KUPI BEUNGOH

Hewan Politik

kebanyakan pelaku politik masakini lebih menunjukkan perilaku kehewanan, tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tidak beradab.

Hewan Politik
Irfan Siddiq, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Ar-Raniry 

MENJELANG tahun 2017, isu yang paling lagoet (laku) di semua kalangan masyarakat Aceh adalah politik. Mulai dari petani, nelayan, birokrat, hingga elit politik, semuanya mengangkat topik politik dalam percakapannya.

Isu politik dengan mudah menyebar di media sosial yang semakin hari makin ramai penggunanya. Belum lagi isu tersebut diarak ke meja kopi, tentu ini lebih instens lagi perbincangannya.

Menurut saya, ini sesuatu yang wajar, tidak perlu dibingungkan, ini tidak beda dengan melonjaknya penjualan kacang rebus, mie Aceh, mie bakso, pisang goreng, atau makanan panas siap saji lainnya saat musim hujan.

Asal kepingin, ada uang, langsung beli, masalah enak atau tidak, harga mahal atau murah, itu urusan belakang.
Suatu pagi, seperti biasanya, saat saya ngopi di warung kopi langganan saya di Gampong Lambarih Jurong Raya, Kecamatan Suka Makmur Aceh Besar, tepatnya di tepi jalan nasional Banda Aceh - Medan.

Ada dialog unik yang terjadi antara saya dengan teman satu meja kopi dengan saya, sebut saja namanya Bang Leman, dan satu lagi Pak Dolah, nama asli mereka tidak saya sebutkan karena yang bersangkutan tidak mau dialog ini dilanjutkan se keluarnya kami dari wwarung kopi itu, dan mereka tidak mau gara-gara dialog itu namanya jadi tersebar, apa lagi terkenal seperti tokoh-tokoh yang sering tampil di koran itu.

Setiap warung kopi di Aceh, tentu ada koran, seperti Harian Serambi Indonesia, Prohaba, atau koran lainnya yang disediakan oleh pihak warung agar pelanggannya menjadi betah di warungnya.

Pada pagi itu, diantara saya dengan Bang Leman dan Pak Dolah, hanya saya yang tidak membaca koran. Karena saat itu saya disibukkan dengan beranda facebook yang dihiasi dialog hangat tentang isu kudeta presiden Turki, Racip Tayyib Erdogan.

Sedangkan Bang Leman sedang seriusnya membaca rubrik Kutaraja dan Pak Dolah yang sudah berkepala lima diasikkan dengan rubrik Politik pada Harian Serambi Indonesia.

Singkat cerita, selang sepuluh menit mereka membaca koran, antara Bang Leman dan Pak Dollah sama-sama mempresentasikan hasil bacaannya. Bang Leman membahas tentang isu penangkapan pengedar sabu-sabu di sebuah wilayah di Aceh, sedangkan Pak Dolah menguraikan kembali isi berita di koran tentang Pilkada Aceh 2017, yang mana para calon kepala daerah yang maju melalui jalur independent serentak menyerahkan KTP dukungannya ke kantor KIP dengan cara yang unik, mulai dari naik becak, gerobak, hingga mobil intercoler (truk besar).

Rupanya, kejadian seperti hari itu saya alami lebih dari dua kali, pada hari selanjutnya, dengan teman se-meja kopi yang berbeda, isu Pilkada Aceh masih menjadi trending topic pembahasan kami.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved