Opini

‘Pokemon Go’ dan Ancaman Terorisme-Radikalisme

DUNIA belakangan ini sedang heboh oleh aplikasi game online Pokemon Go. Polemik muncul di kalangan publik

DUNIA belakangan ini sedang heboh oleh aplikasi game online Pokemon Go. Polemik muncul di kalangan publik, bahkan hingga dikaji BIN dan instansi pemerintah lainnya. Ada pro dan kontra hingga melakukan pelarangan.

Game ini dilaporkan sudah masuk di hampir seluruh negara. Game Pokemon Go berbasis aplikasi geospasial dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kunjungan wisata. Efek negatifnya dan sudah terjadi di beberapa tempat adalah rawan kecelakaan. Selain itu seperti efek game lain yaitu mengurangi produktivitas hingga melecehkan tempat suci seperti masjid.

Hukum asal hiburan termasuk game adalah mubah (boleh). Islam adalah agama fitrah, yaitu sangat mengerti fitrah manusia yang dapat mengalami kejenuhan. Namun, hal yang mubah tidak boleh sampai mengalahkan yang wajib. Artinya, bermain Pokemon Go boleh saja asalkan tidak mengganggu ibadah dan memiliki mudharat lain. Allah Swt berfirman, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. al-Ma’un: 4-5).

 Penting diperhartikan
Islam merupakan agama fitrah. Manusia secara fitrah membutuhkan hiburan, sehingga Islam turut memperhatikannya. Salah satunya adalah permainan atau game. Sejak zaman Nabi saw telah ada permainan berbentuk olahraga gulat, lomba lari, pacuan kuda, panahan, dan lainnya. Rasulullah saw permah mengadakan lomba dengan pemberian hadiah kepada pemenang, dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat sebelum masuk ke medan jihad.

Permainan dalam Islam memiliki batasan yang penting diperhatikan. Syaikh Dr Yusuf Al-Qardhawi mengungkapkan adanya permainan yang dilarang; Pertama, yang membahayakan padahal bukan darurat; Kedua, dilakukan dengan mempertontonkan aurat; Ketiga, permainan yang mengandung unsur sihir, penipuan, pelibatan hewan, keberuntungan, judi, pelecehan atau menertawakan manusianya, dan; Keempat, dilakukan berlebih-lebihan, sehingga melalikan urusan lain atau jadi boros.

Bermain Pokemon Go sering dilakukan bersama-sama atau dalam komunitas. Di antara kegiatan bermain kadang diselingi hiburan lain, misalnya musik, humor, dan lainnya. Abu Al Fath Al Basaty mengingatkan dalam sajaknya, “Jika engkau beri dia canda, hendaklah dengan kadar seperti engkau memberi garam pada makanan.”

Bercanda dalam tuntunan Islam juga memiliki batasan. Antara lain tiada kata dusta, sedang sedang saja, tidak dengan iseng, jangan ada penghinaan dan ghibah, serta tidak mengolok-olok Alquran dan As Sunnah.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yangg menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. al-Mu’minun: 1-3). Dalam ayat lain, Allah Swt menegaskan bahwa mencari kesalahan dan menggunjing orang lain diibaratkan makan daging saudaranya yang sudah mati. (QS. al-Hujurat: 12).

Nabi saw bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berbohong untuk membuat orang-orang tertawa dengan cerita bohongnya itu.” Sabdanya lagi, “Jangan engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tetawa itu mematikan hati.” Selanjutnya Rasulullah saw juga bersabda, “Janganlah seseorang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan mudharat (kerugian) bagi dirinya dan orang lain.”  

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membeberkan bahwa aplikasi permainan Pokemon Go bisa dimanfaatkan untuk kepentingan terorisme dan radikalisme. Pelajaran berharga dapat dipetik dari kasus teror Paris baru saja. Pelaku teror di Prancis berkomunikasi melalui fitur chating atau obrolan yang tersedia dalam aplikasi game, sehingga kurang termonitor (Kadir, 2016).

BIN juga mengkhawatirkan penggunaan kamera secara real time akan memunculkan muncul risiko keamanan jika dimainkan di kantor dan instalasi strategis. Anggota TNI dan Polri sudah disarankan tidak memainkannya dalam kesatrian militer/mess/komplek militer.

 Rentan dimanfaatkan
Kerentanan juga dapat timbul dari pola real location yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Aplikasi Pokemon Go rentan dimanfaatkan sebagai mekanisme penjejak oleh sistem aximuth rocket launcher (Hassanudin, 2016).

Satu kaidah fikih menyebutkan bahwa “tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan” dan “sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya”. Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kamu membahayakan yaitu engkau merugikan orang yang tidak merugikan kamu (Santros, 2014).

Game Pokomen Go penting disikapi secara bijak. Langkah penyikapan, antisipasi, serta mitigasi dampaknya juga perlu dilakukan secara proporsional dan profesional. Masyarakat mesti diberi pemahaman dan diarahkan agar cerdas melihat fenomena booming. Saatnya bangsa ini menjadi produsen tidak sekadar konsumen. Produksi game-game lokal yang berkarakter Nusantara, aman, tetapi cangggih dan menarik mesti diperbanyak.

Peran orang tua dan sekolah cukup vital, karena anak dan remaja menjadi kelompok yang diprediksi mendominasi pengguna aplikasi. Ketegasan, pengawasan, dan pengarahan penting dioptimalkan. Aparat keamanan juga penting waspada dan tidak justru terjebak dalam euforia. Antisipasi mesti sejak dini dan peta jalan mesti disiapkan guna mitigasi dampak terhadap keamanan negara dan gangguan terkait terorisme dan radikalisme. Sebaliknya dapat memanfaatkan aplikasi semacam ini guna mengendus dan memberantas pelaku terorisme dan  radikalisme.
    
Ribut Lupiyanto, peneliti di UII-Yogyakarta; Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration). Email: lupy.algiri@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved