Aktor Teuku Rifnu Wikana Isi Aceh Festival Film

"Saya punya mimpi membuat film Malahayati, Malahayati itu kan tokoh seperti halnya Cut Nyak Dhien yang sosoknya lebih dulu difilmkan.

Aktor Teuku Rifnu Wikana Isi Aceh Festival Film
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Aktor nasional, Teuku Rifnu Wikana hadir dalam Aceh Festival Film (AFF) di Banda Aceh. 

Laporan Nurul Hayati | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Aktor nasional, Teuku Rifnu Wikana hadir dalam Aceh Festival Film (AFF) di Banda Aceh.

Bintang `Night Bus' berdarah Aceh ini mengisi kelas aktor dalam AFF yang mengangkat tema `Hambo'

Hambo merupakan sebuah ungkapan yang mengandung makna besar bagi masyarakat Aceh yaitu suatu proses psikis yang melahirkan sebuah perbuatan yang harus dilakukan segera serta didukung oleh sikap keberanian kemandirian dalam kondisi tertentu.

Ia berbagi pengalamannya di dunia akting dengan komunitas film fiksi dan teater dalam mendalami dan menguatkan pengetahuan dalam mendukung dan mengakomodir permasalahan-permasalahan keaktoran yang dihadapi sineas Aceh.

"Saya punya mimpi membuat film Malahayati, Malahayati itu kan tokoh seperti halnya Cut Nyak Dhien yang sosoknya lebih dulu difilmkan. Yang paling mengerti suatu daerah tentu orang-orang daerah itu sendiri," papar aktor kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara dalam konferensi pers di Black Jack Coffee Banda Aceh, Rabu (19/10/2016).

Menariknya film komedi Aceh `Eumpang Breuh' juga sampai ke telinga aktor yang membintangi film `Laskar Pelangi' ini.

Ia mengaku keluarganya yang kini berdomisili di Jakarta malah mengoleksi serial DVD salah satu film terlaris di Aceh tersebut.

Menurut Rifnu, Indonesia mempunyai potensi berupa keragaman suku budaya, didukung panorama alam yang mempesona.

Tak terkecuali Aceh.

Menurut pria asal Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Selatan ini, yang perlu dilakukan adalah menatar filmmaker daerah.

Bintang film lainnya yang diagendakan hadir yaitu Darius Sinatharya urung karena dikabarkan dalam kondisi sakit.

Dalam pagelaran AFF ke-2 di Aceh ini turut hadir sutradara nasional, Emil Heradi.

Acara ini turut didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat.

Aceh Film Festival pertama kali diadakan pada tahun 2015 yang diinisiasikan oleh Aceh Documentary dan ikut serta beberapa komunitas seni serta komunitas fllm di Banda Aceh yang gelisah dengan kondisi sosial dan budaya di Aceh yang notabenenya sebagian anak muda cenderung suka pada wacana dan praktik politik sebagai panglima.

Adapun agenda dari AFF kali ini yaitu Gampong (Desa) film, merupakan sebuah bentuk tontonan layar tancap dan sebagai bentuk apresiasi masyarakat terhadap film sineas lokal dan nasional, yang sudah di selenggarakan dengan konsep melakukan pemutaran di 11 (sebelas) kabupaten/kota di Aceh yang berlokasi di kawasan desa.

Adalagi kelas kritik film di mana Adrian jonathan, pimpinan redaksi Cienema Poetica mengajak penikmat film melihat sebuah film dari sudut pandang kritis dan kerangka sistematika kritik.

Ia diagendakan hadir pada gelar 19-21 0ktober nanti.

Ditambah special sreening, program ini memutarkan film-film terbaik (film tamu) dari dalam dan luar negeri. Dan di akhir pemutaran juga akan dilanjutkan diskusi bersama dengan pembuat film.

Forum komunitas yaitu forum sharing tukar informasi dan pengalaman dengan seluruh komunitas film Indonesia dan diskusi dengan Film Maker Nasional dan Lokal.

FFA ditutup dengan Award Nigth, yaitu malam apresiasi penganugerahan kepada insan perfilman Aceh.

Malam Award Nigth juga menampilkan beberapa hiburan dan terbuka untuk umum Sabtu (22/10/2016).

Jaya terus perfilman Indonesia. (*)

Ikuti kami di
Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help