Cambuk 100 Kali, Algojo Dua Kali Diganti

Sepasang mahasiswa dan mahasiswi mengaku telah berzina di wilayah hukum Banda Aceh, sehingga dikenakan hukuman

Cambuk 100 Kali, Algojo Dua Kali Diganti
Terpidana pelanggar hukum Syariat Islam menjalani eksekusi hukum cambuk yang berlangsung di Masjid Ar Rahman, kompleks Budha Tzu Chi, Gampong Panteriek, Banda Aceh, Senin (28/11). SERAMBI/BUDI FATRIA 

BANDA ACEH - Sepasang mahasiswa dan mahasiswi mengaku telah berzina di wilayah hukum Banda Aceh, sehingga dikenakan hukuman (uqubat) cambuk masing-masing 100 kali. Mereka adalah Zulfikri (19) dan Rizkan Fadlina (19), keduanya berasal dari Aceh Besar.

Karena total cambukannya sampai 200 kali, sang algojo (eksekutor) tak kuat mendera sendirian. Alhasil, selama prosesi pencambukan itu berlangusng, dua algojo ditugaskan secara bergantian untuk mendera kedua terhukum.

Proses uqubat cambuk tersebut dilaksanakan di halaman Masjid Ar-Rahman, Kompleks Cinta Kasih, Gampong Panteriek, Lueng Bata, Banda Aceh, Senin (28/11). Ramai warga yang menghadirinya. Mereka bahkan sudah berkumpul sejak pukul 10.00 WIB, meskipun prosesi pencambukan baru dilaksanakan pukul 11.00, sesaat setelah lima pelaku zina, khalwat, dan ikhtilath (bermesraan) tiba di lokasi dibawa oleh petugas.

Amatan Serambi, pasangan nonmuhrim, Zulfikri dan Fadlina yang ditangkap warga di Gampong Beurawe, Banda Aceh, sekitar dua bulan lalu, tampak sigap naik panggung dan rela tubuhnya dicambuk secara bergantian oleh dua algojo.

Zulfikri mendapat giliran pertama dicambuk. Kedua tangannya yang ia silangkan ke depan tampak tergenggam erat tiap kali cambuk yang terbuat dari rotan itu mendarat di tubuhnya yang tak terlalu berisi.

Sang algojo yang menjalankan tugasnya diganti setiap 20 kali selesai mencambuk.

Saat pergantian algojo itulah petugas kesehatan selalu menghampiri terdakwa dan memberinya sebotol air mineral. Setelah minum beberapa teguk dan menyerahkannya kembali ke petugas kesehatan, sang algojo pun melanjutkan tugasnya hingga selesai.

Berbeda dengan pasangannya, Rizkan Fadhlina justru menolak saat disodori petugas air mineral. Ia hanya menggeleng lemah. Mulutnya tak berhenti komat-kamit membaca sesuatu dan kepalanya pun terlihat menunduk tiap cambukan mendarat di tubuhnya yang berbalut baju jubah putih.

Hingga cambukan yang ke-100 mendera punggung Zulfikri maupun Fadlina, tidak terdengar suara pekikan ataupun erangan sakit yang keluar dari mulut keduanya. Mereka juga tidak mengangkat kedua tangannya, sebagai tanda meminta algojo menghentikan sesaat cambukan rotan yang menimbulkan rasa perih itu.

Hal itu berbeda saat pasangan khalwat lainnya dikenai hukuman cambuk masing-masing tujuh kali. Mereka adalah Asri (32) asal Suka Makmue, Aceh Besar, dan Sri Wahyuni (34), warga Kuta Alam, Banda Aceh, seorang ibu rumah tangga.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved