Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Pengenalan Islam bagi Warga Jepang

BEBERAPA hari lalu, saya mendapat kesempatan menjadi salah satu dari empat panelis pada even

Editor: bakri

OLEH MARIAH ULFAH, Master Student of Joint Degree Program in Coastal Environment of Kochi University, melaporkan dari Jepang

BEBERAPA hari lalu, saya mendapat kesempatan menjadi salah satu dari empat panelis pada even yang diadakan Japan International Cooperation Agency (JICA). Saat itu, topik yang mereka minta untuk saya sampaikan adalah “Pengenalan Islam”.

Islam merupakan agama minoritas di Jepang, maka tak heran jika hanya sedikit dari warga Jepang yang tahu serba-serbi kehidupan masyarakat muslim. Bahkan saya sempat beberapa kali mendapat “tatapan penuh selidik” dari warga setempat saat belanja di supermarket atau saat di tempat umum karena menggunakan jilbab.

Saya sangat memaklumi hal itu karena tahu bahwa mereka yang menganut agama Shinto belum kenal dan mengerti tentang Islim. Mungkin, sebagian dari mereka menilai masyarakat muslim sebagaimana apa yang mereka lihat dan dengar dari pemberitaan media bahwa muslim kerap terkait dengan teroris dan kejahatan, sehingga menimbulkan perasaan takut dan harus berhati-hati terhadap masyarakat muslim.

Betapa saya sangat bersyukur dan bahagia saat mendapat kesempatan berbicara. Saya tidak sia-siakan kesempatan tersebut dan menggunakannya sebaik mungkin sebagai suatu media untuk menjelaskan serta mengklarifikasi kepada dunia, khususnya masyarakat Jepang, bahwa Islam bukanlah seperti yang selama ini mereka pikirkan. Bukan pula seperti yang selama ini mereka dengar dan baca dari media. Terorisme dan kejahatan Thaliban, misalnya, sama sekali tidak bisa dianggap merepresentasikan Islam sebagai agama penganjur kebaikan, kedamaian, ketenteraman, dan rahmatan lil ‘alamin.

Saya coba menggambarkan bagaimana tidak adilnya jika setiap kejahatan tersebut selalu disangkutpautkan dengan agama Islam. Islam merupakan agama yang sempurna, namun manusia sebagai penganutnya tidak selalu sempurna. Oleh karena itu, tidak adil rasanya jika semua itu diklaim sebagai kejahatan agama Islam. Tidak peduli apa pun kewarganegaraan kita, apa pun agama kita, akan selalu kita temui di dunia ini manusia baik dan manusia jahat.

Saat itu, saya sampaikan beberapa hal dasar mengenai Islam. Sangat sederhana, berupa rukun iman, rukun Islam, beberapa foto bagaimana kesehariaan masyarakat muslim, suara azan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Juga tentang mempraktikkan bagaimana gerakan shalat, bagaimana kehidupan sehari-hari muslim di negara asal saya (Indonesia), hingga bagaimana saya menjalankan kehidupan di Jepang dan berbagai kendala yang saya hadapi sebagai minoritas.

Namun tak disangka, sambutan dari para peserta yang merupakan warga Jepang sangatlah positif. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepada saya, baik saat talk session maupun setelah acara selesai (di luar ruangan). Beberapa di antara mereka berkata bahwa ini merupakan pertama kalinya mendengarkan informasi mengenai Islam langsung dari penganut Islam. Peserta lain bercerita bahwa pernah menonton sebuah film dan video yang menggambarkan bahwa masyarakat muslim sangat suka kejahatan, sehingga membuatnya takut dan sangat ingin mengklarifikasinya kepada saya.

Saya berusaha menjawab semua pertanyaan mereka. Saya berikan gambaran dan logika yang amat sederhana agar mereka mengerti. Begitu terharu dan bahagianya saya, ternyata usaha yang saya lakukan tidak sia-sia. Meski dengan beberapa keterbatasan saat itu. Namun, tanggapan akhir dari mereka yang datang menemui dan ingin berdiskusi langsung dengan saya di luar sesi, ini membuat saya terharu dan bahagia. Mereka menyampaikan bahwa mereka mengerti dan tak lagi memiliki pandangan buruk terhadap umat Islam.

Materi yang saya sampaikan memang sangat sederhana, namun saya selipkan doa dan harapan di dalamnya. Semoga tidak ada lagi diskriminasi, tidak ada lagi pandangan menyelidiki dan menghakimi, agar tumbuh rasa saling menghargai, tumbuh rasa saling menghormati, tumbuh rasa ingin mengerti, dan tak hanya ingin dimengerti. Bukankah siapa pun kita ingin hidup aman, damai dan tenteram? Masyarakat muslim bukanlah sesuatu yang harus mereka takuti, bukanlah sesuatu yang harus mereka hindari. Masyarakat muslim bukanlah masyarakat yang tidak bisa hidup berdampingan dengan agama lain. Lakum diinukum waliyadin (Untukmu agamamu dan untukku agamaku).

Saya merasa sangat berterima kasih telah diberikan kesempatan berbagi dan berdiskusi. Saya juga sangat berterima kasih atas segala sambutan dan reaksi positif masyarakat Jepang dan betapa saya sadar atas banyaknya kekurangan saya dan berharap semoga ini menjadi media bagi saya untuk belajar dan terus belajar.

Beberapa jam setelah presentasi, ke email saya masuk pesan membahagiakan ini dari staf JICA: Dear Mariah-san. Thank you very much for your great input in our event on last Saturday! It became such a nice event and the participants were all so satisfied and touched with your speech and prayer. I’m pretty sure they have learned a lot about Muslim and now they don’t have a bad image as they had before. Thank you very very much. Ya, begitulah. [Dengarkan HABA RANTO, Versi Audio Citizen Reporter "Pengenalan Islam di Jepang]

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved