SerambiIndonesia/

Cerpen

Abu Berpakaian Kantoran

BUNYI suara bel sepeda membuatku langsung melihat ke belakang. Beberapa meter daritempatku

Abu Berpakaian Kantoran

Karya Ahmady Meuraxa

BUNYI suara bel sepeda membuatku langsung melihat ke belakang. Beberapa meter daritempatku berdiri Abu Nas tampak mengayuh sepeda tuanya seraya memberi salam dengan wajah ceria. Penampilan Abu hari itu sangat tidak biasa.

Pakaiannya rapi, baju putih lengan panjang dan celana panjang berwarna coklat dengan bekas lipatan setrika yang sangat rapi. “Kapan tiba, Di?” sapanya lebih dulu. “Semalam Abu,” jawabku. “Abu, rapi sekali. Mau ke mana pagi-pagi begini?” “Ke kantor. Nanti kita ngobrolngobrol ya. Abu harus buru-buru.” Lelaki itu mengayuh sepedanya dengan cepat. Aku jadi penasaran melihatnya, sampai-sampai terusmemandangnya mengayuh sepeda hingga menghilang meninggalkan gerbang desa.

Baru kali ini aku mendengar abu bicara soal kantor. Sejak kapan ia bekerja di kantor? Pertanyaan ini langsung membuncah di pikiranku. Ingin menanyakan semua itu kepada lelaki kurus itu,tapi tidak mungkin karena ia sepertinya dikejar waktu. Kalau saja sempat, pasti Abu Nas dengan senang hati menceritakan kantornya itu kepadaku.

Keluargaku dan keluarga Abu Nas sudah bertetangga selama lima tahun.Hubungan kami sangat akrab sehingga aku merasa Abu seperti keluarga sendiri. Ia tinggal bersama istrinya di rumah sederhana, berjarak 50 meter di belakang rumahku. Abu Nas sudah menikah lebih dari 20 tahun, tapi belum dikaruniai anak. Ia sama sekali tidak pernah memperlihatkan sikap resah dengan situasi itu.“Mungkin belum saatnya punya anak. Abu hanya berdoa saja,” ujarnya suatu ketika.

Setiap sore biasanya aku dan AbuNas berjalan kaki menuju musala untuk salat magrib berjamaah. Musala kecil itu sekitar 200 meter dari rumah kami. Abu terkadang menjadi imam di situ.Nama lelaki itu sebenarnya Nasrudin. Entah mengapa, semua orang di desa kami memanggilnya Abu. sesekali ada juga yang memanggil dengan sebutan Abu Nas. Orangtua, muda,anak-anak, bahkan pejabat desa pun semuanya memanggil Abu.

Menurut adat Aceh, Abu adalahpanggilan untuk orang yang cukup dihormati. Mungkin karena ilmu agamanya cukup baik, atau karena ia keturunan ulama. Aku sendiri tidak erlalu peduli dengan asal usul panggilan itu.Abu Nas dikenal sebagai orang yang santun. Awalnya aku mengira ia perantauan dari tanah Jawa. Biasanyahanya orang keturunan Jawa yang santun seperti itu di kampung kami, di pedalaman Aceh. Ramah dan kerap menyapa terlebih dahulu jika berpapasan dengan orang muda sekali pun.

Tapi ternyata abu orang Aceh tulen. Ia lahir dan besar di pedalaman pantai timur Aceh.Sepengetahuanku, orang asal pantai timur itu umumnya keras kepala, sedikit angkuh dan sokwibawa. Mereka tidak mau menerima pekerjaan kasar, apalagi jadi orang suruhan. Tapi Abu Nas tidak seperti itu. Ia mau mengerjakan apa saja, yang penting ia senang senang dan pekerjaan itu sanggup ia kerjakan.

Terkadang ia menjadi buruh harian untuk proyek bangunan di desa kami. Biasanya ia bertugas mengangkat pasir dengan kereta sorong tukmenimbun permukaan tanah yang rendah. Tapi pekerjaan utamanya tetap didahulukan, yakni merawatdan memberi makan enam ekor sapi di kandang belakang rumahnya.

Kecuali ke masjid atau kenduri,aku sama sekali tidak pernah melihat Abu Nas berpakaian rapi. Makanya,saat pagi itu Abu tampak necis berpakaian kantoran, aku terperanjat. Apa benar Abu Nas telah bekerja di kantor?Sudah dua bulan ini aku tidak bertemu dengan Abu Nas karena harus bertugas di luar kota. Mungkin saja ada banyak cerita baru selama sepeninggalanku, termasuk soal kantor yang pagi inidisebutnya. Kalau saja bu benarbenar bekerja kantoran, berartinyadoanya terkabul. Pernah suatu ketika saat ngobrol santai menjelang magrib, Abu menceritakan impiannya untuk bekerja di kantor. Entah itu sebagai tenaga kebersihan, tukang antar surat atau apapun, asal punya kantor.“Seumur-umur aku tidak engerti apa yang dikerjakan orang-orang itudi kantor. Abu penasaran sekali, pingin tahu rasanya bekerja di kantor.”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help