SerambiIndonesia/

Cerpen

Suara Siluman

MALAM merangkak perlahan di antara terpaan cahaya rembulan yang dingin dibalut embun

Suara Siluman

Karya Iswandi Usman

 MALAM merangkak perlahan di antara terpaan cahaya rembulan yang dingin dibalut embun, menyisakan kesunyian dan menyiratkan kemuraman nan pilu. Seperti malam-malam yang lain di penghujung tahun, mendung takkan membiarkan purnama diam begitu lama dalam kecerahannya. Langit segera gelap, muram, kehilangan gairah purnama.

Siluman berjalan pelan. Langkahnya terasa berat. Bayangannya samar pada tanah. Ia terus berjalan menyusuri keremangan malam yang hampir saja padam. Tak lama, hujan diam-diam mengguyur bumi dengan pongah, setelah gemuruh petir menggelegar, memecah kebisuan malam Jumat Kliwon yang merajam. Tapi Siluman semakin mempercepat langkahnya. Ia buru-buru. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mengusir air hujan yang bercucuran menimpa wajahnya yang cekung dan tanpa ekspresi. Sekujur tubuhnya menggigil. Gigi-giginya gemeretakan, mengeluarkan gumam yang teramat mendalam, ditingkahi pikirannya yang melayang-layang mengenang malapetaka yang pernah ia saksikan puluhan tahun silam.          Perisiwa tragis yang menimpa seorang gadis di kampungnya terbayang-bayang di ingatannya. Betapa tidak, ia Siluman, ya, ia memang Siluman tapi ia bukanlah Vampire yang suka menghisap darah.

“Suara Siluman itu muncul. Terdengar begitu mengerikan,” ujar salah seorang warga.

“Iya sangat mengerikan,” timpa seorang warga lain.

Kabar burung itu membuat orang-orang kian panik. Mereka semua bersiap-siap dengan peralatan berburu. Mereka ingin memburu Siluman yang konon muncul di perempatan jalan dan melantunkan lagu kelu. Ya, lagu kelu di persimpangan jalan. Tentang apa saja dan siapa saja.

“Kita harus segera meringkusnya. Hidup atau mati.”

“Bagaimana caranya?”

“Kita cari sampai ke Hutan Tak Bertepi. Mungkin Siluman itu bersembunyi di sana. Kita bisa menjebaknya dan kita pasang perangkap!”

Geuchik Matnoh memandang langit. Kemudian ia tersenyum, seolah ia menemukan secercah harapan baru yang merekah pada guratan langit.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help