SerambiIndonesia/

Penodongan di Sebuah Bank Pada Bulan Muda

LELAKI berseragam coklat muda sudah sepuluh menit berada di depan teller Perempuan berhijab lebar dan berbadan tambun semakin

Penodongan di Sebuah Bank Pada Bulan Muda

Karya Ida Fitri

LELAKI berseragam coklat muda sudah sepuluh menit berada di depan teller. Perempuan berhijab lebar dan berbadan tambun semakin terlihat gelisah di samping kiriku. Reporter perempuan membacakan berita penganiayaan yang dilakukan seorang guru terhadap murid. Seorang polisibersenjata lengkap dan seorang satpam terlihat berjaga di pintu masuk.

Perempuan berkaca mata minus dan bertahi lalat di dagu berparas letih i belakang meja teller. Pemandangan pada bulan muda memang selalu seperti itu. Para nasabah mengantre untuk mengambil gaji. Aku melirik angka yang tertera di nomor antrean, masih harus menunggu empat puluh nomor lagi. Punggungku seakan menyatu dengan kursi yang terbuat dari stainless itu. Sebenarnya ini tak perlu terjadi, andai aku tidaklupa pin ATM. Tiga kali memasukkan rangkaian angka yang salah, kartu bewarna silver itu diblokir pihak bank. Jadilah aku berada di sini pada hariini.

Menyaksikan kejadian-kejadian disebuah bank pada awal bulan. Seorang bapak berpakaian Satpol PP mengatakan kepada seorang teman harus segera mengirim uang kuliah putri sulungnya. Perempuan di kursi belakang membicarakan hutang-hutang yang harus dibayar pada perempuan di sampingnya. Seorang lelaki tua terlihat kebingungan setelah masuk ke dalam bank. Satpam kemudian membantu lelaki malang itu. Reporter pada sebuah televisi yang dilekatkan ke dinding dekat meja teller, melaporkan kasus pencucian uang oleh Kanjengdari daerah Jawa Timur.

Suara-suara itu telah membaurmenjadi dengungan-dengungan yang susah untuk diurai kembali, kecuali sebuah bentakan dari arah pintu. Beberapa pria berpakaian hitam dan bertopeng masuk sambil menodongkan senjata laras panjang. Polisi yang tidak siap terhadap ancaman itu sudah menyerahkan senjatanya tanpa perlawanan kepada pihak penerobos.

Satpam pun telah mereka gelandang.Lelaki yang berada di balik meja customer service juga terlihat takberdaya di bawah todongan senjata. Ruangan itu berubah senyap. Para penerobos sudah menguasai bagian belakang bank. Para nasabah yangpenuh sesak itu sudah digelandang ke sudut ruangan dalam posisi jongkok. Tidak lama lagi, gaji-gaji kami akan berpindah ke tangan mereka. Seorang ibu muda yang berada di dekatku, diam-diam melepaskan gelang emas dan memasukkan ke dalam tas. Salah seorang yang menodongkan senjata ke kepala perempuan yang berada di belakang meja teller, memberi satu perintah yang begitu engejutkan.

Saking terkejutnya, aku sampai mendongak kepala melihat sangpenodong. Orang-orang saling berpandangan. Ajaib, bisikku dalam hati.

***

Penyidik polisi itu menatap ke dalambola mata lelaki berjambang yang duduk di balik meja. Ia hendak menelanjangi orang itu sampai ke ulang-tulangnya. Lelaki berjambang terlihat acuh takacuh, kemudian ia lanjutkan lagi mencoret-coret meja dengan telunjuknya. Ia seperti terseret dalam bundaranbundaran yang ia buat. “Katakana apa tujuan kelompokmu menodongkan senjata di dalam bank?”Lelaki berjambang tersenyum mengejek, mulutnya tetap bungkam. Letnan penyidik itu naik darah. Ia belum pernah berhadapan denganjenis penjahat seperti ini sebelumnya.

Biasanya mereka akan menantangnyaatau tunduk di bawah ocehennya, kali ini terasa berbeda. Letnan muda itu memukul meja. “Ini peringatan terakhir. Kamu mau bekerja sama dengan pihak kepolisian atau tidak? Mau mempermudah ini tidak?” “Habiskan dulu kopi Anda, Pak. Saya khawatir jantung Anda akan berhenti sebelum waktunya.” Penjahat di depannya memang terlihat kurang waras, mereka menggunakan senjata pembunuh yang diproduksi sebuah negara besar.

Juga pria di depannya menodongkan senjata ke kepala perempuan di balik meja teller sebelum sepasukan polisi berhasil membekuk mereka. Tidak, sebenarnya mereka yang membiarkan polisi melakukan pekerjaannya. Orangorang itu membiarkan polisi menangkap mereka dengan sangat mudah. Para polisi seperti sengaja dipermainkan kelompok itu. Jangan-jangan mereka adalah sekelompok psikopat yang ingin mempermainkan warga. Kasus ini sudah tidak masuk akal sejak awal. Setiap orang yang datang ke bank pada hari itu mendengar permintaan para penodong ke pada perempuan berkaca mata minus yang berada di balik meja teller.

Letnan polisi berjalan memutari meja, mendekat ke sisi penjahat berjambang. Kesabarannya telah habis, ia menarik kerah baju lelaki itu, “Katakan apa maumu?” Lagi senyum sinis terlukis di parasitu.”Bukankah mereka sudah mengatakan kepadamu? Aku meminta secangkirkopi gayo pada petugas teller itu?” Sang polisi melepaskan kerah baju penjahat berjambang. Dunia memang telah dipenuhi kemustahilan-kemustahilan yang tidak masuk akal.

* Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi PenyuluhKesehatan Masyarakat di Aceh Timur. Cerpen-cerpennya pernah terbit di oran Tempo, Republika dan media lainnya. Buku kumpulan cerita terbarunya Air Mata Shakespeare (2016).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help