Mengevakuasi Bayi di Tengah Banjir

BANJIR ini merupakan yang kedua kalinya terjadi pada bulan November tergolong banjir paling besar

Mengevakuasi Bayi di Tengah Banjir
Dede Rosadi Wartawan Serambi Indonesia di Aceh Singkil, mengevakuasi anaknya yang masih usia dua pekan ke lokasi aman banjir, Selasa (29/11) 

Wartawan Serambi di Aceh Singkil, Dede Rosadi, juga menjadi salah satu korban banjir, Selasa kemarin. Ia terpaksa mengungsi ke tempat yang aman bersama istri dan bayinya yang baru berumur dua minggu. Sungguh tidak mudah mengungsi dengan bayi yang masih merah dan istri yang belum melewati masa nifas. Apalagi Dede harus tetap menjalankan tugas jurnalistiknya, mengabarkan kepada publik derita puluhan ribu warga Aceh Singkil yang terkurung banjir dan bergelap-gelap di malam hari karena listrik padam total. Berikut penuturannya:

BANJIR ini merupakan yang kedua kalinya terjadi pada bulan November. Tergolong banjir paling besar dalam sepuluh tahun terakhir. Tidak biasanya rumah saya di Gosong Telaga Barat, Singkil Utara, kebanjiran. Tapi kali ini tidak luput dari genangan banjir. Ribuan penduduk yang rumahnya tak pernah kebanjiran pun kali ini digenangi air bah.

Air masuk ke dalam rumah saya sekitar pukul 04.00 WIB. Menjelang siang, air makin tinggi. Warga yang tak biasa menghadapi banjir kiriman terlihat panik, lantaran tak punya persiapan. Alhasil, seluruh perabotan yang ada di dalam rumah basah.

Lantaran air kian naik, menjelang tengah hari saya putuskan untuk mengungsi sambil menggendong bayi kami yang baru berumur dua minggu. Istri saya membawa pakaian kami dan si bayi sekadarnya saja. Tak lupa kami bawa lilin dan mancis, termasuk popok dan obat-obatan bayi. Bagaimanapun, perhatian terhadap si buah hati kami ini harus dinomorsatukan. Dia masih sangat lemah dan dini untuk memahami derita akibat banjir yang rutin terjadi setidaknya empat kali dalam setahun di Bumi Syekh Abdurrauf As-Singkily ini.

Derita korban banjir di Singkil kali ini semakin ‘sempurna’ sebab listrik sudah dua hari dua malam padam. Warga pun tak bisa memasak dan mandi, karena semua kebutuhan itu sangat tergantung pada pasokan energi listrik.

Sekadar mengganjal agar perut tidak keroncongan, kami pun melahap mi instan mentah serta biskuit kering. Bantuan dari Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Singkil terus disalurkan. Dapur umum pun sudah didirikan di sejumlah titik, tapi tidak semua warga bisa menjangkaunya karena arus banjir cukup deras. Lagi pula, transportasi darat lumpuh, terlebih setelah ruas jalan di Ketapang Indah putus total, Selasa siang.

Perahu karet regu penolong pun amat terbatas. Sedangkan yang meminta bantuan dan ingin dievakuasi dari lokasi bencana sangat banyak.

Saat malam tiba para korban banjir, khususnya yang ada di Kecamatan Singkil maupun Desa Ketapang Indah dan Gosong Telaga Barat, harus bersiap-siap kembali hidup dalam gelap gulita. Pihak PLN sudah menurunkan dua mobil crane agar perbaikan jaringan listrik lekas selesai. Tapi tidak bisa dipastikan tuntas hingga malam besok lantaran

sepuluh tiang yang roboh dua hari lalu berada di lokasi banjir yang tinggi airnya lebih satu meter. Jalan yang putus pun belum datang jembatan darurat jenis bailey sebagai penggantinya. Entah kapan derita kami di Bumi Sada Kata ini akan berakhir... Dan, bayi saya masih terlalu muda untuk merasakan semua cobaan ini. (*)

Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help