Citizen Reporter

Makanan Ekstrem Khas Filipina

SETIAP negara punya makanan khas sendiri. Karena penasaran dengan cita rasa makanan Filipina

Makanan Ekstrem Khas Filipina

OLEH ZAUJATUL AMNA MSc, Staf Pengajar dan Konselor Psikologi Unsyiah, peserta Inception Meeting tentang Kebencanaan di Filipina, melaporkan dari Manila

SETIAP negara punya makanan khas sendiri. Karena penasaran dengan cita rasa makanan Filipina, saya pun mencari referensi dari internet maupun bertanya pada panitia Inception Meeting PARR Fellowship Program yang merupakan warga Filipina.

Di hari pertama kedatangan di Filipina, saya coba mencari makanan “halal” yang artinya bebas dari kandungan babi, mengingat hampir dalam setiap kemasan makanan, bumbu, maupun penyedap masakan di sini, babi menjadi salah satu komponen dasarnya. Hal ini sudah biasa bagi mereka yang memiliki penduduk mayoritas pengonsumsi babi. Hal yang sama saya temui ketika berada di Taiwan tahun 2013.

Berdasarkan pengalaman dan diskusi dengan mahasiswa asli Taiwan, muslim yang berada di Taiwan ternyata tak leluasa memakan es krim maupun menggunakan kosmetik. Hal itu juga terjadi di Filipina. Hampir setiap pagi ketika hendak sarapan di hotel, saya perhatikan semua masakan yang tersedia terbuat dari olahan babi. Roti sekalipun ada kandungan babinya. Hal ini yang menjadikan saya selalu bertanya kepada pelayan restoran, “Bumbu atau olahan bumbunya, termasuk minyak gorengnya terbuat dari apa?”

Bicara tentang menu makanan khas dari Filipina, hal ini membuat saya takjub, heran, sekaligus tak percaya ketika teman Filipina membawa kami ke sebuah restoran yang tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Sebuah pemandangan unik terpampang: telur rebus yang berisi embrio atau janin itik. Mereka menyebutnya “balut”. Sekilas saya ingin menyatakan bahwa ini adalah makanan terekstrem yang pernah saya lihat. Tapi makanan balut ini merupakan salah satu makanan khas Filipina yang sangat terkenal. Balut adalah makanan yang terbuat dari telur bebek yang dierami selama sebelas hari, lalu direbus matang atau setengah matang. Tergantung selera si penikmat. Karena di dalam telur ada embrio atau janin bebek yang sedang tumbuh. Apakah saya memakannya? Jangankan makan, melihatnya saja rasanya lapar saya menguap begitu saja. Coba Anda bayangkan saat akan memakan balut. Telur setengah matang yang terdapat kaki, ada kepala, dan semua jeroan dari embrio itik? Meskipun menurut cerita balut memiliki kadar protein yang tinggi, sehingga dipercaya mampu membuat stamina orang lebih kuat.

Konon balut paling enak jika dimakan setelah usia 21 hari. Saat itu janin bebek di dalam telur itu sudah tumbuh paruh dan bulunya. Balut biasanya dimakan bersama garam dan cuka. Adakah menggugah selera atau bahkan bikin mual? Belum lagi sensasi lendir yang terdapat di dalam makanan tersebut. Saya yakin pembaca akan mual duluan. Namun, bagi Anda pencinta makanan ekstrem saya rasa Filipina adalah salah satu tujuan yang tepat.

Makanan ekstrem lainnya yang dimiliki Filipina adalah tamilok. Berasal dari Kota Palawan. Tamilok terbuat dari cacing laut besar yang dipotong dan direndam dalam cuka, kemudian ditaburi cabai bubuk di atasnya plus bawang merah. Sajian ini dimakan dalam keadaan mentah, hampir mirip penyajian makanan ala Jepang, sushi.

Tidak hanya menu makanannya, akan tetapi ukuran piring atau wadah makanannya pun menjadi hal yang patut diperhatikan. Soalnya, wadah tempat penyajian makanan di sini ukurannya mungkin berkisar 2-3 kali lipat dari mangkuk sup ala Indonesia. Sangat luar biasa.

Hari terakhir dari inception meeting ini menjadi hari penutup cerita yang kembali mengesankan saya tentang Filipina. Terutama dengan makanan khasnya yang terlihat ekstrem, sehingga menu restoran Indonesia menjadi salah satu andalan saya saat berada di Filipina. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari staf yang bekerja di restoran Indonesia, di Filipina terdapat beberapa restoran yang juga “safe” untuk dinikmati tanpa kandungan babi. Ada juga restoran Jepang dengan menu andalan sushi-nya, restoran Arab dengan menu andalan rempah-rempah khasnya, dan restoran Indonesia.

Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah warung Indonesia di Kota Makati, Filipina, tepatnya di sepanjang Agustin Street, Salcedo Village, di belakang Gedung PBCOMA Yala. Suasana khas menyelimuti warung Indonesia tersebut. Begitu kita masuk, suasana Indonesia langsung terasa. Banyak ornamen Nusantara seperti bendera Indonesia, patung ukiran kayu, wayang, bahkan ukiran topeng yang terbuat dari kayu dan bercorak batik terpampang dan tertata rapi di restoran ini. Seakan membuat pegunjung yang berasal dari Indonesia sedang bersantap di Indonesia. Sedangkan bagi pengunjung yang non-Indonesia, setiap ornamen di restoran itu seolah menyapa mereka dengan berkata “Welcome to Indonesia”.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved