SerambiIndonesia/

Ucapan Salam

Apabila dua orang bertemu, maka dalam bahasa Indonesia mereka biasa mengucapkan

Ucapan Salam
ILUSTRASI 

Oleh Mohammad Rizqi, Balai Bahasa Jawa Barat

Apabila dua orang bertemu, maka dalam bahasa Indonesia mereka biasa mengucapkan “Apa kabar?” Pertanyaan itudiajukan bukan karena dia ingin mengetahui kabar terakhir, dan juga tidak menanyakan segala hal yang bertalian dengan orang yangditanya. Ungkapan itu adalah semata-mata kebiasaan orang dalam bahasa Indonesia untuk membuka salam dan mungkin percakapan selanjutnya.

Yangditanya juga biasanya menjawab “Baik,” walaupun mungkin dia sebenarnya hendak pergi ke dokter untuk berobat atau dua hari sebelumnya rumahnya kemasukan maling. Cara menyampaikan salam untuk membuka percakapan kalau bertemu dalam setiap bahasa berlain-lainan.

Dalam bahasa Inggris orang akan bertanya “How are you?” atau “How do you do?” Dalambahasa Perancis orang mengatakan “Bonjour”, dalam ahasa Jepang orang mengatakan “O genki desuka?”, dan dalam bahasa Arab setelah menyampaikan“Assalamu’alaikum wr. wb.,” (kalau dia muslim), akan dilanjutkan dengan “ahlan wa sahlan”. Kalau muslim, bukanhanya orang Arab, orang Indonesia juga bisa menyampaikan “Assalamu’alaikum wr. wb.” Yang mengandung do’a selamat bagi yang ditegur. Dalam bahasa Jawa orang mengatakan “Ngaturi sugeng”dan dalam bahasa Sunda “Kumaha damang?”

Ungkapan-ungkapan itu merupkan kalimat-kalimat yang boleh dikatakan tidak ada artinya, atau ada artinya tapi orang yang mendengarkannya tidaklah mengartikannya sebagaimana arti kalimat itu yang sesungguhnya. Ungkapanungkapan itu sudah menjadi basa-basi atau kebiasaan yang diterima begitu saja. Karena itu sangatlah menarik untuk dicatat ahwa pada tahun 1960-an, ada anggota DPRDJawa Barat yang mempersoalkan ngkapan “Kumaha damang?” yang biasa diucapkan orang Sunda kalau bertemu dengan yang lain.Anggota DPR itu mempersoalkan arti kalimat ersebut karena menyiratkan arti bahwa orang Sunda selalu sakit-sakitanmungkin karena kurang makan atau selalu dianggap baru sembuh habis sakit.

Dia menyarankan agar ungkapan tersebut diganti dengan ungkapan yang lain. Seingat saya persoalan itutenggelam begitu saja walaupun, kalau tak salah, timbul juga sedikit polemik dalam surat kabar. Yang jelas sampai sekarang orang Sunda dalam bahasa Sunda selalu menanyakan “Kumaha damang?” kalau bertemu dengan orang Sunda yang lain (biasanya yang sudah lama tidak bertemu dengannyaatau orang itu yang pertama kali bertemu dengannya).

Perlu disebutkan bahwa kebiasaan orang Jepang kalau bertemu sesamanya membukasalam dengan “O genki desuka?” itu artinya sama dengan Kumaha damang?” Tak pernah ada keterangan bahwa pertanyaan tu bertalian dengan keadaan orang Jepang yang selalu sakitsakitan. Walaupun mengherankan uga mengapa orang Sunda dan orang Jepang menggunakan ungkapan yang artinya sama sebagai pembuka pembicaraan.

Ungkapan salam sudah menjadi kebiasaan yang maksudnya tidak lain untuk membuka percakapan. Katakataitu hanyalah basa-basi yang di belakangnya hanya empunyai arti bahwa orang yang mengucapkannya itu bersedia untuk melanjutkan percakapan dengan orang yang dia tegur. entu saja hal itu tergantung juga dari nada atau cara dia mengucapkan kalimat itu.

Seperti diketahui kalimatkalimatyang penuh kata-kata penghormatan pun kalau diucapkan dengan cara tertentu malah bisa menyinggungperasaan yang diajak bicara. Alih-alih kelanjutan percakapan penuh keramahan, malah akibatnya mungkin sebaliknya, dan juga tergantung dari hubungan orang yang menegur dengan ditegur. Kalau hubungannya sudah demikian eratmungkin ungkapan yang dilontarkan pun berlainan.

Hubungan yang sudah erat tidak memerlukan basa-basi lagi. Mungkin teriakan “Hai!”atau semacamnya saja sudah cukup. Malah orang-orang Surabaya tidak mustahil mengucapkan kata “Diamput!” atau “Diancuk!” yangdalam percakapan biasa tidak boleh diucapkan. Orang Sunda mungkin hanya akan mengucapkan “Siah!” kepada kawan akrab yang sudah lama tidakbertemu.

Bahasa tubuh yang menyertai ungkapan-ungkapan itu juga berbeda-beda. Ada yang sambil berjabatan tangan,ada yang sambil mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil dikepalkan, ada yang sambil membungkukkan badan sampai derajattertentu, ada yang sambil merangkulkan kedua tangan memeluk lawan bicaranya, ada yang disertai dengan ciumaan di kedua belah pipi.

Kebiasaan memeluk sambil mencium kedua belah pipi itu sejak beberapa tahun menjadi kebiasaan orang Indonesia kalangan tertentu juga. Sebelumnya orang Indonesiabersalaman dengan sebelah atau dua belah tangan, atausambil menganggukan kepala

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help