Citizen Reporter

Wajah Asli Negeri Hindustan

SAAT ini India sedang terguncang akibat krisis parah uang tunai terkait keputusan pemerintah menarik

Wajah Asli Negeri Hindustan

OLEH CUT ANGGI DWI GEUBRINA, Mahasiswi Magister Jurusan English Language Teaching, Faculty of Art, Aligarh Muslim University, melaporkan dari India

SAAT ini India sedang terguncang akibat krisis parah uang tunai terkait keputusan pemerintah menarik pecahan uang bernilai tinggi dari sistem keuangan negara. Pemerintah menyatakan, tindakan itu sebagai serangan gerak cepat terhadap peredaran black money yang merupakan hasil kejahatan korupsi dan kejahatan lainnya.

Pada 9 November 2016 pukul 22.00 waktu India, pemerintah memutuskan untuk menarik uang kertas pecahan 500 dan 1.000 rupee dari peredaran. Lalu, jutaan orang bergegas menukarkan uang lama mereka. Uang pecahan 500 dan 1.000 rupee adalah pecahan yang paling banyak digunakan, lebih dari 80% transaksi di India.

Perdana Menteri Narendra Modi berkata, keputusan ini diperlukan untuk menindak keras korupsi dan black money. Ini berarti, pecahan yang sudah tertutup unsur-unsur antinasional dan antisosialnya akan menjadi sepotong kertas tak berharga. Tapi Perdana Menteri menjelaskan masyarakat yang punya pecahan uang lama masih punya waktu sampai akhir tahun ini untuk menukarnya di bank dan kantor pos. Cuma, ada pembatasan jumlah uang yang bisa ditukar dan ditarik.

Tapi pada kenyataannya, kelangkaan uang tunai telah mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Hampir dua pekan sudah terjadi antrean panjang di luar bank, gerai ATM, dan kantor pos di seluruh negeri.

Ini keadaan yang serbasulit. Orang punya uang, tapi tak bisa digunakan karena masih berupa pecahan uang lama atau belum ia tukar dengan pecahan uang baru karena harus antre lama untuk mendapatkannya. Saya dan teman-teman Indonesia yang sedang studi di sini tentu ikut merasakan kesulitan ini, tapi saat inilah saya melihat wajah asli India.

Hari pertama berlakunya keputusan ini, saya masih memiliki beberapa pecahan uang 500 dan 1.000 rupee. Saya coba membelanjakannya di pasar. Mungkin peraturan baru ini belum berjalan pikir saya. Saya pergi ke penjual ikan langganan saya. Seperti biasa, setelah mengucap salam, si bapak menjawab salam sambil tersenyum senang melihat kedatangan saya. Setelah ikan yang saya pilih selesai dipotong dan dibersihkan, saya keluarkan uang 500 rupee hendak membayar. Si bapak spontan mengatakan uang tersebut tak laku lagi. Lantas dia pun menunjukkan sebuah artikel di surat kabar kepada saya. Melihat saya yang hanya bisa menatap uang tersebut, si bapak mengerti dan berkata: ambil saja ikannya, nanti kalau sudah punya uang baru bayar.

Saya ucapkan terima kasih dan mengambil ikan serta meninggalkan si bapak dengan hati gundah. Uang bernilai tinggi ini tak bisa digunakan lagi. Saya pun mencoba lagi membeli 1 kg apel. Setelah apel ditimbang, saya pun hendak membayar dan hal yang sama terjadi lagi. Saya dengan wajah lesu hendak meninggalkan si abang penjual apel. Tiba-tiba dia letakkan kantong plastik berisi apel di keranjang sepeda saya. “Ambillah, tak usah bayar,” katanya. Saya benar-benar tak enak hati. Saya katakan bahwa saya akan bayar setelah saya menukar uang. Dia tersenyum sambil mengatakan, “Koi baat nahi/tak masalah.”

Hari itu saya kembali ke rumah dengan perasaan sedih karena kebijakan itu ternyata telah berjalan dan teringat akan kebaikan orang-orang yang saya temui karena saya tahu kehidupan mereka pun sulit.

Hari-hari pun berlanjut. Ratusan orang mengantre untuk mendapatkan pecahan uang baru, yaitu 2.000 dan 500 rupee. Seorang teman sekelas saya pun mengkhawatirkan keadaan saya karena saya punya anak. Dia pinjamkan saya uang dan mengulangi dialog yang sama, kembalikan ketika sudah punya uang. Saya pun menanyakan, “Bagaimana dengan kamu?” Sungguh jawaban dari teman saya ini benar-benar membuat saya terharu. Dia menjawab, “Tak usah khawatir, Allah bersama saya.”

Ia juga menambahkan, “Saya masih memiliki sedikit uang dan ini cukup buat saya, tetapi kamu tentu membutuhkan lebih karena kamu memiliki anak. Saat begini kita harus saling tolong-menolong. Kita adalah muslim, sesama muslim adalah saudara. Sekalipun kita bukan muslim, kita tetap tolong-menolong sebagai sesama manusia.”

Saya hanya bisa tertegun dengan mata berkaca-kaca dan mengucapkan terima kasih.

Ada satu kejadian yang membuat saya tertegun lama. Malam hari pukul 22.00 saya coba antre di ATM bersama anak landlord (bapak kos) saya karena malam hari antrean tak terlalu panjang. Ada sekitar 100 orang yang antrean dan semuanya pria. Melihat kami yang segan mendekat, mereka mengatakan kalau kami boleh duluan mengambil uang karena tak baik bagi wanita malam hari masih di luar dan mengantre bersama lelaki. Anak landlord saya pun mencoba menanyakan hal itu kepada security dan dia mengizinkan.

Para pengantre memberi jalan kepada kami agar kami tidak berdesak-desakan di antara mereka dan kami pun diizinkan mengambil uang lebih dulu. Setelah selesai, kami pun mengucapkan terima kasih dan mereka kembali memberikan kami jalan. Subhanallah apa yang saya alami ini. Di tengah kesulitan ini saya melihat wajah asli negeri Hindustan, negara tempat saya sedang menimba ilmu. Semoga kita, terutama di Aceh, bisa mengambil hikmah dari pengalaman saya di Tanah Gandhi ini.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help