KUPI BEUNGOH

Teungku Haji Mabrur

Bagaimana materialistisnya sudah kehidupan kita, mengejar titel haji menjadi simbol dan bentuk ambisi kita mengejar dunia.

Teungku Haji Mabrur
Azmi Abu Bakar 

JAUH sebelum kedatangan Rasulullah Saw, ritual ibadah haji telah berlangsung di Baitullah, Mekkah Al-Mukarramah. Kala itu ritual ibadah haji sebagai kesinambungan dari syariat Nabiyullah Ibrahim tak lagi dijalankan secara benar.

Mereka berhaji dengan penuh jahiliyah sambil menyembah patung latta, uzza dan manna. Tak salah ketika mereka mendapatkan titel haji, maka muncullah nama-nama Haji Abu Jahal, Abu Lahab dan kawan-kawan.

Kegemaran berperang antar suku, membunuh wanita, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan mencuri kemudian menambah sempurnalah laku kejahiliyahan akhlak dimaksud.

Rasulullah Saw kemudian hadir ditengah masyarakat jahiliyah ini, dengan membawa titah; Innama buitstu li utammima makarimal akhlak, tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak (Hadis Riwayat Ahmad) Dalam kurun waktu yang relatif singkat beliau mengubah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang Rabbani, mempersatukan suku-suku berdasarkan persaudaraan Islam. Sejarah mencatat bagaimana berhala–berhala yang terdapat disekeliling kakbah dimusnahkan tanpa sisa.

Ritual Haji menjadi penyempurna dari segala ibadah yang Allah wajibkan kepada hambanya. Dalam fiqih kata “mampu” yang menjadi syarat melaksanakan ibadah haji adalah mampu harta, fisik dan jiwa. Sehingga menjadikan ibadah haji tak hanya ibadah ruh semata, tetapi juga ibadah yang memerlukan fisik yang sehat karena kita akan bergumulan dengan berjuta orang di dalamnya.

Niat beribadah haji semata-mata hanyalah untuk memperoleh ridha dan kasih sayang Allah. Jika niat beribadah haji hanya untuk meraih titel maka Abu Jahal dan kawan-kawan juga telah meraih titel haji. Islam sangat mewanti-wanti jika saja muncul Haji Abu Jahal baru yang berhaji setiap tahun lalu pulang kampung kembali melakukan perbuatan-perbuatan paling jahal.

Ulama –ulama Aceh dahulu sepulangnya dari haji tak pernah menyandang titel dan mempersoalkannya. Apa yang terjadi di sekeliling kita adalah setelah pulang haji kita berkelahi dengan bawahan hanya karena kesalahan penulisan nama tanpa membubuhkan gelar haji.

Bagaimana materialistisnya sudah kehidupan kita, mengejar titel haji menjadi simbol dan bentuk ambisi kita mengejar dunia.

Kita telah melakukan kesalahan besar yang mematikan hati. Berapa banyak yang sudah bertitel haji tapi masih saja korupsi dan melakukan tindakan asusila. Kita masih belum memahami ibadah haji sebagai bentuk kesempurnaan rukun Islam.

Di negeri Timur Tengah budaya membubuhkan titel nyaris tidak ada, walaupun tak bisa kita nafikan masih banyak Haji Abu Jahal Arab yang menjadi pencuri berkeliaran di sekeling kakbah. Tapi secara umum tidak ada kegilaan mereka kepada gelar haji, walaupun sudah berhaji sepuluh kali.

Halaman
12
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved