UTU Jemput Inspirasi dari Berbagai Kalangan

Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh menyelenggarakan diskusi dalam rangka menjemput inspirasi

UTU Jemput Inspirasi dari Berbagai Kalangan

BANDA ACEH - Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh menyelenggarakan diskusi dalam rangka menjemput inspirasi yang berlangsung di Restoran Bunda, Banda Aceh, Minggu (16/10) siang. Acara ini dihadiri 40 peserta dari berbagai kalangan, seperti akademisi, praktisi, aktivis, jurnalis, dan pegiat sosial budaya.

Acara dimulai dengan pemaparan profil dan perkembangan kampus UTU oleh Rektor Prof Dr Jasman J Ma’ruf MBA. Menurut Jasman, pembangunan kampus sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Saat ini sudah mulai terlaksana pembangunan masjid dan sejumlah gedung.

Ia juga menyebutkan bahwa visi misi UTU sebagai kampus agro and marine industry bertujuan untuk mempersiapkan UTU sebagai kampus yang menjadi rujukan di sektor agro dan marine industry melalui beberapa tahapan yang tercermin dari visi misi UTU. “UTU akan menjadi kampus rujukan pengembangan ilmu pengetahuan di sektor agro and marine industry di tingkat regional pada tahun 2025, tingkat nasional tahun 2034, dan internasional pada tahun 2060,” ujarnya.

Sementara itu, dalam bidang pengembangan kualitas pendidikan, UTU menerapkan kurikulum terintegrasi yang bertujuan menjadikan mahasiswa terbuka dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Sehingga ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan dunia lapangan, maka para mahasiswa sudah siap. “Misalnya mahasiswa manajemen, jika dia ingin belajar budidaya ikan itu dia bisa mengambil mata kuliah di fakultas perikana, itu gratis,” lanjut Jasman.

Jasman juga menyampaikan bahwa UTU menerapkan mata kuliah tentang kepemimpinan Teuku Umar yang wajib diambil oleh mahasiswa di semester tiga. Tujuannya, agar mahasiswa tidak hanya sekadar belajar di kampus UTU, tetapi juga memahami tentang kepemimpinan dari seorang Teuku Umar yang ditabalkan jadi nama universitas itu.

Prof Jasman juga menyampaikan detail engineering design (DED) pembangunan kawasan kampus UTU dengan luas 96 ha yang diperkirakan butuh anggaran Rp 1,3 triliun. Jasman mengatakan, visi misi dan desain pembangunan UTU tersebut dapat terlaksana dengan baik apabila variabel penghambatnya tak terlalu banyak.

Sementara itu, Prof Dr Yusny Saby menyampaikan bahwa UTU harus memperhatikan tentang pengembangan sumber daya manusia (SDM), sehingga akan menjadikan UTU mampu bertahan dalam perkembangan dunia pendidikan ke depan. “Visi misi pembangunan UTU sudah sangat luar biasa karena fokus pada marine and agro industry dan kita harap ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Redpel Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, menyarankan agar di kampus UTU yang luasnya 96 ha perlu dipertahankan hutan asli minimal 2 ha. Fungsinya sebagai hutan kota atau ruang terbuka hijau supaya UTU lebih asri dan hijau.

Selain itu, pohon-pohon yang sudah langka di Aceh (misalnya pohon damar, kemenyan, kampher, damli, dan nibung) juga perlu ditanami di situ, sehingga generasi penerus Aceh yang ingin melihat pohon langka bisa datang ke kampus UTU.

Ia juga mengingatkan bahwa UTU punya tanggung jawab moral untuk mengembangkan studi ekowisata di kawasan barat selatan Aceh, terutama di kawasan Pulau Banyak yang saat ini semakin dilirik para turis mancanegara. Diskusi yang dipandu Dosen Fakultas Hukum Unsyiah, Saifuddin Bantasyam itu diakhiri dengan makan siang bersama.(dik)

Ikuti kami di
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help