Opini

ASI Eksklusif

SATU fakta memprihatinkan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 diketahui bahwa angka cakupan pemberian air susu ibu (ASI) pada 24 jam pertama

Oleh Tristia Rinanda

SATU fakta memprihatinkan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 diketahui bahwa angka cakupan pemberian air susu ibu (ASI) pada 24 jam pertama, hingga 6 bulan awal kehidupan di Indonesia hanya mencapai rata-rata 30,2%. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan 2010 dimana angka cakupan hanya mencapai 15,3%. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menduduki peringkat pertama dengan angka cakupan mencapai 52,9% dan Papua Barat terendah (21,7%). Bagaimana Aceh? Berdasarkan sumber data dari katagori yang sama, Aceh menempati posisi ke-7 dengan cakupan pemberian ASI 39,7%, di bawah DKI Jakarta dengan cakupan 41,9%.

Data di atas menimbulkan pertanyaan, mengapa masih banyak ibu yang tidak memberikan ASI, terutama ASI eksklusif kepada bayinya? Jawabannya tentu beragam dan sangat kompleks, mengapa ibu tidak menyusui bayinya. Tulisan ini tidak bermaksud membahas alasan mengapa para ibu tidak menyusui ataupun menghujat atau memojokkan para ibu yang tidak menyusui bayinya (selain karena alasan medis). Tulisan ini bertujuan untuk membagi informasi seputar ASI, terutama alasan-alasan mengapa ASI harus diberikan kepada bayi-bayi kita.

 Sumber nutrisi
Berikut adalah berbagai alasannya: Pertama, ASI adalah sumber nutrisi yang paling lengkap dan seimbang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ASI mengandung sekitar 100 ribu senyawa/konstituen yang berperan dalam pertumbuhan, perkembangan dan kekebalan tubuh (imunitas) bayi. ASI mengandung zat-zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karbohidrat pada ASI terdiri dari laktosa, yang akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase yang terdapat pada sistem pencernaan bayi. Glukosa dan galaktosa berperan penting dalam pengembangan otak dan sistem saraf. Kandungan protein pada ASI berbentuk whey, suatu molekul protein berukuran kecil yang mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi. Protein juga berperan dalam perkembangan sel-sel otak dan sistem kekebalan.

Lemak adalah komponen terbanyak penyusun ASI. Zat gizi ini dapat diserap dengan baik karena adanya enzim lipase pada sistem pencernaan. Uniknya komposisi lemak pada ASI akan berubah dan disesuaikan dengan usia dan kebutuhan bayi. Asam lemak yang terdapat dalam ASI berupa asam linolenat Omega 3, DHA, EPA dan asam linoleat Omega 6 yang kesemuanya sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak bayi. ASI juga mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhannya seperti Vitamin A, tiamin, riboflavin, vitamin C, vitamin D serta zat besi, fluor dan kalsium.

Kedua, ASI meningkatkan kekebalan terhadap penyakit infeksi. Setelah lebih kurang 9 bulan dalam kandungan ibunya, bayi lahir ke dunia dan harus menghadapi risiko tantangan berbagai infeksi, sedangkan sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang dengan baik. Pada masa ini, ASI cukup penting, melalui kandungan protein antibody Secretory Imunoglobulin A (SIgA) berperan menjaga kekebalan mukosa usus terhadap infeksi sebelum IgA dari tubuh bayi diproduksi pada usia 1 tahun. SIgA berperan dalam perlawanan terhadap mikroba yang berpotensi menyebabkan infeksi.

Selain itu di dalam ASI juga terkandung flora normal Lactobacillus bifidus yang mampu mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asam asetat sehingga kondisi saluran pencernaan menjadi asam. Kondisi asam ini mencegah kolonisasi dari bakteri Escherichia coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. Laktoferin (protein pengikat besi) dalam ASI juga berperan menghambat pertumbuhan E-coli dan jamur Candida.

Ketiga, ASI mencegah dan melindungi anak dari sejumlah penyakit
Berdasarkan berbagai hasil penelitian, ASI juga sangat berperan dalam melindungi bayi dari sejumlah penyakit lain, seperti asma, diabetes melitus tipe 2, alergi, multiple sclerosis, Penyakit Chron dan obesitas.Perlindungan atau pencegahan terhadap sebagian besar gangguan di atas terkait dengan peran ASI dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan bayi dengan berbagai kandungan di dalamnya. Keempat, ASI meningkatkan kecerdasan anak.

Kelima, menurut penelitian di Brazil oleh Dr Bernardo Lessa Horta terhadap 5.914 bayi yang diikuti pertumbuhan dan perkembangannya selama 30 tahun. Hasil menunjukkan bahwa bayi-bayi yang diberikan ASI memiliki IQ (Intelligence Quotient) 7,5 poin lebih tinggi di usia sekolah dasar (SD) serta memiliki IQ verbal, performa dan komprehensif yang lebih baik pada usia dewasa dibandingkan dengan yang tidak diberikan ASI. Hasil ini juga didukung oleh penelitian lain oleh Isaac dkk (2010) yang menunjukkan bahwa ASI meningkatkan total volume otak melalui pertumbuhan optimal dari jaringan otak yang terlihat jelas pada saat dewasa.

Keenam, ASI memberikan kenyamanan bagi anak. Anak-anak yang disusui oleh ibunya sejak saat pertama kelahirannya cenderun akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Hal ini disebabkan karena proses menyusui merupakan bentuk ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Dalam buku New Mother’s Guide to Breastfeeding disebutkan bahwa pelukan ibu pada saat menyusui memberikan kotinuitas kenyamanan yang dirasakan sejak di dalam kandungan. Tatapan kasih sayang ibu pada saat menyusui merupakan media penyampaian rasa cinta yang sangat efektif dan dimengerti oleh bayi, sehingga mereka merasa dicintai dan aman. Sensasi penuh cinta yang terjadi pada saat menyusui akan memberikan kenyamanan yang luar biasa bagi bayi, sehingga mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh kasih sayang.

 Hal yang mutlak
Berdasarkan penjelasan di atas, tidak bisa kita pungkiri bahwa memberikan ASI, terutama ASI eksklusif, bagi anak-anak kita adalah suatu hal yang mutlak. Dengan kata lain ASI adalah hak anak yang harus kita penuhi dengan baik dan penuh keikhlasan, sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya...” (QS. al-Baqarah: 233). Dalam surat ini juga disebutkan kewajiban seorang ayah untuk mencukup kebutuhan ibu dan bayi sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki.

Akhir-akhir ini membentuk “generasi emas” menjadi target dari berbagai program. Dengan kata lain saat ini telah ada kesadaran masyarakat bahwa negara yang kita cintai hendknya diwarisi dan dimandatkan pada generasi muda yang sehat, tangguh dan unggul di berbagai bidang. Oleh sebab itu sangat tepat apabila pencapaian di atas dimulai dengan pemberian ASI bagi anak-anak kita.

Sebagai informasi, saat ini sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) No.33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif. Peraturan ini mengatur mengenai pemjaminan pemenuhan hak bayi dan perlindungan terhadap ibu menyusui serta peran keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.

Air susu ibu memberikan banyak kebaikan, tidak hanya bagi anak, ibu dan keluarga, namun juga bagi masyarakat luas bahkan suatu negara dengan mendukung lahirnya generasi penerus yang tangguh. Oleh sebab itu, mari kita dukung pemberian ASI eksklusif bagi anak-anak kita!

dr. Tristia Rinanda, M.Si., staf pengajar Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh. Email: tristia.rinanda@unsyiah.ac.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved