Sabtu, 13 Juni 2026

Citizen Reporter

Hebat, Mahasiswi Asing Promosikan Wisata Aceh

INI kisah unik sekaligus menarik. Bahkan bagi Aceh, ini layak disebut kisah langka yang memberi banyak

Tayang:
Editor: bakri

OLEH MOHAMMAD ANDALAS, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, melaporkan dari Taipei, Tiongkok

INI kisah unik sekaligus menarik. Bahkan bagi Aceh, ini layak disebut kisah langka yang memberi banyak keuntungan, terutama bagi sektor pariwisata Aceh.

Kisah ini bermula saat saya hadir di Teipei, ibu kota Tiongkok, dalam rangka program kerja sama antara Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dengan Yang Ming University. Rombongan kami dari Unsyiah dipimpin Rektor Prof Dr Samsul Rizal MEng. Ikut juga Dekan Fakultas Kedokteran Dr dr Maimun Syukri SpPD dan Wakil Dekan II, dr Syafrizal Rahman SpOT.

Menjelang proses kesepakatan kerja sama dimulai, diberi kesempatan kepada delegasi Unsyiah untuk mempresentasikan profil dan progress Unsyiah paling terkini, terutama fakultas kedokterannya.

Setelah itu, giliran pihak Yang Ming University yang presentasi. Secara garis besar, isinya berupa laporan hasil penelitian awal epidemiologi yang mereka lakukan di Aceh.

Penelitian itu sangat menarik, yakni tentang dampak merokok dan upaya preventif yang dilakukan Pemerintah Aceh maupun Pemko Banda Aceh, serta masalah pelayanan disabilitas di Banda Aceh. Penyaji dari pihak Yang Ming University yang mempresentasikan hasil penelitian ini adalah Angela yang bersama timnya melakukan penelitian di Aceh beberapa bulan lalu.

Sisi menarik dari cerita di balik kerja sama Unsyiah dengan Yang Ming University ini adalah saat mahasiswi asing, yakni Angela yang kelahiran Swiss, bercerita bagaimana Aceh yang dia dengar sebelum datang ke Banda Aceh dengan Banda Aceh yang dia rasakan setelah berminggu-minggu tinggal di ibu kota Provinsi Aceh itu. Mahasiswi dengan bakground pendidikan keperawatan ini tinggal di Lampriek, kala itu.

Presentasinya, sungguh membuat kami kagum sekaligus bangga sebagai orang Aceh. Disampaikan di depan puluhan civitas akademika Yang Ming University dan kami dari Aceh, inilah cuplikan presentasi Angela cs. Awalnya, ia bercerita tentang indahnya alam Aceh yang masih original, mulai dari Pantai Lhoknga, view pantai dari atas pegunungan Geurutee, permainya Aceh Jaya hingga hijau dan sejuknya Takengon, ibu kota Aceh Tengah.

Ia juga berkisah dengan Pulau Weh, Sabang yang sangat eksotik, maupun situs-situs tsunami yang menakjubkan. Angela juga bercerita tentang bagaimana Masjid Raya Banda Aceh yang megah tersebut saat tsunami sebagai tempat ribuan orang menyelamatkan diri.

Tak lupa ia tampilkan dalam slide powerpoint-nya tentang “Aceh Thanks to The World”. Monumen ini berada di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Berisi tugu-tugu berbentuk kepala perahu yang di dalamnya dipahatkan nama negara dan bendera dari negara-negara yang memberi donasi kepada Aceh untuk cepat bangkit dari bencana gempa dan tsunami 2004. Prasasti yang dibangun pada pengujung masa kerja BRR NAD-Nias itu berisi ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa kepada negara-negara yang telah memberi sumbangsih bagi rekonstruksi Aceh akibat tsunami.

Menurut Angela, ucapan terima kasih yang ditulis dalam bahasa masing-masing negara maupun bendera dari negara bersangkutan yang dipahatkan pada batu tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga asing yang datang ke Banda Aceh. Kebanggaan itu pula yang merasuki sanubari Angela, sehingga mahasiswi asal Swiss itu dengan penuh percaya diri menampilkan foto dirinya di depan batu bergambar bendera negaranya, Swiss.

Hemat saya, promosi wisata seperti ini sangatlah ampuh membuat citra pariwisata Aceh melambung tinggi, karena yang mempromosikannya justru warga negara asing, tanpa kita minta dan tanpa kita ongkosi.

Peristiwa ini menginspirasi saya untuk bersaran bahwa sudah saatnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, memanfaatkan para mahasiswa asing di Aceh apakah dia mahasiswa dalam program pertukaran pelajar antaruniversitas, maupun mahasiswa tingkat magister yang melakukan riset bersama antaruniversitas, diberikan materi ekstrakurikuler oleh pihak terkait tentang potensi wisata Aceh.

Terus terang, promosi wisata model seperti ini sangat ampuh dalam memberi kesan positif bagi banyak orang luar yang mungkin masih agak khawatir datang ke Aceh sebagai daerah bekas konflik. Orang luar juga perlu diluruskan persepsinya yang telanjur menduga bahwa pemberlakuan syariat Islam di Aceh itu mempersempit ruang gerak mereka jika datang berkunjung.

Nah sekarang, saya nukilkan testimoni Angela terkait pemberlakuan syariat Islam di Aceh: Sebagai mahasiswi nonmuslim ternyata saya hidup nyaman selama berada di Aceh. Masyarakat Aceh itu sangat ramah, respek pada tamu, dan saya diperlakukan layaknya saudara di kampus. Ini sungguh hal luar biasa. Malah, karena tinggal di Lampriek, sehingga saya pun suka ‘bakso kampung’ dan sudah tentu tak lupa pada kelezatan mi aceh. Nah!

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved