Citizen Reporter

Menyantap Kofte di Edirne

KENDATI perjalanan kami kali ini merupakan rangkaian dari paket umrah, namun dirasa berbeda

Menyantap Kofte di Edirne

OLEH MURSYIDAH A LATHIEF MPH, Staf Medis di Rumah Sakit Telaga Bunda, Bireuen, Aceh, melaporkan dari Bursa, Turki

KENDATI perjalanan kami kali ini merupakan rangkaian dari paket umrah, namun dirasa berbeda karena dapat kesempatan menikmati sejenak kota terbesar di Turki.

Hujan rintik menyambut kedatangan kami pada Sabtu malam lalu, saat memasuki musim gugur dengan suhu malam hari mencapai 15 derajat Celcius. Naik van, kami pun istirahat di Crowne Plaza Hotel.

Hari pertama di Turki, setelah sarapan di hotel kami langsung diarahkan tour guide (Emre Bingol, warga Turki dan Danang Lukyanto, pelajar Indonesia), menuju Edirne--salah satu kota yang menjadi ibu kota negeri ini di masa kekhalifahan Utsmani--dengan jarak tempuh 3,5 jam. Sepanjang perjalanan mata kami terpuaskan dengan pemandangan rimbunnya kebun zaitun, pear, dan gandum.

Oleh Emre, kami disuapi banyak informasi mulai dari asal-muasal nama Istanbul hingga bagaimana kisah heroiknya penaklukan Constantinopel/Byzantium/Istanbul oleh kaum muslimin pada abad 15. Jatuhnya kekaisaran Romawi Timur ke tangan Turki yang dipimpin Mehmed II (Muhammad Al Fatih), sang Penakluk, pada pagi subuh 29 Mei 1453 M menandai awal dari kejatuhan Konstantinopel ke tangan kaum muslimin. Takbir menggema di bumi Byzantium subuh itu.

Masih di Edirne, kami diajak mengunjungi healing centre “Darusifa ve Saglik Muzesi”. Di sini kami lihat langsung bagaimana cikal bakal perkembangan ilmu kedokteran pada abad 15. Sebuah kompleks yang menggabungkan antara pusat pelayanan kesehatan dengan madrasah atau pusat pendidikan kedokteran sebagai pencetak calon-calon tabib yang bersiap memaksimalkan pelayanan kesehatan.

Tak lupa pula kami nikmati lezatnya daging sapi (kofte) dicampur salad minyak zaitun yang memanjakan lidah di lokasi dekat healing centre. Hmmm, makanan yang satu ini benar-benar nikmat.

Seusai makan siang kami kunjungi Masjid Selimiye yang dibangun Sultan Selim (putra pertama Raja Sulaiman). Masjid ini selesai dibangun setelah dua tahun Sultan Selim meninggal.

Perjalanan pun kami lanjutkan ke Canakkale, kota yang terbelah oleh Selat Dardanel di wilayah Turki daratan Asia dan Eropa. Dari sini kami menyeberang naik feri sekitar 20 menit ke Canakkale bagian Asia. Setiba di daratan Asia, tepat saat sunset, kami tiba di patung Troya (patung kuda, hadiah dari Hollywood untuk Pemko Canakkale). Kisah tentang patung kuda (Troya) ini mengingatkan saya pada film Siege of Troy yang sempat booming pada tahun 2004. Setelah puas menikmati sunset di lokasi patung Troya, kami menuju Hotel Irisotel.

Esoknya, selesai sarapan pagi di Irisotel yang view-nya mengarah tepat ke Selat Dardanel (hanya sekitar 7 meter dari tepi selat), kami lanjutkan perjalanan dalam balutan cuaca dingin mencapai 11°C. Jaket tebal pun jadi teman guna mengusir hawa dingin yang menusuk.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved