Cerpen

Air Terjun Perawan

BEGITU melihat dua mata air yang dipacangkan bambu, ingatan Zidar kembali ke masa lima tahun yang lalu

Karya Ida Fitri

BEGITU melihat dua mata air yang dipacangkan bambu, ingatan Zidar kembali ke masa lima tahun yang lalu. Kala itu ia mengemudikan ambulans melalui jalan berlumpur. Tepat saat berada di sisi pancuran tersebut, penyekat ruang kemudi diketuk dari belakang. Lelaki yang berprofesi sebagai perawat tersebut menghentikan mobil, ia turun dan membuka pintu belakang. Semua mata tertuju padanya.

“Sepertinya Salamah akan segera melahirkan,” ujar perempuan paruh baya yang duduk di dekat kepala sang ibu muda yang meringis kesakitan. Zidar membelalakkan mata sejenak. Bidan yang seharusnya menemani pasien rujukan itu ke rumah sakit kabupaten tidak bisa ikut serta karena harus membantu persalinan lainnya. Dan masalah besar menunggu Zidar.

***

Rasa rindu kadang datang tanpa kenal logika. Semakin kau berlari, semakin kuat rasa itu memasungmu. Lagi Zidar menimang-nimang ajakan kabid-nya untuk mengikuti acara DPTK tahun ini. Selamat merupakan salah satu desa yang akan mereka kunjungi. Air sungai nan jernih menembus bebatuan, hutan perawan nan rindang, lagu-lagu yang disenandungkan perawan di kaki gunung. Awa, salah satu kembang desa yang sempat mengisi hari-hari Zidar. Bahagiakah Awa sekarang? Sudah berapa buah hatinya? Adalah pertanyaan kerinduan yang berkecamuk.

Dan lima tahun yang lalu. Sore itu Awa datang ke mess puskesmas. Gadis itu bersimbah air mata, “Ayah akan menikahkan aku dengan Wen Abdi.”

Zidar diam membeku. Ia merasa masih terlalu muda untuk menikah. Banyak hal yang belum ia lakukan. Yang sangat menyedihkan lagi, pemerintah menempatkannya di daerah yang sangat terisolir ini. Jika musim hujan tiba, sudah bisa dipastikan tempat ini terkurung di pegunungan Bukit Barisan. Jalan becek berlumpur sebagai satu-satunya penghubung dipastikan lumpuh total.

            “Bang, kau hanya diam saja? Apa artinya….?” Lanjut gadis bergaun bunga-bunga ungu yang masih terisak di sampingnya. “Tak ada yang bisa Abang lakukan, Awa. Menikahlah dengan lelaki pilihan Ayah. Kamu pasti akan bahagia,” ujar Zidar pelan.

            Awa berhenti menangis. Ia bangkit dari kursi yang berada di teras mess puskesmas. Ditatapnya pria di sampingnya lekat. Awa tahu satu hal, selama ini sang kekasih tak pernah serius ingin hidup bersamanya. Ah, Zidar hanyalah pemuda kota yang tak mau terperangkap selamanya di desa ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun gadis itu pergi meninggalkan Zidar.

            “Awa!” panggil Zidan pelan. Gadis itu terus melangkah tanpa melihat ke belakang lagi. Zidar merasakan ada yang kosong dalam dirinya. Dilihatnya sosok gadis itu hingga menghilang tertutup bangunan puskesmas. Kabut perlahan menutupi gunung yang berada di depan sana. Dan sebentuk kabut lain juga bermain di hati Zidar.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved