Citizen Reporter

Anak-anak Aceh Belajar Quran di Norwegia

DALAM kegiatan safari dakwah ke Eropa, saya mengisi undangan zikir dan dakwah ke Norwegia

Anak-anak Aceh Belajar Quran di Norwegia

OLEH ABDUL RAZAQ RIDHWAN, Pembina Majelis Zikir Kota Langa dan Pengajar di Dayah Raudhatun Najah Kota Langsa, melaporkan dari Stavanger, Norwegia

DALAM kegiatan safari dakwah ke Eropa, saya mengisi undangan zikir dan dakwah ke Norwegia bersama warga Aceh yang sudah lama menetap di sini, tepatnya di Kota Stavanger. Sebelumnya saya sudah berada di Denmark dalam kegiatan safari dakwah selama tiga minggu. Acaranya diinisiasi oleh World Achehnese Assosiation (WAA) yang bekerja sama dengan Majelis Zikir Kota Langsa (Mazka). Banyak pengalaman, ilmu, dan inspirasi ketika saya berada sepuluh hari di negara dalam kawasan Skandinavia ini.

Norwegia merupakan salah satu negara yang membuat saya terpesona dengan keindahan alamnya. Di negara ini banyak bukit dan pegunungan yang sangat indah.

Norwegia terletak di bagian barat Semenanjung Skandinavia. Membentang sekitar 1.100 mil (1.770 km) dari Laut Utara. Hampir 70% dari negara ini ditutupi pegunungan, gletser, fjord (semacam teluk yang berasal dari lelehan gletser atau glaciar, tumpukan es yang sangat tebal dan berat), serta sungai, sehingga membuat para turis banyak memilih Norwegia sebagai tempat berwisata.

Di negara yang hampir tak memiliki penganggur ini, sektor perminyakannya berkembang pesat. Ini membuat warganya memperoleh bayaran lebih tinggi dari yang seharusnya. Gaji tenaga kerja di sektor industri Norwegia berjumlah 70% lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Pola pembayaran seperti ini melemahkan daya saing para eksportir di negara tersebut.

Masyarakat Aceh di Stavanger, di sela-sela kesibukan kerja mereka di akhir minggu rutin mengadakan pengajian kitab kuning dan anak-anak aktif belajar Alquran. Demikian juga tradisi masak-memasak, setiap rumah yang kami kunjungi, semua menyediakan masakan khas Aceh.

Hal lain yang menyenangkan, di negara ini lautnya banyak menghasilkan ikan. Setiap musim panas, hampir semua keluarga Aceh di sini meluangkan waktu untuk memancing di laut dan mendapatkan ikan mackerel sejenis tuna, lalu dimasak pakai sambal lado atau diolah jadi masakan khas Aceh lainnya. Hmmm, asyiknya bukan main.

Di Kota Stavanger saya dan rombongan berkunjung ke suatu tempat yang terdapat satu bangunan semimodern dengan sebuah menara di sebelahnya. Bila dilihat lebih dekat, ini adalah replika dari instalasi perminyakan. Bangunan ini adalah Museum Minyak Norwegia yang dibangun di akhir 1990. Tujuannya untuk menceritakan kepada publik tentang sumber daya negara ini yang sangat penting. Museum ini memiliki banyak koleksi menarik terkait teknologi pengeboran minyak bawah laut.

Pemerintah juga mewajibkan kepada setiap pelajar mengunjungi museum tersebut agar para generasi tidak melupakan bagaimana perjuangan nenek moyang mereka dulunya.

Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan ketika berada di museum tersebut. Di antaranya ialah bagaimana mereka sukses mengelola potensi minyaknya untuk kesejahteraan rakyatnya. Semua itu bermula di sebuah kota pelabuhan di laut utara, Stavanger, pusat industri minyak lepas pantai Norwegia.

Sebelum ditemukan minyak, Stavanger adalah kota nelayan yang tekenal dengan ikan herring-nya, sampai pada tahun 1870 krisis melanda kota ini. Dengan hanya mengandalkan kapal-kapal kayu dan pertanian, kota ini jauh tertinggal dibanding para tetangganya yang sudah memasuki ekonomi industri.

Tapi minyak kemudian mengubah segalanya. Tahun 1960, standar kehidupan di Norwegia 30 sampai 40 persen lebih rendah dari Swedia ataupun Denmark. Tapi sekarang, standar kehidupan di sini lebih tinggi dari kedua negara tetangganya itu. Sungguh pencapaian ekonomi yang sangat luar biasa. Besarnya kekayaan minyak di Stavanger bisa dilihat dari populasi penduduk yang hanya 90.000 jiwa pada tahun 1960 meningkat jadi 204.000 ribu jiwa sekarang. Kapal kapal besar yang tertambat di pelabuhan, 70 instalasi pengeboran minyak beroperasi dari ujung selatan sampai ujung utara, 10.000 mahasiswa baru Universitas Stavanger, aula konser, museum, dan sebuah greenhouse luas di mana tomat segar terus berbuah walaupun di musim dingin, adalah bukti betapa kayanya kota ini.

Sekarang Norwegia menjadi negara pengekspor minyak terbesar kelima di dunia. Dengan pendapatan tahunan sekitar 40 miliar dolar, negara menciptakan program-program kesejahteraan rakyat seperti penyediaan lapangan pekerjaan, membantu memudahkan rakyat dalam segala usaha, dan memberikan jaminan kesehatan dan sosial kepada rakyatnya. Di antara rakyatnya itu ada yang keturunan Aceh dan mereka hingga kini betah menetap di Norwegia, negeri yang rakyatnya sejahtera karena minyak.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved