kerbau, ada lagi disamping membeli daging harus pula mendampinginya dengan membeli ikan bandeng, ada pula yang harus membeli paha, tentu masih banyak ragamnya.

Tiba hari meugang, kantong harus dirogoh untuk membeli daging, jika tidak membawa pulang daging ke rumah tentu menjadi celaan besar bagi para suami, apalagi masih berstatus sebagai linto baroe, meugang adalah marwahnya suami.

Sebelum tiba hari meugang para suami harus mendapatkan sejumlah uang untuk bekal membeli daging, Alhamdulillah bagi mereka yang memiliki kemudahan rizki, lalu bagaimana dengan yang tidak mampu (miskin).

Saya masih teringat, suatu masa al marhum Ayah saya berhutang untuk membeli daging, pembayarannya dilakukan ketika musim panen tiba.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved