Wajah Islam di Kota Mode

HAMPIR dua bulan saya di Polandia. Tak afdal rasanya jika belum melihat-lihat kemegahan arsitektur

Wajah Islam di Kota Mode

OLEH ZULKHAIRI ARAFAH FARABY, alumnus Dayah Modern Darul Ulum, Mahasiswa Administrasi Bisnis Uludag University, melaporkan dari Milan, Italia

HAMPIR dua bulan saya di Polandia. Tak afdal rasanya jika belum melihat-lihat kemegahan arsitektur di seluruh sudut “Benua Biru” ini. Bermodalkan visa nasional tipe D Multiple Entries plus sedikit tabungan dari beasiswa dan tiga sahabat yang mau ikut serta bertualang, ya sudah cukuplah syarat untuk bertualang.

Sebelum bertualang, kami niatkan untuk menunaikan shalat fardu di setiap masjid negara yang kami kunjungi. Lalu kalau bisa kami hearing and sharing dengan imam masjid tentang kehidupan muslim serta aktivitas dakwah di negara tersebut. Apalagi ini merupakan perjalanan pertama kami ke Benua Biru. Tentulah banyak kelucuan dan trial and error yang kami alami dalam perjalanan. Ibarat buku akan ada banyak jilid walaupun pengembaraan kali ini hanya sembilan hari saja.

Tak ada habisnya bercerita tentang keragaman dan keunikan sejarah bangsa Eropa. Satu sama lain saling terintegrasi.

Setelah dari Munich, pemberhentian kami selanjutnya adalah Milan, kota mode. Bagi pemerhati busana, Milan merupakan kota “suci” di mana semua produk ternama dunia bermarkas di kota berpenduduk 1,3 juta ini. Gaya hidup fashionable menjadi tuntutan setelah Georgio Armani, Valentino Garavani, Itallo Zucchelli, Frida Giannini, dan Miuccia Prada menyulap dan menarik kiblat fashion dunia ke Kota Milan. Pusat perbelanjaan seperti pedestrian Via Monte Napoleone, Via Dante, dan The Galleria Vittorio Emanuele II merupakan sarang merek-merek fashion terkenal dunia juga motor penggerak ekonomi Milan.

Standar hidup orang-orang Milan pun lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain di Italia, termasuk Roma. Milan adalah jantung tekstil dunia. Sama halnya dengan gaya hidup hidup orang Munich, standar mereka lebih tinggi dibanding orang Berlin. Jadi, wajar saja Munich merupakan kota industri mobil terbesar di Jerman, tanah kelahiran raksasa automotif dunia, BMW.

Sayangnya, gaya hidup hedon membuat masyarakat lokal jadi angkuh. Muslim yang cenderung tak peduli dengan gaya berpakaian ala Barat dicap kolot dan tidak cocok dengan gaya hidup Milan.

Ketika sedang mencari masjid terdekat dari stasiun kereta, buruh porter asal Bangladesh bersukarela mengantarkan kami menuju masjid. Di jalan kami bertemu dengan Muhammad Sirajul Islam. Ia menyambut kami dengan ramah dan mengajak makan siang. Siraj adalah warga negara Bangladesh, lulusan kedokteran di salah satu universitas di Parma. Faktor lingkungan, banyaknya jumlah imigran, dan keluarga mendorong Siraj meninggalkan dunia kedokteran dan fokus mengelola sekaligus menjadi imam di masjid kecil Kota Milan.

Ada sekitar 15 masjid di Milan. Pada hari Jumat, setiap masjid tumpah ruah jamaahnya. Sayangnya, ketika shalat fardu jamaah hanya tersisa satu atau dua saf saja. Siraj punya jenggot lebat, memakai jubah, dan peci putih sehari-hari. Ia menjawab mantap bahwa tidak takut sama sekali dengan apa yang ia lakukan. Jika itu perintah Allah, maka tak perlu ragu dan tak perlu menghiraukan kicauan orang sekitar.

Meski demikian, diskriminasi demi diskriminasi terus dirasakan sang imam muda ini. Misalnya, saat kepengurusan izin tinggal. Pihak imigrasi sengaja memperlambat proses dan melempar urusan ke petugas lain. Terkadang parpornya ditahan tanpa sebab dan ia, termasuk keluarganya, terus-menerus diawasi polisi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help