KUPI BEUNGOH

Kisah Tercecer 11 Tahun MoU Helsinki

Di mana-mana kita dengan mudah melihat kombatan GAM menenteng senjata, dan setiap malam hari melakukan Sweeping di Jalan Banda Aceh-Medan

Kisah Tercecer 11 Tahun MoU Helsinki
Safrudin Budiman 

Jika masih ada asa untuk menyemai damai//
Jauhkan prasangka dan ankara murka//
Jika masih ada asa untuk merenda damai//
Tinggalkan belenggu masa lalu penuh duka lara//
Ulurkanlah tangan dengan setulus hati//
Genggamlah damai sampai ajal nanti//

ITULAH sepenggal puisi yang tertuang di dalam buku kumpulan puisi berjudul “Puisi Perlawanan” yang ditulis oleh Kolonel Radjasa, seorang perwira TNI dengan pengalaman 14 tahun bertugas di Aceh.

Sungguh di luar dugaan kita, seorang militer mampu mengungkapkan semangat damai di era konflik, dalam rangkaian kata-kata yang menyentuh sanubari bagi siapa pun yang membacanya. Sebuah kontradiksi dengan apa yang banyak orang pikirkan selama ini tentang figur militer “tangan yang penuh dengan lumuran darah dan sepatu bot yang menginjak apa saja didepannya”.

Alkisah, sekitar sekitar tahun 1999, Aceh baru saja keluar dari karut marut penerapan operasi militer, seluruh pasukan TNI-BKO ditarik keluar dari Aceh dan situasi berubah total karena semua daerah di Aceh, terutama di Aceh Utara dan Timur dikuasai oleh kombatan GAM.

Di mana-mana kita dengan mudah melihat kombatan GAM menenteng senjata, dan setiap malam hari melakukan sweeping di Jalan Banda Aceh-Medan, layaknya aparat keamanan Republik Indonesia.

Di tengah situasi Aceh yang tak terkendali pada saat itu, ditambah munculnya gerakan sosial antipati terhadap TNI. Maka, muncullah sekelompok personil intelijen TNI yang terlatih. Mereka bergerak dengan “logo” wartawan, pekerja LSM dan pedagang.

Mereka berpencar di kawasan Aceh pesisir, seperti daerah tempat saya tinggal Panton Labu Aceh Utara, yang merupakan basis GAM dan kampungnya Muzakir Manaf.

Dengan kondisi yang “gawat” seperti itu kehadiran satuan intelijen TNI boleh dibilang sebagai tindakan konyol dan dapat berisiko besar terhadap keselamatannya personilnya, mengingat GAM dengan gencar mengendus keberadaan TNI di seluruh sudut wilayah khususnya Aceh Timur dan Aceh Utara.

Dalam momentum itulah, saya berjumpa dengan perwira berpangkat Kapten yang memimpin satuan intelijen tersebut. Dalam obrolannya, sungguh di luar dugaan, saya mendengar jawaban yang humanis dari seorang intel.

Katanya, kedatangan satuan mereka ke Aceh, bukan untuk memerangi orang Aceh. Melainkan menjajaki pendekatan berbeda yang lebih mengedepankan sisi kemanusiaan dan kearifan lokal yang berbasis pada kemauan rakyat bukan penguasa lokal.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved