Opini

Hijrah, Antara Madinah dan Swedia

PERISTIWA hijrah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah pada bulan Muharram 14 abad lalu

Hijrah, Antara Madinah dan Swedia
Hasan Basri M.Nur Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Oleh Hasan Basri M. Nur

PERISTIWA hijrah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah pada bulan Muharram 14 abad lalu, dapat dilihat sebagai strategi dakwah dan perjuangan dalam pencapaian misi kerasulan. Misi utama Nabi Muhammad adalah mewujudkan masyarakat untuk tunduk pada Allah Swt, Sang Pencipta. Muhammad harus dapat menuntaskan tugas yang diembannya sehingga benar-benar menjadi Rasul penuntas misi rasul-rasul terdahulu (khatamul anbiya’).

Perlawanan yang begitu keras dari suku Quraish selaku asoe lhok (penduduk asli) Mekkah, tidak menyurutkan semangat juang Nabi Muhammad dalam menyampaikan risalah. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya kaum Quraish hanya sekadar melakukan tindakan intimidasi dan teror yang sebagian dilakukan secara individual, maka pada tahun ke-13 kerasulan menjadi puncak perlawawan mereka. Tokoh-tokoh asoe lhok Mekkah bersepakat untuk membunuh Muhammad agar dakwah monoteismenya terhenti, dan dengan sendirinya misi kerasulan Muhammad gagal.

Menyadari hal ini dan atas perintah Allah, Nabi Muhammad memutuskan untuk pindah (hijrah) ke kota baru yang menjanjikan;Yastrib yang sekarang dikenal sebagai kota Madinah. Di Madinah Nabi saw disambut gembira, penuh sukacita dan dinobatkan sebagai pemimpin tertinggi dalam segala urusan. Di Madinah, Muhammad menjalankan fungsinya sebagai Rasul sekaligus pemimpin politik (kepala negara).

Perpindahan Nabi Muhammad bersama pengikutnya dari Mekkah ke Madinah hanya bersifat sementara dan bagian dari strategi perjuangan. Perutusan utama Nabi Muhammad adalah ke Mekkah, dapat terbaca dari “skenario” Tuhan melalui Nabi Ibrahim as ketika mengasingkan Siti Hajar dan bayinya Ismail as dari Palestina ke tanah gersang Mekkah. Melalui Ismail kemudian terbentuk bangsa Arab yang berbeda dari bangsa Israil, walau berakar pada satu kakek yang sama. Artinya, misi utama kerasulan Muhammad adalah di tanah Mekkah dan karenanya harus ditundukkan.

Terbukti, pada tahun ke-8 setelah hijrah, Muhammad bersama 10 ribu pengikutnya kembali ke tanah kelahirannya, Mekkah, untuk melanjutkan “PR” yang tertunda. Dalam penaklukan Mekkah (fathu Makkah) ini seluruh pembangkang menyatakan menerima karasulan Muhammad saw. Nabi memberi amnesti massal kepada semua orang yang dulunya pernah berbuat jahat kepadanya. Bahkan kepada big boss pembangkang, Abu Sufyan, diberi kehormatan dengan mengatakan, “Barang siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan akan selamat.”

Hijrah ke Swedia
Lalu, apa hubungan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah dengan Aceh dan Swedia? Gerakan pembebasan Aceh dari Indonesia secara resmi diproklamirkan oleh Dr Tgk Hasan Muhammad di Tiro dan pengikutnya di Bukit Halimun, Pidie, pada 4 Desember 1976. Sejak itu, pemerintah Indonesia memosisikan Aceh dalam zona merah dan para pejuang kemerdekaan sebagai musuh negara yang harus ditumpas.

Operasi militer dengan berbagai judul dijalankan di Serambi Mekkah. Suara tam-tum, bham-bhum dan geureudham-geureudhum terdengar silih berganti hingga 2005. Rakyat Aceh hidup dalam cengkraman ketakutan. Mereka terbiasa mendengar jeritan manusia disiksa, mendapat kabar penculikan hingga menonton gelimpangan mayat, tapi tak kuasa bercerita kepada pihak lain. Media massa dibungkam serta gerak langkah aktivis HAM dan demokrasi diawasi. Orang luar nyaris tidak mengetahui apa yang terjadi di Aceh sepanjang kekuasaan Orde Baru di bawah kendali Presiden Soeharto.

Para pejuang kemerdekaan yang bernaung di bawah bendera Acheh Sumatera National Liberation Front (ASNLF/GAM) semakin hari kian terdesak. Sebagian dari mereka terpaksa mencari perlindungan atau “hijrah” ke tempat lain. “Hijrah” pejuang Aceh terjadi dalam tiga gelombang; 1976-1981, 1989-1998 dan 1998-2005. Mereka terpencar ke berbagai negara di lima benua. Ada yang “hijrah” ke Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Thailand, Libya dan beberapa negara Eropa dengan Swedia sebagai sentral perjuangan.

Di pengungsian, mereka tetap menggerakkan cita-cita kemerdekaan Aceh. Dari Swedia berbagai kebijakan dan komando perjuangan lahir. Puncaknya adalah diadakan perundingan damai antara RI dan GAM di Helsinki, Finlandia. Perundingan damai ini berujung pada kesepahaman bersama untuk mengakhiri pertikaian dengan membubuhkan tanda tangan pada naskah Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki 15 Agustus 2005.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved