AF Pernah Belajar Jadi Teroris di Thailand

AF (26), tersangka eksekutor yang diduga melemparkan granat manggis ke dalam mobil dinas Anggota DPRK

AF Pernah Belajar Jadi Teroris di Thailand

REDELONG - AF (26), tersangka eksekutor yang diduga melemparkan granat manggis ke dalam mobil dinas Anggota DPRK Bener Meriah, Mansyur Ismail, Sabtu (17/9) lalu, mengaku pernah ikut belajar dan latihan jadi teroris di Thailand pada tahun 2012.

Hal itu terungkap saat AF diperiksa penyidik setelah berhasil ditangkap tim gabungan dan Polda Aceh di Desa Huta Galuh, Kecamatan Kotarih, Sergei, Sumatera Utara, Sabtu (15/10).

Kapolres Bener Meriah, AKBP Deden Soemantri, kepada Serambi, Selasa (18/10) mengatakan, tersangka AF sebelumnya memang telah memiliki catatan kriminal, bahkan merupakan salah seorang residivis (penjahat kambuhan) untuk kasus penadah pencurian sepeda motor dan bisnis narkoba. “Ia sebelumnya sudah dua kali masuk penjara karena kasus yang berbeda,” kata Deden Soemantri.

Menurut Deden, keterangan AF sampai saat ini masih berbelit-belit. Namun, tersangka mengaku pernah direkrut untuk latihan teroris di Thailand. “Katanya, dia pernah belajar menembak dengan senjata api jenis AK-47 dan belajar cara menggunakan granat ketika berada di Thailand beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Kepada penyidik, AF mengaku meski telah pernah belajar menggunakan senjata api maupun bahan peledak, namun ia tak betah berada di Thailand untuk ikut latihan calon teroris karena kerap dipukuli saat ikut latihan.

“Karena tak tahan dengan perlakuan keras saat belajar, AF kabur dan kembali ke Indonesia. Dia memang belum sempat jadi teroris, tapi sudah pernah belajar,” sebut Deden Soemantri.

Menurut Deden, karena pernah belajar menggunakan senjata api dan granatlah, sehingga AF tidak canggung lagi ketika melakukan aksi penggranatan mobil dinas Anggota DPRK Bener Meriah, BL 136 Y pada 17 September 2016.

Penggranatan itu mengakibatkan tiga penumpangnya meninggal dalam hari yang berbeda. “Karena sudah ada pengalaman itu, sehingga dia diminta kakaknya untuk membantu melemparkan granat ke mobil Anggota DPRK Bener Meriah,” jelas Deden Soemantri.

Ketika disinggung soal asal granat, Kapolres Bener Meriah itu menyebutkan, sedang mendalami dari mana tersangka AF mendapatkan bahan peledak tersebut.

Sampai sejauh ini, polisi sedang memintai keterangan tersangka. “Masih kita dalami dan belum bisa disimpulkan dari mana tersangka membeli granat yang dia gunakan untuk meledakkan mobil penuh penumpang tersebut,” kata Kapolres Bener Meriah.

Menurut Kapolres, tersangka AF yang diduga menjadi eksekutor dalam aksi penggranatan itu, dibidik dengan pasal pembunuhan berencana sehingga terancam hukuman mati atau hukuman seumur hidup. “Kalau untuk hukumannya, memang nanti setelah ada putusan pengadilan. Tapi tersangka ini dikenakan pasal pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya sangat berat. Biar menimbulkan efek jera,” pungkas Deden Soemantri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, mobil dinas Anggota DPRK Bener Meriah, Mansyur Ismail, Kijang Innova BL 136 Y dilempari granat di jalan nasional Bireuen-Takengon, kawasan Dusun Menderek, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Santu (17/9) sekira pukul 17.30 WIB. Akibat insiden itu, putra bungsu Mansyur Ismail, yakni Haris Sadiki Alhaj (7), meninggal di tempat.

Esoknya, Aulia Tahar (23), anak Mansyur Ismail lainnya, juga meninggal dalam perawatan. Selang beberapa hari kemudian istri tua Mansyur, yakni Nurma, meninggal saat dirawat di ICU RSU Datu Beru, Takengon.

Istri muda Mansyur Ismail, SZ saat ditangkap mengaku dendam pada Aulia Tahar, karena anak dari suaminya itu pernah meneror dan memukulinya. Untuk membalaskan sakit hatinya, ia suruh adik kandungnya, yakni AF untuk melempar granat ke mobil suaminya yang sedang disopiri Aulia Tahar.

Setelah melemparkan granat ke dalam mobil yang ditumpangi tujuh orang itu, AF pun melarikan diri. Ia akhirnya diringkus polisi setelah hampir sebulan menghilang sejak penggranatan yang menelan tiga nyawa itu. (my)

Ikuti kami di
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help