SerambiIndonesia/

Petualangan Rasa Menyeruput Racikan Kopi Istimewa Pidie

Tempat ini berjarak sekitar 15 menit dari Kota Sigli atau sekitar 2 jam berkendara dari ibukota provinsi, Banda Aceh.

Petualangan Rasa Menyeruput Racikan Kopi Istimewa Pidie
SERAMBINEWS.COM/HARI TEGUH PATRIA

Laporan Nurul Hayati | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Dikenal sebagai salah satu lumbung kopi terbaik nusantara, Aceh menyuguhkan rupa-rupa racikan kopi khas.

Dari Desa Lameue, Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie tersebutlah kopi kocok.

Tempat ini berjarak sekitar 15 menit dari Kota Sigli atau sekitar 2 jam berkendara dari ibukota provinsi, Banda Aceh.

Kopi yang diracik dengan telur dan gula yang menghasilkan citarasa manis nan legit di lidah.

Istimewanya telur yang dikocok menggunakan mixer yang dirakit sedemikian rupa dengan menggunakan lidi.

Hal ini diakui pemilik usaha, Iskandar menghasilkan citarasa yang khas.

Kopi Lameu Pidie1


“Telurnya di-mixer langsung dalam gelas, jadi biar cepat dan gelasnya juga tidak rusak. Telur bisa dicampur dengan menggunakan kopi atau teh, sesuai permintaan,” papar sang pemilik, Iskandar.

Proses meracik kopi istimewa tersebut terbilang sederhana.

Mula-mula telur dan gula di-mixer kemudian ditambahkan seduhan kopi atau teh.

Bagi anda yang kurang suka manis, tinggal minta kadar gulanya dikurangi.

Leumang yang terbuat dari beras ketan dan santan yang dibakar dalam buluh bambu menjadi peneman acara seruput kopi.

Tatkala musim durian tiba, maka ‘si raja buah’ akan meramaikan acara ngopi anda.

Seperti pemandangan yang terlihat ketika Tribun Travel menyambangi tempat ini Sabtu (22/10/2016).

Pondok-pondok bambu mengitari pekarangan.

Tempat anda bisa bebas lesehan.

Kopi Lameu Pidie2

Sementara kursi-kursi panjang_ juga terbuat dari bambu memenuhi ruang utama.

Iskandar dibantu tujuh pekerja siap melayani pembeli saban harinya mulai pukul 15.00 – 03.00 WIB.

Untuk menyesap secangkir kopi telur cukup membayar Rp 6 ribu saja.

Iskandar membeberkan, rata-rata ia menghabiskan hingga 300-an telur atau 300-an cangkir kopi terjual setiap harinya.

Sedangkan sepotong leumang seharga Rp 1.000 terjual hingga 200-an bambu.

Sementara durian dijual dalam bentuk buah utuh dan dilepas sesuai ukuran.

Berdiri sejak tahun 1991, sang pemilik setia mengusung konsep tradisional

“Ada yang mengajak buka cabang di Banda Aceh, saya mau saja asal bukan di pusat kota biar lega sehingga konsepnya tetap terbuka seperti ini,” imbuh Iskandar.

Kebanyakan pengunjung adalah pendatang yang dibawa kulineran oleh warga setempat.

Lesehan di pondok sembari menyeruput kopi dan bercengkerama bisa menjadi pilihan menyenangkan.

Berpetualang rasa sekaligus menjalin keakraban.

Seperti kehangatan yang ditawarkan secangkir kopi kocok Lameue. (*)

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help