KUPI BEUNGOH

Soal Masjid Agung Meulaboh, Apresiasi untuk Mustafa Husein Woyla

saran dan kritikan MHW sebagai warga Aceh Barat yang cinta terhadap Masjid Agung untuk lebih baik dan indah

Soal Masjid Agung Meulaboh, Apresiasi untuk Mustafa Husein Woyla
MUKHSINUDDIN 

MEMBACA tulisan Mustafa Husein Woyla (MHW) di Rubrik Kupi Beungoh Serambinews.com , edisi Minggu, 3 Juli 2016 berjudul  “Menyingkirkan Anak di Masjid Agung Meulaboh”, saya sangat terkesan.

Tulisan ini juga memberikan inspirasi kontruktif bagi pengurus Masjid Agung yang akan datang dalam mengurus sebuah Masjid Agung Kabupaten. [BACA: Menyingkirkan Anak dari Masjid Agung Meulaboh]

MHW menyoroti bagaimana mengatur shaf anak-anak itu dengan baik dan teratur, tidak disingkirkan di teras masjid dalam shalat jamaah.

Memang banyak hadits yang menganjurkan dalam persolan shaf shalat berjamaah, kalau kita baca bahwa shaf yang di depan adalah shaf orang dewasa, kemudian baru anak laki-laki , lalu shaf anak perempuan dan kemudian baru shaf orang perempuan dewasa.

Tapi dalam satu riwayat Abdullah bin Syaddad meriwayatkan bahwa ayahnya berkata, "Rasulullah SAW menemui kami saat hendak mengerjakan salah satu shalat malam (yaitu Magrib atau Isya) sambil membawa Hasan atau Husain. Rasulullah SAW maju dan meletakkan cucunya tersebut lalu mengucapkan takbiratul-ihram dan memulai shalat. Di tengah salat, beliau sujud cukup lama.

Ayahku berkata: Maka aku mengangkat kepala lalu tampaklah cucunya yang masih kecil itu sedang bermain di atas punggungnya, sedangkan ia tetap sujud. Maka aku pun sujud kembali. Setelah selesai shalat, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, engkau sujud terlalu lama di tengah-tengah shalat tadi sehingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau engkau sedang menerima wahyu. Rasulullah SAW bersabda: Semua dugaan kalian tidaklah terjadi. Akan tetapi cucuku ini sedang naik ke belakangku seperti sedang menunggang kendaraan. Aku tidak ingin menyudahinya sampai dia benar-benar berhenti sendiri. (HR. Nasai).
Kita memahami hadits tersebut yang di sampaikan oleh Rasul dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Nabi membawa anak kecil dalam salat. Nabi membiarkan anak kecil bermain di dalam salat berjamaah sampai anak itu memanjat punggung beliau.

2. Nabi tidak mengusir anak kecil ke belakang. Nabi tidak hanya membawa anak kecil ke dalam shaf orang dewasa bahkan nabi bawa sampai ke tempat imam.

3. Membawa anak kecil di dalam shaf orang dewasa adalah sesuatu yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Tetapi menghalau/mengusir anak-anak ke shaf paling belakang bukanlah termasuk sunah.

4. Sepatutnya orang dewasa mendukung anak-anak kecil yang tengah belajar salat berjamah. Anak-anak seharusnya salat di sisi orang tua sehingga orang tua dapat mengajar dan mendisiplinkan anak-anak tentang salat berjamaah.

Halaman
12
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved