SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Menggugat Hak Mahasiswa

SATU pendekatan menarik yang saya dapatkan tentang pengelolaan lembaga pendidikan di Australia adalah seringnya diminta pendapat mahasiswa

Menggugat Hak Mahasiswa
SERAMBI/RIZWAN 

Oleh Muhammad Adam

SATU pendekatan menarik yang saya dapatkan tentang pengelolaan lembaga pendidikan di Australia adalah seringnya diminta pendapat mahasiswa, terkait pelayanan pendidikan mereka mulai dari sisi akademis dan hal-hal non-akademis lainnya yang berpengaruh terhadap performa belajar mahasiswa. Beberapa hal yang sering menjadi poin utama evaluasi di antaranya adalah kemampuan dosen dan pedagogi.

Meminta pendapat mahasiswa tentang kemampuan mengajar dosen bukanlah sesuatu yang tabu atau dipandang tidak sopan jika dikritik. Pihak universitas mengevaluasi performa dosen dari mahasiswa dan juga dosen-dosen lainnya yang masuk ke kelas untuk menilai proses belajar mengajar yang dilakukakan oleh seorang dosen. Aspek-aspek yang dinilai diantaranya kemampuan dosen dalam menyampaikan materinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah cara mengajar dosen mudah dipahami? Atau, apakah cara mengajarnya interaktif dan kreatif, tidak menoton dan membosankan?

Poin penting lainnya adalah fasilitas utama dan perangkat pendukung di kampus yang dapat membantu mahasiswa dalam proses pendidikan mereka. Di antaranya perpustakaan, semisal meminta pendapat mahasiwa tentang buku-buku dan jurnal-jurnal yang disediakan sudah memenuhi kebutuhan mahasiswa atau tidak. Hal lainnya yang menjadi perhatian utama universitas adalah layanan-layanan manajerial administratif yang ada di kampus.

Misalkan bagi saya sebagai mahasiswa internasional, apakah pelayanan di International Students Service sudah memenuhi kebutuhan saya atau tidak? Apakah saya pernah tidak dilayani oleh staf mereka ketika saya membutuhkan? Apakah layanan yang diberikan memuaskan atau mengecewakan? Bahkan sangking banyaknya layanan-layanan untuk mendukung proses belajar mahasiswa, ada layanan yang jarang bahkan tidak saya pakai sampai saat ini.

Pengalaman menarik
Khusus untuk perpustakaan, saya punya pengalaman menarik yang mungkin bisa kita ambil pelajarannya. Akhir 2015 lalu, saya mengisi survei online dari universitas (Flinders University di Australia), yang menanyakan pelayanan mereka. Setelah menjawab beberepa pertanyaan bersifat pilihan, di halaman komentar, saya mengkritik kebijakan universitas yang tidak menyediakan akses 24 jam ke perpustakaan. Sebagai informasi, perpustakaan kampus saya ditutup jam 10 malam biasanya.

Dalam kritikan tersebut, saya tuliskan beberapa alasan kenapa perpustakaan harus terbuka aksesnya selama 24/7 (non-stop) untuk mahasiswa. Salah satunya saya sampaikan ke mereka bahwa ada mahasiswa yang nyamannya belajar di malam hari untuk beberapa alasan tertentu. Sudah menjadi kewajiban kampus untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Terlebih lagi, Flinders University sebagai universitas bertaraf internasional.

Alhamdulillah, mulai Juni 2016, perpustakaan utama (Central Library) Flinders University, sudah terbuka aksesnya untuk 24 jam-menambah pilihan dari beberapa ruang yang sebelumnya sudah terakses 24 jam di lingkungan Flinders University. Terlepas dari faktor kebetulan atau bahkan Flinders University tidak pernah membaca usulan saya di survei evaluasi mereka, sebagai seorang mahasiswa yang pernah menyampaikan keluhan yang sama-saya meresa “didengar” dan perasaan “didengar” itu adalah sesuatu yang sangat vital dalam pelayanan publik (mahasiswa).

Di Australia, urusan evaluasi dilakukan secara berkala dan pihak universitas mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk menjaring pendapat mahasiswa. Selama hampir 2 tahun saya belajar di Flinders, sudah beberapa kali saya berpartisipasi memberikan penilain dan pendapat saya terhadap pengelolaan pendidikan di Flinders dan Australia secara umum. Ada evaluasi yang dilakukan oleh pihak universitas, senat mahasiswa, ada juga evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, dan ada juga evaluasi yang dilakukan oleh donor beasiswa (Australia Awards Scholarships).

Secara substansi, survei-survei tersebut bertujuan untuk menggali informasi seputar pelayanan mereka mulai dari urusan akademis seperti mengukur performa dosen dalam mengajar, fasilitas utama dan pendukung seperti perpustakaan, aksesibilitas untuk yang berkubutuhan khusus, hingga hal-hal personal lainnya seperti keuangan dan sejenisnya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help