Sabtu, 13 Juni 2026

Citizen Reporter

Athena, Negeri Dewa Tanpa Masjid

SIAPA yang tak kenal Yunani, “Negeri Para Dewa” yang sering disebut sebagai tempat lahirnya peradaban dan budaya Barat?

Tayang:
Editor: hasyim

RICKY ALFANDA, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen
Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Athena, Yunani

SIAPA yang tak kenal Yunani, “Negeri Para Dewa” yang sering disebut sebagai tempat lahirnya peradaban dan budaya Barat? Di negeri inilah olimpiade untuk pertama kalinya diselenggarakan. Kabarnya, olimpiade kuno yang menjadi inspirasi olimpiade modern digelar untuk menghormati dewa tertinggi Yunani, yaitu Dewa Zeus. Karena dewa ini bermukim di gunung bernama Olimpia, maka pertandingan ini pun dinamakan olimpiade.

Kata Yunani sendiri--Greece dalam bahasa Inggrisnya--menurut kamus Indonesia berasal dari bahasa Arab, diambil dari nama Ionia. Ionia adalah pesisir barat negara yang sekarang disebut Turki. Mungkin di sinilah letak ikatan antara Yunani dengan Islam, Turki Ottoman yang pernah menguasai negeri ini hampir 400 tahun. Sedangkan ibu kota Yunani berada di Athena.

Kota ini berpenduduk 700.000 jiwa, namun bila dihitung dengan daerah metropolitannya, jumlah penduduknya 3,5 juta jiwa. Mayoritas penduduknya 94,5% Kristen Ortodoks yang berkiblat ke Jerussalem. Maka tak heran, kubah gereja-gereja di sini layaknya masjid. Yang membedakannya adalah jika di atas kubah masjid dipasang lambang bulan bintang, tapi di atas kubah mereka dipasang salib.

Walaupun Yunani mengakui sejarah kejayaan Islam masa lampau, namun jangan harap pemerintahnya mengakui keberadaan umat Islam di negeri ini. Berkunjung dan tinggal di Athena bagi seorang muslim bukanlah perkara mudah. Banyak hal mendasar yang menjadi kebutuhan muslim sangat sulit ditemui di kota ini. Contohnya masjid.

Ya, Athena memang dikenal sebagai satu-satunya kota anggota Uni Eropa yang tak memiliki masjid. Hingga kini Pemerintah Yunani masih belum merealisasikan rencana pembangunan masjid bagi komunitas muslim yang berjumlah ribuan orang dan bermukim di Athena. Untuk melaksanakan shalat berjamaah, terutama shalat Jumat, masyarakat muslim di sini harus menyulap garasi-garasi bawah tanah dan bangunan-bangunan kosong untuk difungsikan sebagai masjid. Ini juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jika terlihat, maka akan dikenai tuntutan kegiatan ilegal. Athena telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia (HAM) seperti Amnesty International, karena kota ini telah menjadi satu-satunya ibu kota Uni Eropa tanpa masjid hingga kini. Masjid yang tersisa di Athena hanyalah Masjid Tzisdarakis dan menjadi salah satu bangunan tujuan objek wisata. Jangan pula Anda bayangkan bisa melaksanakan shalat di dalam bangunan ini. Masjid ini kini telah beralih fungsi menjadi bangunan Museum Porselin Yunani. Di bagian dalam ruangan bangunan ini telah diisi oleh beragam koleksi porselin bersejarah milik negara Yunani. Yang masih sangat jelas terlihat bangunan ini pernah berfungsi sebagai masjid adalah adanya mihrabnya. Selain itu di bagian atas mihrab juga ada relief huruf Arab sebagai ciri khas bangunan zaman Dinasti Usmaniyah.

Pemerintah Yunani tidak malu mengakui situs sejarah ini sebagai sebuah masjid dikarenakan pada papan keterangan di depan bangunan bekas masjid itu jelas tertuliskan Old Mosque yang berarti Masjid Tua.

Muslim Yunani selain tak memiliki masjid, juga tidak ada tempat pemakaman bagi warganya. Muslim yang meninggal di Yunani umumnya dikirim kembali ke negara asalnya atau dikubur di Western Thrace, tempat berkumpulnya komunitas muslim di Yunani dan terdapat kuburan muslim. Jarak dari kota ke tempat ini hampir 800 km dengan proses perjalanan yang sulit dan mahal. Mengirim jenazah ke Thrace Barat, tepatnya ke pemakaman yang bernama Gümülcine, ini untuk proses pengurusan jenazah biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 21 juta hingga selesai proses untuk menguburkan seorang jenazah muslim. Padahal, sebagian besar umat Islam yang tinggal Athena adalah migran yang dulu melarikan diri dari perang dan tak memiliki uang sebanyak itu. Jadi, untuk menyikapi hal ini sebagian besar umat Islam yang mampu di sana mengumpulkan uang membiayai pemakaman muslim yang meninggal. Inilah kehidupan muslim di Yunani. Selain, tak ada masjid, juga tak ada tempat pemakaman.

Di Athena sangat sulit mencari makanan halal, apalagi makanan Indonesia. Hanya beberapa gerai makanan halal terdapat di sini, pemiliknya imigran Turki, Bangladesh, dan Iran. Jika di negara Eropa lainnya kedai-kedai kebab Turki tersebar di berbagai sudut kota, hal itu tidak dapat kita jumpai di Athena, meski jarak Kota Istanbul dan Athena sangat dekat. Aturan dan kebebasan beragama yang sangat ketat dari Pemerintah Yunani menyebabkan warga Turki yang mayoritas Islam enggan tinggal di Athena, sehingga makanan halal di Athena sangat sulit dijumpai. Memang di pusat kota seperti di Syntagma Square banyak kita jumpai penjual kebab yang di berbagai gerai toko mereka. Tapi yang berjualan adalah orang Yunani asli.

Jika kita rindu masakan bercita rasa dari Indonesia akan sangat sulit ditemui di sini. Hanya bisa didapatkan di rumah para TKI yang berjualan di dalam rumahnya sore hingga malam hari sepulang kerja.

Semoga di tahun-tahun mendatang pemimpin Kota Athena diberikan hidayah oleh Allah supaya pembangunan masjid, perkuburan muslim, dan kemudahan perizinan dalam berdagang makanan halal dapat segera terwujud. Amin.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved