KUPI BEUNGOH

Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh

Seorang yang tidak mengetahui perkembangan terkini di masanya, maka ia bagai orang yang hidup di alam kegelapan.

Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh
GOOGLE+
Muhammad Iqbal M. Gade 

GENERASI ideal merupakan harapan setiap umat. Tidak terkecuali bagi kita yang tinggal di daerah istimewa, Aceh. Negeri yang pernah dikagumi dunia lewat kemasyhuran dan keharuman peradabannya di masa lalu ini telah menjadikan generasi ideal sebagai batu loncatan kejayaan pada masanya.

Sebagai bagian dari masyarakat Aceh, kita patut berbangga oleh torehan sejarah yang pernah diukir generasi terdahulu. Namun, perasaan bangga saja tidak cukup untuk sekedar mewujudkan generasi ideal, alih-alih mengembalikan kejayaan bangsa.

Masyarakat Aceh kiranya perlu mengidentifikasi perihal apa saja yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kembali generasi impian tersebut. Dalam hal ini, masyarakat Aceh sangat diuntungkan karena dapat langsung bercermin pada kegemilangan yang pernah ditorehkan oleh nenek moyang zaman dulu.

Muhammad Fethullah Gulen, seorang ulama intelektual kontemporer Turki penerima Gandhi King Ikeda Peace Award 2015 yang sekarang bermukim di Pennsylvania, AS menjabarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan generasi ideal.

Menurutnya sebuah generasi akan terbentuk menjadi generasi ideal bila nilai dan posisinya berkorelasi dan koheren dengan nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih lanjut Gulen menguraikan bahwa generasi tersebut adalah generasi yang menjadikan dakwah sebagai tujuan hidupnya secara ikhlas, selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya sehingga menjadi generasi yang cerdas, selalu berupaya menjadi teladan umat dan rela berkorban, rendah hati dan selalu menjaga empati dengan umat, mengedepankan rasa kasih sayang, mengedepankan toleransi, memiliki sikap optimis sebagai bentuk penerapan keimanan terhadap qadar, dan terakhir memiliki kemauan dan kehendak (al-Iradat) sesuai dengan pandangan i’tibar.

Mengacu pada uraian Gulen di atas, bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat Aceh sekarang, maka rasanya telah jauh beranjak dari cerminan generasi ideal. Berbagai macam bentuk dekadensi moral terus saja menghantui masyarakat Aceh sekarang, terutama kalangan anak muda. Padahal pemuda adalah aset kejayaan sebuah bangsa.

Bayangkan saja bagaimana Aceh yang pernah jaya dengan keluhuran moral dan etika generasi terdahulu dititipkan kepada generasi yang hanya bisa membanggakan nenek moyangnya, tanpa bisa berbuat banyak untuk sekedar mencontoh apa yang mereka torehkan. Terlebih lagi bila al-Qur’an dan Sunnah sudah ditinggalkan, maka yang terjadi adalah kerusakan moral yang berujung malapetaka.

Tentunya kita tidak menginginkan itu terjadi kepada bangsa besar seperti kita. Karena kita sadar bahwa saat ini kita sedang memegang amanah untuk meneruskan kejayaan. Jika tidak demikian, maka gelar pengkhianat patut kita sandang. Naudzubillah!
Namun kita masih punya harapan, yang menepis anggapan bahwa capaian generasi ideal adalah utopia belaka. Usaha demi usaha untuk mewujudkan kembali generasi idaman seperti yang telah ditorehkan nenek moyang dulu terus dilakukan.

Salah satunya yang muncul ke permukaan adalah wacana Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal beberapa waktu lalu yang mengajak semua elemen masyarakat Kota Banda Aceh untuk melahirkan generasi Qur’ani, generasi ideal harapan kejayaan Aceh ke depan. Dalam sambutannya beliau menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Qur’ani sejak usia dini sehingga mereka bisa menyatu dengan al-Qur’an. Tentunya komitmen seperti ini patut diapresiasi dan didukung untuk kemudian diikuti dan dijalankan oleh daerah-daerah lain di Aceh.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved