KUPI BEUNGOH

Kisah Kucing Haji Taubat dan Kerajaan Tikus

Khatimah, masyarakat mulai jenuh dengan program cet langet, janji yang tidak kunjung ditepati serta nasib mereka yang tak pasti.

Kisah Kucing Haji Taubat dan Kerajaan Tikus
Zarkasyi Yusuf 

“Berusahalah untuk memakmurkan rakyat, jangan berusaha mencari kemakmuran dengan mengorbankan rakyat”

Tahun 2017 akan menjadi tahun menentukan dalam memilih pemimpin yang mampu memakmurkan Negeri. Berbagai tahapan dilaksanakan menuju hari penyelenggaraan pesta demokrasi.

Para kandidat melancarkan berbagai jurus rekayasa kata serta janji manis yang tak bertepi ditebar dengan jargon jargon yang menggugah minat dan simpatik masyarakat, untuk menghipnotis masyarakat agar berkomitmen memilih sang calon.

Sebahagian mereka terhipnotis, Sebahagian lagi masih belajar dari pengalaman terdahulu, mereka menyimpan satu pertanyaan, apa untungnya bagi kami jika anda terpilih nantinya? Melihat pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya, pelaksanaan pemilu tahun ini pun tidak ubahnya seperti Kisah Kucing Haji Taubat dan Kerajaan Tikus.

Bermula kisah, seekor Kucing yang telah kembali dari Tanah Suci mengirim sepucuk surat kepada kerajaan Tikus, surat tersebut berisi undangan pada sebuah tanah lapang untuk mendengarkan penyesalan sang Kucing yang telah memangsa Tikus, serta ikrar tidak akan menjadikan Tikus sebagai makanan seraya memohon maaf atas kesalahan sang Kucing terdahulu.

Raja Tikus segera memberitahukan kepada rakyatnya perihal surat tersebut, setelah mendengar pengumuman dari sang Raja, masyarakat Tikus pecah menjadi dua kelompok.

Satu kelompok lansung percaya dengan surat Kucing Haji serta mereka berkomitmen akan menghadiri undangan tersebut pada hari yang telah ditentukan, satu kelompok lagi tidak percaya dengan surat tersebut, mereka masih bertanya “sungguhkan Kucing haji taubat?”.

Raja Tikus pun tidak mampu mempersatukan persepsi rakyatnya. Kelompok yang percaya berduyun-duyun berdatangan ke tempat yang telah ditentukan dengan berbalut rasa kegembiraan, mereka gembira akan muncul era baru dalam sejarah kehidupan Tikus-Kucing yang selalu menjadi rival abadi, satu kelompok lagi hanya menyaksikan saudara-saudaranya yang akan menghadiri undangan sang Kucing Haji, mereka hanya mampu berdo’a “Ya Allah, selamatkan saudara kami dari pengkhiatan Kucing Haji”.

Apa yang terjadi? Kelompok yang datang ke tanah lapang sesuai undangan sang Kucing Haji tidak kembali satu pun, mereka kembali menjadi korban kelicikan Kucing Haji, satu kelompok lagi hanya mampu menangis dan berduka atas kehilangan Saudara-saudara mereka, mereka pun tidak mampu berbuat banyak untuk membalas tindakan Kucing Haji yang pura-pura bertaubat.

Melihat kegundahan rakyatnya, Raja Tikus menggelar rapat akbar untuk mencari solusi bagaimana mengatasi kebejatan Kucing Haji, sebab Raja Tikus menyakini bahwa kesalahan dalam menanggapi undangan Kucing Haji telah menyebabkan kehilangan separuh dari rakyatnya itu.

Halaman
123
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved