Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Menabuh Rapa-i di Chiang Rai

DALAM sepekan terakhir saya dipercaya menjadi panitia dalam acara terkait Aceh di Mae Fah Luang University (MFU)

Editor: bakri

OLEH MUHAMMAD KHALID WARDANA, Mahasiswa Aceh di Mae Fah Luang University, melaporkan dari Chiang Rai, Thailand

DALAM sepekan terakhir saya dipercaya menjadi panitia dalam acara terkait Aceh di Mae Fah Luang University (MFU), Chiang Rai, Thailand. Dalam acara ini, kami mahasiswa Aceh di MFU menghadirkan sebuah perspektif baru tentang Aceh di mata masyarakat Chiang Rai.

Hal ini menjadi sebuah pengalaman baru karena dalam pengalaman saya sebelumnya, ada beberapa orang Thailand yang mengira Aceh sudah merdeka. Maka, pada acara ini saya berikan penjelasan mengenai apa itu Aceh dan apa yang berlangsung setelah konflik Aceh berakhir dengan kesepakatan damai antara Pemerintah RI dan GAM.

Tidak hanya menjelaskan tentang Aceh, kami juga menyiapkan agenda pertunjukan budaya asal Aceh untuk dipentaskan di Chiang Rai. Pada kesempatan kali ini, mahasiswa Aceh di MFU bekerja sama dengan sebuah organisasi internasional dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh berhasil mengundang grup seni kasidah (DPW Lasqi Aceh) langsung dari Banda Aceh menuju Chiang Rai. Ini adalah keberhasilan yang mungkin dirasa mustahil bisa terjadi di Thailand, apalagi di ujung Thailand yang langsung berbatasan dengan Myanmar ini.

Grup Lasqi Aceh kali ini membawakan beberapa penampilan seperti tari ranup lampuan, tarek pukat, tari kontemporer, plus pertunjukan hasil kreasi Lasqi Aceh, seperti musikalisasi puisi mengenai tsunami Aceh dan juga seni lainnya.

Pendeknya, pertunjukan di Mae Fah Luang University ini sukses, dihadiri lebih dari 500 pengunjung. Lasqi Aceh membuktikan keunggulan penampilan mereka yang bernapaskan islami dalam setiap gerak seninya.

Selain di MFU, Lasqi Aceh juga mengadakan pertunjukan seni tari di sekolah-sekolah dalam Provinsi Chiang Rai. Di sini pun tidak kalah semaraknya dengan pertunjukan Lasqi di MFU.

Pergelaran seni ini juga menjadi sebuah promosi bagi pariwisata Aceh di mata dunia, khususnya di Thailand, di mana konsep pariwisata halal mulai digalakkan.

Selain itu, pariwisata halal di Aceh juga mulai mendapat perhatian dunia, karena keseriusan pengembangan objek wisata halal oleh Pemerintah Aceh. Hal ini pun kami tonjolkan dalam pertunjukan pada hari kedua, 18 November.

Pada hari itu, saya lebih mengunggulkan konsep wisata Aceh dan objek wisata apa saja yang ada di Tanah Rencong. Pertunjukan seni Aceh kali ini juga menyedot banyak perhatian mahasiswa Indonesia dan asing yang kuliah di Provinsi Chiang Rai.

Selain karena kesempatan langka, seni Indonesia, apalagi dari Aceh, sangat jarang ditampilkan di ujung utara Thailand ini. Tapi kali ini grup seni dari Aceh berhasil menabuh rapa-i di daerah terujung utara Negeri Gajah Putih ini.

Acara yang memesona para hadirin ini diakhiri dengan jamuan makan malam oleh Fakultas Social Innovation dan oleh Kantor Internasional MFU. Para dosen dan staf terlihat sangat tertarik untuk tahu lebih lanjut mengenai Aceh dan mengapa Aceh sangat gencar mempromosikan sektor pariwisatanya. Inilah yang harus kami jawab dengan lugas dan faktual sebagai bentuk kebanggaan kami selaku orang Aceh di perantauan.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved