Setaman Festival Teater

Revitalisasi sejumlah Taman Budaya Provinsi di lima tahun terakhir, termaktub juga Aceh

Setaman Festival Teater

Karya Fauzan Santa

Revitalisasi sejumlah Taman Budaya Provinsi di lima tahun terakhir, termaktub juga Aceh. Taman Budaya dengan gedung pertunjukan profesional sungguh sebenarnya akan ikut merangsang potensi adaptatif para pelaku teater untuk juga bertahan dengan kreasi terbaik lagi bermutu.

Konsep ruang, tata-cahaya dan komposisi suara yang terukur pasti terus memberi efek psikologis dalam mempertaruhkan kreatifitas teatrikal. Teramat mahal lagi sulit “membangun” sebuah arena pertunjukan permanen di tempat lain, untuk satu festival teater rutin, dalam wilayah dengan presiasi kesenian masih terbatas.

Kesenian semisal penumpanggelap tanpa alamat pulang. Walau pertunjukan (tradisi) mungkin tergelar di lapangan, di taman, jika cuaca bagus, semodel Komedie Stamboel (1891-1903) atau tonil-tonil awal abad 20 yang berkeliling dari Batavia hingga ke Deli dan Langsa. Tak pelak, Taman Budaya masih menjadi rujukan khidmat seni modern.

Pasca revitalisasi inilah sebuah festival teater Aceh kembali. Jauh selepas Komunitas Tikar Pandan pernah memakai Taman Budaya dalam parade teater “Ini Tubuh; Jelajahi Kepedihan” pada Mei 2004. Semacam gerakan alternatif menemukan kembali ihwal pengucapan “teater aceh” di zaman darurat. Lagi-lagi, Taman Budaya pernah membuka diri sebagai laboratorium penciptaan seni teater.

Dan kenyataan itupula yang hadir dalam resentasi 10kelompok teater dari beberapa wilayah Aceh. Festival teater 2016 membuka jalan lurus bagi proses penciptaan teater dengan pendekatan dramaturgi yang eksploratif lagi eklektik. Menggali mendalam bentuk-bentuk yang tak satu, sekaligus meramu dalam keutuhan bentuk baru. Gejala Brechtian dan Artaudian berkelindan dalam konstruksi dramatika Stanilavkyan yang mapan. Penyadaran sepenuhnya atas konsep pertunjukan amat penting agar ekspresi mencapai total. Tanpa itu, eksperimentasi bahkan dramaturgi kehilangan daya kejut.

Festival Teater Aceh 2016 yang berlakusejak 1-4 November 2016 berupaya kuat berdiri di posisi itu dalam siklus festival yang belum periodik, di tengah jejalan festival seni lain. Penubuhan festival teater tahunan oleh pemangku Taman Budaya di negeri inisudah berlangsung jauh sejak 1970-an, terutama di kota-kota dengan tradisi teater dan proses produksi yang stabil semisal Bandung, Jakarta dan Jogjakarta.

Festival teater di Taman udaya sana kemudianmelahirkan sejumlah komunitas teater tonom yang mampu membikin pertunjukan mandiri dan teratur di luar jadwal Taman Budaya. Terakhir yang masih bertahan adalah Festival Teater Jakarta; siklus festival telah merangsang beragam polaucap artistik serta melecut para aktor baru untuk, meski tak semata, industri film. Praktik pemeranan menampakkankualitas yang tumbuh.

Setelah parade teater dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh VI pada 2013 dimana aktor menjadi penghapalnaskah utuh dengan irama deklamasi dan akting ala teater bangsawan, sebagian kelompok dalam festival tahun ini sangat serius mengolah akting. Realisme, semisal batu asah untuk aktor-aktor teater modern. Para aktor begitu dinamik dalam lakon “Benteng Terakhir” dari Teater Muda Berkibar dan tak putus oleh gelombang rama permainan yang terus berubah, masukkeluar, berganti peran dan meruang. Bentuk sepola teater tradisional ini pasti maujud dari sutradara yang fasih menata operet. Jika saja lakon tentang riwayat Radio Rimba Raya ini memastikan tokoh-”dramatic erson” untuk membawa pesan moralsejarah, mungkin eksperimen dengan tata artistik minimal-mobil itu akan menjulang.

Pilihan untuk memakai teknis alienasi milik dramawan Jerman Bertold Brecht dalamskala ringan, terkesan juga pada lakon “Merdeka?!” dari Teater Lhee Sagoe dan “Propaganda Sang Saka” oleh Teater Sukma Bangsa. Kelemahan mendasar para aktordan penyutradaraan menjadi catatan penting dua kelompok muda ini. Sementara lakon “Panggung Dunia” dari Teater Rajut Langsa mampu menghadirkan aktor yang terlatih meskipun beberapa properti lupa disentuh. Penyutradaraan eksotik muncul pada lakon “Cet Langet” olahan Teater Paseeyang mengemas kehendak merdeka dalam pribadi seorang perempuan untuk mampu “mengecat langit”. Suara-suara, jerit, histeria dibalut simbol-simbol perundungankhas perempuan yang ikepung patriakhisme.

Peristiwa teater seperti mengambil nadadasar ‘teater kejam’ milik dramawan surealis Prancis Antonin Artaud yang melihat kebudayaan kontemporer sedang ‘sakit’ dan teaterlah pembebas manusia dari kesadaran palsu dengan aksi “kekerasan artistik”. Kita ingat, betapa”teror mental” dari Teater Mandiri. Pemantapan kembali blokblok pemain, juga pengembangan dialog tiktak plus racau perempuan akan menaikkan elompok Lhokseumawe ini.

Pertunjukan realisme dari Teater Asyifa bertajuk “Fajar Sidiq” dan “Bendera Setengah Tiang” dari Teater Gemasastrin, dengan egala kelemahan, akhirnya mengirimkan pertanda tentang akar kuat mazhab dramawan Rusia Constantine Stanilavky alam jelujur perkembangan teater di Aceh. Kontras-kontras dari lakon “Quo Vadis” oleh kelompok Meusajan@rt, cerita “Ibu Pertiwi” dari teater SMS 4, ditambah suguhan eksperimental kelompok “Green The Theater” mencoba kemungkinan lain untuk dirayakan dalam festival di Taman Budaya kita yang tengah berbenah. Pengertian dan kerja dramaturgi terkini, mengikut kata Peter Eckersall, adalah proses berjejaring, lintasdisiplin, riset proses, koordinasi artistik, “cultural agency” hingga memungkinkan kritik teater ada. Pengertian itu pula akanmemperkuat persekutuan dramaturg kita, persaudaraan komunitas teater se-Aceh.

Dan tersebab festival teater adalah sebuah perayaan, sebuah perjumpaan gagasan di altar kesadaran untuk salingmempertahankan daya hidup, maka khtiar menghela sebuah festival sama kompleksdengan produksi sebuah peristiwa estetik. Ia butuh dasar pemikiran, pemusatan isu, manajemen, dan improvisasi. Tujuan festival, di dunia manapun, selalu menaruh harapan akan rangsangan. Demi pertautan kembali dengan khazanah lain dalam festival masa depan, yang menjulangkan enemuan baru, tanpa jeda.

* Fauzan Santa, pekerja drama, berkumpul di Seuramoe Teater Aceh

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved